Sekolah Tinggi Demi Konservasi Lingkungan | OPINI.id

Indonesia memang memiliki alam yang luas dan indah. Sayangnya, masih banyak lingkungan yang tidak dijaga dengan baik sehingga alam Indonesia mulai banyak yang hilang. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Hal inilah yang mendorong Farwiza Farhan, aktivis lingkungan asal Aceh, untuk berjuang mempertahankan hutan, khususnya di kawasan ekosistem Leuser di Aceh.

Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh

Bersama tim HaKA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh), Wiza, begitu panggilannya, memperjuangkan perlindungan dan restorasi lanskap di provinsi Aceh. Salah satunya adalah Kawasan Ekosistem Leuser sebagai Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi lindung di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh. Apalagi, kawasan ini merupakan ekosistem terakhir di dunia yang dihuni oleh empat megafauna, yaitu gajah, badak, orang utan, dan harimau.

Perjuangan penuh tantangan

Tentu, perjuangan ini menjadi tantangan terberat. Apalagi, fungsi dari Kawasan Ekosistem Leuser yang sangat penting buat masyarakat Aceh justru dihapuskan dari Qanun atau Perencanaan Tata Ruang Perda Aceh, yang disahkan tahun 2013. Padahal, Kawasan Ekosistem Leuser ini statusnya adalah Kawasan Strategis Nasional dengan Fungsi Lindung. Di tahun 2014, muncul dua petisi untuk meminta pemerintah Aceh merevisi Qanun Tata Ruang. Bahkan aktor Leonardo DiCaprio pun ikut menandatangani petisi tersebut. Meski sudah dilakukan kampanye dan dialog dengan pemerintah, sayangnya tidak ada titik temu yang jelas.

Sekolah tinggi demi misinya

Lahir pada 1 Mei 1986, Wiza tumbuh besar di luar tanah kelahirannya. Ia pun menjalani sekolah menengah atas di lingkungan Mandania Boarding School, Bogor. Kemudian, melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana mengambil jurusan Biologi Kelautan di University Sains Malaysia. Langkah pendidikan Wiza pun terus berlanjut sampai ke University of Queensland, Australia, mengambil jurusan Manajemen Lingkungan. Ia pun mendapatkan PhD Candidate di Fakultas Budaya dan Studi Pembangunan di Radboud University Nijmegen. Pilihan Wiza untuk menjadi aktivitas lingkungan bukan sebuah kebetulan. Sejak duduk di SMU, Wiza memang sudah jatuh cinta pada dunia bawah laut di Pulau Weh, Sabang. Setelah cukup lama meninggalkan tanah air, ia sempat kembali untuk berlibur. Banyaknya perubahan yang terjadi di tanah air mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Saat itulah ia bertemu dengan tim Badan Pengelola Kawasan ekosistem dan ditawari untuk bergabung dengan tim riset. Inilah yang menjadi titik awal perjuangannya untuk KEL. “Jika ingin bekerja melindungi KEL, saya harus tahu pasti apa yang dilindungi. Saya jatuh cinta pada Kawasan Ekosistem Leuser. Saya mencintai tempat yang ingin saya lindungi. Pada akhirnya, kita melakukan sesuatu memang karena cinta,” ujarnya.

Berbagai Penghargaan Diraihnya

Perjuangan yang tiada henti dan keteguhannya untuk menyelamatkan lingkungan, membuat Wiza semakin dikenal banyak orang. Ia pun diundang berbicara di Gedung Royal Geographical Society, London. Di tempat itu pula, ia mendapatkan penghargaan Whitley Awards alias Green Oscar untuk kategori Konservasi Habitat Orang Utan dari Whitley Fund of Nature (WFN) pada 2016. Dari penghargaan itu, HaKA mendapatkan dana 35 ribu poundsterling atau Rp520 juta untuk membiayai konservasi lingkungan Leusuer. Penghargaan ini diikuti oleh 130 kadidat dari seluruh dunia yang aktif bergerak di bidang lingkungan. Wiza terpilih karena konsistensinya berkontribusi ‘hijau’ melalui organisasinya dan aksinya mewujudkan Gerakan Aceh Menggugat (GERAM), yang meminta Menteri Dalam Negeri membatalkan Qanun rencana tata ruang wilayah Aceh pada Januari lalu. Selain penghargaan tersebut, Wiza juga mendapatkan Future for Nature Award tepat pada bulan Maret 2017. Dukungan tidak berhenti sampai disitu, ia juga pernah mendapat kunjungan dari aktor Hollywood, Leonardo Dicaprio. Kunjungan tersebut menjadi bonus buat tim HaKA karena Leo pun ikut membantu menyuarakan misi Wiza. Leo meminjamkan popularitasnya untuk isu-isu penting, seperti perubahan iklim dan tulus ingin menyelamatkan lingkungan. “Isu penyelamatan lingkungan harus menjadi sesuatu yang mainstream, karena tiap orang berutang pada planet ini. Tanpa planet yang sehat, kita tidak bisa bertahan,” ujar Wiza seperti yang dikutipnya dari ucapan Leo. Penulis: Irene Wibowo

Komentar

Fresh