Mengenal Agama (Kepercayaan) Asli Nusantara | OPINI.id

Agama (kini disebut kepercayaan) Asli Nusantara adalah agama lokal atau agama tradisional yang telah ada dan dianut masyarakat kita, sebelum masuknya agama Hindu, Buddha, Kristen Protestan, Katolik, Islam dan Konghucu ke Nusantara (Indonesia). Inilah beberapa agama asli Nusantara yang sekaligus jadi kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Animisme dan Dinamisme

Animisme dan dinamisme merupakan agama yang sudah ada sejak zaman manusia purba, dan memiliki akar budaya yang sangat kuat di Nusantara. Menurut E.B Taylor, animisme berasal dari bahasa Latin Anima yang berarti percaya kepada mahluk-mahluk halus atau roh yang mula-mula tumbuh di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini mempunyai jiwa yang harus di hormati. Sedangkan dinamisme berasal dari bahasa Yunani Dunamos yang berarti kekuatan atau daya. Kepercayaan dinamisme adalah meyakini bahwa semua benda-benda yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan gaib. Benda-benda tersebut dipercaya dapat memberi pengaruh baik dan pengaruh buruk bagi manusia.

Malim (Parmalim)

Agama ini merupakan sebuah kepercayaan terhadap "Tuhan Yang Maha Esa" yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Utara. "Tuhan Debata Mulajadi Nabolon" adalah pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh "Umat Ugamo Malim". Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut suku bangsa Batak sebelum agama Kristen, Katolik dan Islam masuk ke Nusantara. Para pengikut agama/kepercayaan ini disebut Parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim. Saat ini, Parmalim yang tersisa di Tana Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugamo Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa. Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII.

Pemena

Ada simpul sejarah panjang antara sebagian warga Batak Karo dan suku bangsa Tamil di India Selatan, yangdahulu kala menganut agama Senata Dharma. Semua itu diketahui dari sebuah inskripsi pada batu bertulis di Lobu Tua, dekat Barus (pantai barat Sumatera Utara), yang ditemukan G.J.J. Deuts pada 1879. Dalam prasasti itu disebutkan pada tahun 1080, ada pemukiman orang Tamil di Lobu Tua. Kemudian, orang Tamil ini mendirikan Kerajaan Haru Lingga Timur Raja. Dari pembauran dengan masyarakat asli di sana, lahirlah marga dan beberapa sub-marga. Komunitas ini tetap menjaga tradisi atau kepercayaannya yang disebut Pemena yang berarti Agama Pertama. Ritual kepercayaan Pemena tak beda jauh dengan ajaran Senata Dharma. Diantaranya adalah upacara menghanyutkan abu jenazah, yang di India dilakukan di Sungai Gangga, juga dilakukan di lau (sungai) Biang, Karo. Sedangkan abu jenazah yang tak sempat dihanyutkan, setelah dibakar, abunya disimpan di batu berbentuk rumah mini yang disebut partulanen. Tradisi lainnya adalah pemotongan gigi dan menghitamkan gigi dan mandi air limau (erpangir kulau). Bahkan kebiasaan wanita Tamil yang membuat titik merah di kening juga dilakukan wanita Karo pemeluk kepercayaan Pemena.

Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan adalah agama yang mempercayai akan adanya kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Namun ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme purba, bahwa di atas para dewata dan hyang dalam strukturnya terdapat juga dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud, disebut Sang Hyang Kersa atau Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran kepercayaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Penganut kepercayaan ini dapat ditemukan di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; dan Cigugur, Kuningan. Dalam perkembangannya, beberapa tradisi dari Sunda Wiwitan juga terpengaruh unsur Hindu dan Islam.

Djawa Sunda

Agama Djawa Sunda (ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kec Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama atau kepercayaan ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Agama atau kepercayaan ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda. Ajaran agama Djawa Sunda dikembangkan oleh Pangeran Madrais (Kiai Madrais), yang merupakan keturunan dari Kesultanan Gebang di wilayah Cirebon Timur. Madrais mengajarkan penghormatan terhadap dewi padi atau Dewi Sri (Sanghyang Sri) melalui upacara atau ritual dalam proses penanaman hingga padi dipanen. Selain itu, ia juga menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860. Perayaan ini masih dilakukan hingga saat ini sebagai ungkapan terima kasih pada Tuhan akan hasil panen yang melimpah.

