Biarkan Mereka Berenang Bebas | OPINI.id

Dianggap sebagai mamalia cerdas, atraksi lumba-lumba dan paus orca selalu berhasil menarik perhatian. Kedua aksi makhluk cetacean itu punya sejarah panjang, hingga akhirnya sampai saat ini kita beranggapan bahwa adalah hal wajar untuk melihat atraksi mereka di taman wisata atau sirkus keliling. Tidak hanya lumba-lumba dan paus pembunuh, beberapa jenis paus seperti hiu paus dan paus beluga juga menjadi objek tempat wisata.

quote-mark

“It is a dolphin’s birthright to swim in a straight line in the Ocean, as far as its heart desires.” –Richard O’Barry

Terbiasa Hidup di Lautan Luas

Pada dasarnya lumba-lumba dan segala jenis paus dapat berenang hingga 100 mil setiap harinya. Selain itu, lumba-lumba dan paus (khususnya paus pembunuh) hidup dalam kelompok sosial yang erat. Setiap kelompok menciptakan cara komunikasi mereka sendiri sehingga bisa membedakan mana yang kelompok mereka atau bukan. Hal ini juga digunakan untuk bertahan dari serangan predator. Kehidupan di tangki kolam yang sempit, dapat membunuh sifat alami mereka. Jika di alam bebas mereka terbiasa hidup secara berkelompok, mencari mangsa dan bertahan dari predator dengan kemampuan sendiri, akan berubah 180 derajat ketika hidup di kolam. Mereka lantas akan ditempatkan dengan lumba-lumba, paus atau bahkan spesies yang bukan berasal dari kelompok yang sama. Sehingga potensi untuk terjadi konflik akan semakin besar. Belum lagi mereka harus melakukan atraksi seperti yang diinstruksikan pelatih, yang jelas-jelas bukan perilaku yang alami.

Laut, Bukannya Kolam

Lumba-lumba dan paus terbiasa berenang sejauh 100 mil dan dapat menyelam sampai kedalaman kurang lebih 300 kaki, sampai akhirnya kembali ke permukaan untuk bernapas. Fakta ini menunjukkan bahwa lumba-lumba dan paus hampir tidak pernah diam dan selalu bergerak. Lalu, bisakah kita bayangkan apa yang terjadi jika mamalia tersebut ditaruh di kolam yang ukurannya terbatas? Para aktivis lingkungan mengibaratkan bahwa lumba-lumba dan paus yang hidup di kolam sama halnya dengan manusia yang dikurung dalam sebuah bathtub. Dalam seminar bertajuk ‘Whales Without Walls’ yang diselenggarakan oleh TEDxTalks di Santa Barbara, seorang peneliti sekaligus aktivis lingkungan bernama Charles Vinick mengatakan bahwa di kolam yang sempit, paus tidak bisa berkomunikasi dengan baik, karena suara yang dihasilkan terpancar kembali ke arah paus tersebut. Hal yang sama juga terjadi dengan lumba-lumba yang tidak bisa menggunakan sonarnya karena pantulannya bisa langsung berbalik ke mereka.

Punya Intelegensi Tingkat Tinggi

Dalam sebuah penelitian, Lori Marino-neuroscientist dan petinggi di The Kimmela Center for Animal Advocacy-menemukan bahwa terdapat satu bagian di otak lumba-lumba dan paus yang dapat mengelola emosi. Bagian perpanjangan di otak mereka pun tidak dapat ditemukan di makhluk hidup manapun termasuk manusia. Fakta ini juga menunjukkan bahwa lumba-lumba dan paus punya kesadaran diri dan rasa ikatan sosial yang lebih kuat dan kompleks dibanding mamalia lainnya, sehingga setiap kelompok dapat mengenali anggotanya. Hal inilah yang juga digunakan dalam bertahan hidup seperti untuk menjaga satu sama lain dari serangan predator, serta bekerja sama untuk menangkap mangsa. Berbeda nasib, lumba-lumba dan paus yang hidup di kolam terbiasa mendapat asupan makanan dari manusia, bukan dari hasil tangkapan sendiri. Hal ini jelas-jelas melumpuhkan intelegensi alaminya dalam mencari mangsa dan bertahan hidup, dan membuat mereka harus beradaptasi kembali jika ingin kembali habitat asalnya.

