Uang Braille, Usulan Yang Menggelikan | OPINI.id

Jika pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres 2019 nanti, mereka janji akan menyediakan uang ramah tunanetra atau mata uang braille. Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) capres cawapres Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo, mengusulkan hal ini karena terinspirasi dari tunanetra yang menjadi tukang pijat. Hal ini mengundang tanggapan dari kubu Capres dan Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Usulan Yang Menggelikan

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga menanggapi santai usulan pembuatan mata uang braille tersebut. Usulan Hasyim itu terbilang menggelikan dan tidak memunculkan ide baru. Pasalnya, pemerintah Jokowi sudah mengeluarkan mata uang yang bisa dikenali oleh kaum disabilitas (khususnya kaum tunanetra) sejak tahun 2016 lalu. Menurutnya, kubu Prabowo-Sandi tidak paham soal mata uang yang selama ini telah beredar di masyarakat.

Tanda Braille dari Bank Indonesia

Bank Indonesia sudah memberikan tanda braille pada uang rupiah yang beredar di masyarakat. Melalui tanda itu, penyandang tunanetra bisa membedakan pecahan uang yang mereka terima. Para penyandang tuna netra bisa mengenali secara langsung besaran uang tersebut dengan meraba bagian pinggir masing-masing rupiah kertas. Berdasarkan wujudnya untuk rupiah kertas pecahan Rp 100.000 jika diraba terdapat satu garis timbul. Sementara untuk uang kertas pecahan Rp 50.000, ada 2 garis timbul. Sedangkan untuk uang kertas pecahan Rp 20.000, terdapat 3 garis timbul. Uang kertas pecahan Rp 10.000, ada 4 garis timbul, uang kertas pecahan Rp 5.000, ada 5 garis timbul, uang kertas pecahan Rp 2.000, ada 6 garis timbul, dan uang kertas pecahan Rp 1.000, ada 7 garis timbul.

Menurut kamu masih pentingkah janji-janji dihadirkan dalam sebuah kampanye sekelas Pilpres?
Perlu
Antara perlu dan ga perlu
Ga Perlu
146 votes

Komentar

Fresh