Kejawen

Kejawen adalah sebuah ajaran yang sudah ada sejak lama dikalangan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebelum ajaran monotheisme (Hindu, Buddha, Kristen, Islam) masuk ke Nusantara. Ajaran ini menekankan pada tata krama yang menjadi dasar hubungan antar manusia. Kejawen juga hidup dan berdampingan dengan agama yang dianut oleh pengikutnya. Hingga muncul sebutan Islam Kejawen, Kristen Kejawen, hingga Hindu Kejawen. Kepercayaan kejawen memiliki beberapa misi dalam ajarannya. Misi ini tidak memberatkan para penganutnya namun sejatinya bisa dilakukan selaras dengan kehidupan sehari-harinya. Misi ajaran kejawen adalah: menyatukan Tuhan dengan hambaNYA yang tertanam di dalam diri setiap individu. Setelah penyatuan ini, manusia akan mencari rahmat bagi dirinya sendiri, artinya manusia tidak akan membuat dirinya menjadi hancur karena kelakuannya yang buruk. Selanjutnya adalah menjadi rahmat bagi keluarga. Setiap individu tidak boleh membuat keluarga harus menanggung aib yang individu lakukan. Misi keempat adalah menjadi rahmat bagi sesama manusia dan alam semesta. Artinya penganut kejawen harus berbuat baik kepada orang lain dan seluruh ciptaanNYA di muka bumi ini.

Hindu Jawa

Agama Hindu muncul pada tahun 600 SM di India, merupakan kelanjutan dari kepercayaan Weda Kuno, yaitu Brahmanisme, yang muncul 2000 SM di India. Agama ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 130 M. Agama Hindu Jawa merupakan suatu bentuk tradisi Hindu yang berkembang di Jawa. Salah satu kelompok masyarakat yang memeluk Hindu Jawa adalah warga yang tinggal di dataran tinggi Tengger, Bromo, Jawa Timur. Sedangkan, khusus untuk di Jawa Tengah masa kebangkitan Hindu Jawa berawal dari Baluwarti Keraton Surakarta Hadiningrat. Tak hanya itu, masyarakat di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah juga masih menganut Hindu Jawa. Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Biro Statistik Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa kembali menganut kepercayaan Hindu Jawa. Hindu Jawa memiliki identitas maupun ritual tersendiri yang sedikit berbeda dengan ritual ajaran Hindu Bali maupun ritual dalam ajaran Hindu di India.

Saminisme

Ajaran ini disebarkan oleh Samin Surosentiko (1859-1914). Saminisme adalah sebuah konsep penolakan terhadap budaya kolonial Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa penjajahan Belanda abad ke-19 di Nusantara. Saminisme pertamakali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Tahun 1890 pergerakan Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Lalu ajaran ini menyebar mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan. 'Kitab suci' Saminisme adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku. Konsep ajaran masyarakat Samin adalah Keseimbangan, Harmonisasi, Kesetaraan dan Keadilan. Empat unsur ini adalah prinsip dan falsafah hidup yang tetap diyakini sampai saat ini oleh masyarakat Samin. Pokok ajaran Samin adalah: 1. Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. 2. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati dan jangan suka mengambil milik orang lain. 3. Bersikap sabar dan jangan sombong. 4. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu dibawa abadi selamanya. 5. Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan ada unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang. Saminisme juga merupakan resistensi pionir terhadap kebijakan yang membelenggu kegiatan penghidupan sehari-hari petani desa di sekitar hutan. Dari slogannya "Wong Sikep, mengerti apa yang menjadi miliknya" dapat dipahami bahwa pendekatan kesejahteraan dan pengkajian terhadap kearifan lokal serta proses mediasi dalam pengelolaan sumber daya hutan sangat diperlukan sejak dulu hingga saat ini.

Marapu

Marapu adalah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Marapu dalam ajarannya menerapkan sistem keyakinan dengan memuja arwah-arwah leluhur atau arwah nenek moyang. Dalam bahasa Sumba, arwah-arwah leluhur itu disebut Marapu, yang memiliki arti "yang dipertuan" atau "yang dimuliakan". Maka itulah agama atau kepercayaan yang mereka anut juga disebut Marapu. Menurut penganut Marapu, manusia tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan namun harus melalui perantara para leluhur. Bukan pemujaan, tetapi permohonan kepada Tuhan melalui leluhur. Inti dari kepercayaan ini adalah terjaganya keseimbangan tata kehidupan alam semesta, dengan adanya keseimbangan alam, maka dipercaya mendatangkan keselamatan, dan keselamatan sendiri akan mendatangkan kebahagiaan. Pemeluk Marapu juga percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yaitu di surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu.

Kaharingan

Kaharingan adalah kepercayaan atau agama leluhur orang Dayak. Kepercayaan ini dianut oleh masyarakat Dayak Meratus (Kalimantan Selatan), Dayak Tunjung, Benuaq (Kalimantan Timur), Dayak Ngaju (Kalimantan Tengah), Dayak Luangan Ma’anyan, Tumon, dan Siang. Kaharingan juga dianut oleh Dayak Uud Danum (Ot Danum) di Embalau dan Serawai (Kalimantan Barat). Kaharingan berasal dari bahasa Sangiang (Dayak kuno), Haring berarti hidup. Kaharingan dapat juga diartikan sebagai kehidupan yang abadi dari Ranying Mahatalla Langit. Ranying, adalah nama yang mengacu pada Zat Tunggal Yang Mutlak atau Tuhan. Kepercayaan ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas keseharian masyarakat Dayak pada masa lalu, baik dalam upaya merambah hutan, berladang, berburu, dan kehidupan sosial mereka lainnya. Kaharingan sering dilambangkan dengan Batang Haring atau Batang Garing yang berarti Pohon Kehidupan. Pohon Kehidupan ini memiliki makna filosofis keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya.

