Selamatkan Lingkungan Melalui Bank Sampah | OPINI.id

Febriarti Khairunnisa membina ibu-ibu rumah tangga untuk mengelola sampah anorganik diikuti oleh lebih dari 50 sekolah dan 10 ribu anak di Lombok. Pendekatan ekonomi dari hasil pengolahan sampah membuat dia mudah mendekati ibu-ibu yang berpenghasilan rendah.

Usahanya untuk selamatkan lingkungan

Bila membicarakan lingkungan hidup, tentu erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sayangnya, saat ini kepedulian terhadap lingkungan hidup masih sangat memprihatinkan. Salah satu masalah yang paling dekat dengan kita adalah pengelolaan sampah. Inilah yang membuat Febriarti Khairunnisa gerah dengan lingkungan yang banyak sampah. Di usianya yang masih muda, Febriarti Khairunnisa, bersama dengan suaminya, Syawaluddin tergerak untuk membangun bank sampah di Lombok. Melalui UD Bintang Sejahtera, dia mendaur ulang sampah anorganik untuk dijual kembali ke perusahaan yang membutuhkan.

Menggandeng Masyarakat Sekitar untuk Terlibat

Namun, usaha Febriarti Khairunnisa untuk mendaur ulang sampah ini tidak bisa dilakukannya sendirian. Ia pun mengajak masyarakat sekitar untuk ikut dalam kegiatan ini. Febri membina lebih dari 30 ribu ibu rumah tangga di komunitas miskin, serta melibatkan anak-anak sekolah di luar jam pelajaran, untuk mengumpulkan, memproses, dan menjual sampah anorganik. “Seperti di Bali, Lombok juga punya pantai yang indah. Namun, tidak sedikit yang kondisinya kotor karena sampah,” ujarnya. Di Lombok, tepatnya di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, ia mendirikan bank sampah yang bernama Bintang Sejahtera NTB.

Dari sampah menjadi sebuah bisnis sosial

Ada sekitar 25 unit bank sampah yang tersebar di seluruh Lombok Tengah, Mataram, dan Lombok Barat. Unit-unit tersebut terdiri dari komunitas, seperti sekolah-sekolah, serta organisasi lingkungan, seperti RT/RW di daerah Lombok. Febriarti juga memiliki pegawai dengan tenaga sortir untuk memilah sampah, yang berpenghasilan Rp600 ribu sampai Rp1 juta per bulan. Setiap hari, Febriarti, melalui bantuan masyarakat yang mengumpulkan sampah ke unit bank sampah, mampu mengumpulkan sampah organik sampai 25 ton per hari. Sementara sampah yang diambil dari beberapa hotel dan daerah pariwisata di Gili Trawangan, mencapai 600 kg per hari. Ada sekitar 20 jenis sampah yang dibeli dan diolah UD Bintang Sejahtera, mulai dari sampah kertas HVS yang dihargai seribu rupiah, dan termahal sampah alumunium 7 ribu per unit. Sampah tersebut diolah kembali dengan mesin penghancur sampah dan dijual ke perusahaan yang membutuhkan. Industri yang menyerap sampah olahan ini berasal dari Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Jawa Timur. Setelah yakin ada pasar yang bisa menerima olahan sampah daur ulang, Ferbiarti dan suaminya mulai membangun sebuah sistem yang bisa membantu masyarakat. Sistem tersebut berbentuk insentif berubah pinjaman buat masyarakat, mulai dari Rp100 ribu sampai Rp500 ribu. Masyarakat cukup membayar pinjaman tersebut dengan sampah. Sayangnya, banyak masyarakat yang mulai nakal sehingga Febri mencari lagi sistem yang lain. Ia pun memutuskan untuk mengubah sistem pinjaman menjadi sistem tabungan. Tidak ada lagi yang boleh meminjam, tetapi ia mengajak masyarakat untuk menabung di bank sampahnya, atau cash and carry, mereka bisa langsung mendapatkan bayaran dari sampah yang disetorkan. Dari bank sampah ini, Febriarti berhasil mendapatkan untung sampai Rp1 miliar per tahun atau sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta per bulan. Setengah dari keuntungan bank sampah ini, ia gunakan untuk biaya pendidikan sebanyak 2 ribu murid di berbagai tingkat sekolah di Lombok. Harapan Febriarti sederhana, ia hanya ingin aktivitas yang dilakukannya bisa menggerakkan roda ekonomi lokal dan masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan.

Rela Melepas Karier

Awal mula fokus Febriarti karena terinspirasi dari suami, yang berasal dari latar belakang dengan penuh keterbatasan. Orang tua Syawaludin, suami Febriarti, hidup dari mengumpulkan sampah untuk bisa menyekolahkan anaknya. Inilah yang mendorong Syawaludin untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan. Dengan kerja keras, suami Febriarti berhasil duduk di bangku kuliah, tepatnya di Universitas Mataram dengan mengambil jurusan ekonomi. Belajar dari kegigihan suaminya, Febriarti pun mulai tertarik pada dunia pengolahan sampah. Meski sempat bekerja dengan gaji cukup besar, di sebuah lembaga asing, Jerman Internasional Coorperation (GIZ,Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), tepatnya di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), provinsi NTB, ia merasa terdorong untuk memulai ide pengelolaan sampah tersebut. Sedangkan Syawaludin, suami Febriarti pernah bekerja sebagai staf ahli di DPRD Provinsi NTB.

Meraih berbagai penghargaan

Tepatnya bulan Juni 2010, Febriarti dan Syawaludin, tidak lagi menunda-nunda dan mulai mengumpulkan apa yang mereka punya. Tentunya, dukungan tidak banyak, bahkan ia dan suaminya sempat dianggap ‘gila’ karena meninggalkan pekerjaan yang baik, serta dianggap hanya sebagai pemulung. Setelah 4 tahun berjalan, Febriarti berhasil membuat banyak orang yang paham. Jika kita bisa mengelola sampah dengan baik, maka bisa memberikan kehidupan yang baik juga. Bahkan, melalui usaha bank sampah yang dikelolanya, Febriarti berhasil keluar jadi pemenang dalam kompetisi Sankalp Indonesia Awards yang diselenggarakan wadah multi-stakeholder global lewat Sankalp Forum. Organisasi ini mendukung para wirausaha sosial, termasuk di Indonesia, untuk terus berkembang. Selain itu, Febriarti juga sempat mendapatkan penghargaan Indonesia Woman of Change 2015 dari kedutaan AS. Ia pun berharap bisa mengembangkan bank sampah ke seluruh pelosok Indonesia. Penulis: Irene Wibowo

Komentar

Fresh