Pulang ke Rumah

Upaya untuk mengembalikan lumba-lumba dan paus ke habitat aslinya untungnya sudah mulai digalakkan. Film dokumenter ‘Black Fish’ dianggap membuka mata khalayak luas dan menjadi awal pemantik gerakan yang lebih besar untuk menghentikan pertunjukan lumba-lumba dan paus pembunuh, serta mengembalikan seluruh lumba-lumba, pesut, dan seluruh jenis paus yang selama ini kolam, kembali ke habitat aslinya. Beberapa suaka mulai dibangun untuk menampung lumba-lumba dan semua jenis paus dari penangkaran. Suaka ini diperuntukkan agar kelompok hewan cetacea ini dapat kembali ke habitat aslunya dengan keadaan siap tanpa harus bergantung pada manusia. Usaha untuk tidak lagi menggunakan lumba-lumba dan paus sebagai objek wisata juga dilakukan melalui perangkat undang-undang. Benua Eropa misalnya, Inggris dan sebelas negara benua biru lainnya menjadi pelopor untuk menghentikan praktik penangkaran lumba-lumba dan paus.

Mesti Belajar Lagi

Terlalu lama berada di penangkaran membuat lumba-lumba dan paus bergantung pada manusia untuk sekadar mendapatkan makanan. Jauh dari habitat aslinya juga membuat mereka sulit bertahan dari serangan predator atau bahkan spesies sejenisnya, karena mereka dianggap bukan lagi anggota kelompok. Richard O’Barry menjelaskan bahwa untuk dapat dikembalikan ke laut lepas, lumba-lumba setidaknya harus memenuhi syarat, seperti sehat secara fisik dan emosional, mampu menggunakan sonar, mampu mencari mangsa ikan segar dan dapat bertahan dari serangan predator.

Membutuhkan Waktu yang Tidak Sebentar

Jangan harap proses mengembalikan lumba-lumba dan paus ini bakal semudah menangkap mereka dan memasukkannya ke dalam tangki kolam. karena sepanjang karirnya, Richard O’ Barry baru mampu melepas 20-an lumba-lumba dalam kurun empat puluh tahun. Hal sama juga dialami oleh Chalers Vinick ketika berupaya mengembalikan Keiko (paus pembunuh jantan) ke lautan lepas. Keiko butuh ‘dilatih’ kembali untuk dapat sepenuhnya mandiri dan terbiasa hidup di alamnya. Selama di suaka Charles Vinick mencoba mengajari Keiko dengan cara membawanya berenang mengikuti kapal boat sejauh 100 mil, hal ini dilakukan untuk mengingatkan kembali bahwa paus pembunuh sepertinya memang sewajarnya bergerak bebas. Charles juga mengajari Keiko untuk terbiasa memakan ikan yang masih hidup, dan belajar memangsa buruh yang terbang rendah di permukaan laut. Sama seperti Richard O’Barry, Charles juga membutuhkan waktu setidaknya 4 tahun untuk ‘mengajari’ Keiko.

Bukanlah Hal yang Wajar

Kita mungkin berpikir bahwa adalah hal wajar melihat lumba-lumba dan paus di tangki kolam di taman wisata. Penulis pun juga dulu sempat berpikir demikian. Namun, fakta bahwa mereka punya hak layaknya manusia yang bisa hidup bebas tanpa kekangan, cukup menjadi alasan bagi kita untuk berhenti menganggap lumba-lumba dan paus sebagai hiburan adalah hal yang wajar. Gerakan untuk menghentikan praktik penangkaran sudah menggeliat di seluruh belahan dunia. Kita juga dapat berkontribusi, meski dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Yaitu dengan tidak lagi mengunjungi tempat wisata yang menawarkan atraksi lumba-lumba dan paus.

quote-mark

No aquarium, no tank in a marine land, however spacious it may be, can begin to duplicate the conditions of the sea. – Jacques Yves Ca

Sumber rujukan :

- https://us.whales.org/faqs/captivity#n8111 - https://www.dolphinproject.com/resources/about-dolphins/releasing-captive-dolphins/protocol-for-releasing-captive-dolphins/ - http://www.bbc.com/earth/story/20160310-why-killer-whales-should-not-be-kept-in-captivity - http://www.earthisland.org/journal/index.php/articles/entry/france_bans_dolphin_captivity_seaworld_invests_in_it/ - https://tirto.id/lumba-lumba-pertunjukan-disayang-tapi-bernasib-malang-cGPo - Film Dokumenter ‘Blackfish’

Komentar

Fresh