Aluk Todolo

Aluk Todolo atau Alukta adalah aturan tata hidup yang telah dimiliki sejak dahulu oleh masyarakat Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan, dan sistem kepercayaan. Dalam hal keyakinan, penduduk Suku Toraja percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Puang Matua (Tuhan yang maha mulia). Mereka meyakini, aturan yang dibuat leluhurnya akan memberikan rasa aman, mendamaikan, menyejahterakan, serta memberi kemakmuran warga. Walau terbuka bagi agama luar maupun modernisasi, tapi warga sepakat, bagi warga yang tidak lagi menganut Aluk Todolo wajib keluar dari Dusun Kanan. Tentu saja mereka tetap boleh berkunjung ke sana, tapi tak dapat tinggal lama. Dalam ajaran Aluk Todolo disebutkan bahwa agama ini duturunkan oleh Puang Matua (Sang Pencipta) kepada nenek moyang manusia yang pertama bernama Datu’ La Ukku’ yang dinamakan Sukaran Aluk, sukaran berarti susunan/aturan, Aluk berarti agama. Aturan ini mengandung ketentuan-ketentuan bahwa manusia dan segala isi bumi ini harus menyembah, memuja, dan memuliakan Puang Matua (Sang Pencipta)

To Lotang

Kepercayaan atau agama To Lotang dianut oleh komunitas masyarakat Towani Tolotang yang berada di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan. To Lotang atau To Wani merupakan istilah yang pertama kali diucapkan oleh La Patiroi, Addatuang Sidenreng VII, untuk menyebut pendatang yang berasal dari arah Selatan, yaitu Wajo. Arti To Lotang adalah To dalam bahasa Bugis berarti orang, dan kata Lotang dalam bahasa Bugis Sidrap, dengan ucapan Lautang, berarti Selatan atau dari arah Lautan). Komunitas ini tetap menegaskan identitasnya sebagai orang Bugis, hanya saja mereka menganut aliran kepercayaan menyembah sesuatu yang tak nampak, yang disebut Dewata Sewae. Sementara titik sentral kepemimpinannya dikendalikan oleh Uwa’dan Uwatta dengan pola pewarisan estafet dari generasi ke generasi yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan sebagai sesuatu yang sakral.

Naurus

Dahulu agama atau kepercayaan Naurus jadi pegangan orang-orang di Pulau Seram, Maluku. Naurus adalah kombinasi dari ajaran agama Hindu dan animisme, tapi seiring berkembangnya zaman, mereka juga telah mengadopsi beberapa prinsip ajaran Kristen Protestan. Kepercayaan ini dianut oleh Suku Manusela atau Suku Wahai yang berpusat di pegunungan Manusela Utara Seram, Maluku dan di sepanjang Teluk Teluti di selatan Seram. Selain suku Manusela, ada juga Suku Nuaulu yang tinggal di 10 desa di barat laut Manusela yang menganut kepercayaan ini. Suku Nuaulu juga melakukan ritual-ritual kepercayaan Naurus, namun ritualnya tidak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip ajaran Protestan.

Wor

Wor merupakan tradisi ritual masyarakat Biak Doreri, Papua. Mereka percaya akan adanya penguasa (Manggundi) yang melebihi kekuatan atau kekuasaaan manusia biasa yang menurut mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi (surga) yang berada di Mandep (langit). Wor merupakan suatu perwujudan dari kehidupan religius yang sangat penting. Pasalnya Wor mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas orang Biak sekaligus juga merupakan simbol hubungan mereka dengan Penguasa (Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka yang telah meninggal (arwah-arwah nenek moyang). Tradisi ini merupakan hal penting bagi masyarakat Biak Doreri karena dianggap sebagai sarana menyempurnakan hidup dan meningkatkan status sosial. Melaksanakannya berarti menjauhkan kekuatan jahat, memikat jiwa-jiwa nenek-moyang dan menyucikan peserta dari noda-noda kesalahan. Mereka juga memiliki tokoh mitologi yang disebut Manarmakeri. Falsafah orang-orang Biak: "Nggo Wor Baindo Na Nggo Mar" yang artinya tanpa upacara atau pesta/ritual adat kami akan mati.

Kepercayaan Asmat

Masyarakat Asmat di Papua mempercayai bahwa mereka berasal dari Fumeripits (Sang Pencipta). Dalam kepercayaan Asmat ada tiga konsep dunia yang menjadi tolak ukur mereka yaitu: Amat ow capinmi (alam sekarang), Dampu Ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal) dan Safar (surga). Masyarakat Asmat juga percaya tentang alam yang banyak didiami oleh roh-roh yang mereka sebut setan. Setan ini dibagi menjadi dua golongan yaitu setan yang membahayakan hidup dan setan yang tidak membahayakan hidup mereka.

Komentar (5)

Fresh