Dorong Industri Kerajinan Lewat Dunia Digital | OPINI.id

Sejak duduk di bangku sekolah, Benny Fajarai memang sudah akrab dengan dunia digital. Kecintaan Benny dengan dunia tersebut bermula saat ia suka bermain game. Sampai-sampai dirinya sempat menjadi penjaga warung internet. Dunia digital telah melekat kuat pada dirinya, ia pun memilih jurusan IT saat menempuh pendidikan di universitas. Tidak hanya itu, selepas dari kuliah ia Benny tetap berkecimpung di bisnis digital yang membawanya menjadi pemuda yang mendunia.

Pekerja Keras Sejak Kecil

Pemuda asal Pontianak ini sudah giat bekerja sedari kecil. Bermula saat ia duduk di bangku sekolah menegah pertama, ketika keadaan keuangan keluarga Benny masih sederhana. Saat itu Benny bekerja sebagai penjaga warnet di dekat rumahnya untuk menambah uang jajan. Ini juga yang menjadi titik saat Benny menemukan kecintaannya dengan dunia digital.

Memulai usaha di usia muda

Keadaan keuangan keluarga yang kurang baik saat Benny kuliah dijadikannya sebagai motivasi untuk menjadi seorang pengusaha. Kuliah di bidang Teknologi Informasi membuka peluang Benny memulai bisnis. Bersama kawan-kawan kampus, ia membentuk usaha kecil, Cactus Project, yang sudah sering menangani klien dari perusahan-perusahan ternama di Indonesia.

Mendirikan Kreavi.com

Lulus dari bangku kuliah, Benny merintis perusahaan pertama miliknya bernama, Kreavi.com. Kreavi adalah situs jejaring sosial yang menjadi wadah seluruh desainer grafis dan pekerja kreatif visual di Indonesia. Sebanyak 30 ribu desainer dirangkul oleh Benny di dalam Kreavi untuk menunjukkan karya-karya mereka.

Merintis bisnis baru untuk mendorong kerajinan lokal

Setelah dua tahun Kreavi.com berhasil merebut perhatian masyarakat, Benny memutuskan untuk menyerahkan Kreavi kepada kawan-kawannya. Lepas dari Kreavi, ia membentuk bisnis digital baru bernama Qlapa.com. Tak jauh berbeda dengan Kreavi, Qlapa merupakan situs jejaring yang menjadi wadah bagi pengrajin lokal untuk memasarkan karya mereka. Terinpirasi dari mahalnya harga kerajinan lokal yang dijual di pasaran, padahal kenyataannya jika dibeli langsung dari pengrajin tidaklah semahal yang ada di pasaran. Ia menilai bisnis digital mempunyai masa depan yang baik di Indonesia. Ada dua hal yang membuat ia yakin akan masa depan bisnis digital, yaitu, “Pertama, potensi industrinya sangat besar. Kedua, saya rasa banyak sekali dampak yang bisa diciptakan melalui teknologi, tanpa ada batasan jarak dan waktu,” ujar Benny kepada Kinibisa.

Bisnis digital membuatnya terkenal

Perusahaan Qlapa yang didirakan Benny di tahun 2015 berhasil membawa Benny menjadi salah satu pengusaha tersukes di Indonesia. Keberhasilan Qlapa membuat ia masuk ke dalam daftar ’30 Under 30 Asia’ yang dirilis oleh majalah Forbes. Dalam daftar tersebut ia bersanding dengan 30 pengusaha dan pemimpin muda di Asia yang berprestasi. Di balik keberhasilan Qlapa, tentunya ada banyak rintangan yang harus dilalui. Menurut Benny, tantangan terberatnya adalah tidak semua pengrajin sudah paham dengan teknologi dan jarak dengan para pengrajin yang tinggal di daerah-daerah yang jauh. *** Walau sudah sukses, Benny tetap bertekad untuk dapat meningkatkan eksistensi kerajinan lokal Indonesia agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Penulis: Nur Amalina

Komentar

Fresh