Tantangan dalam Rekrutmen Auditor Internal di | OPINI.id

Proses pengawasan dalam suatu lembaga keuangan sangat diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja suatu lembaga keuangan tersebut sudah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan standar yang berlaku secara umum atau belum. Proses ini disebut dengan proses audit, yaitu suatu proses pemeriksaan yang didasarkan pada ketentuan standar yang berlaku. Dimana proses audit ini dilakukan oleh seorang auditor yang memainkan peran penting dalam kredibilitas informasi keuangan suatu perusahaan.

Tantangan dalam Rekrutmen Auditor Internal di Malaysia

Proses pengawasan dalam suatu lembaga keuangan sangat diperlukan untuk mengetahui apakah kinerja suatu lembaga keuangan tersebut sudah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan standar yang berlaku secara umum atau belum. Proses ini disebut dengan proses audit, yaitu suatu proses pemeriksaan yang didasarkan pada ketentuan standar yang berlaku. Dimana proses audit ini dilakukan oleh seorang auditor yang memainkan peran penting dalam kredibilitas informasi keuangan suatu perusahaan. Sedangkan dalam lembaga keuangan Islam (IFIs), proses pemeriksaan dilakukan oleh seorang auditor. Namun auditor yang dimaksud adalah auditor syariah. Dimana proses pengawasannya berdasarkan konsep Islam. Lembaga keuangan Islam (IFIs) tersebar diseluruh negara yang didirikan oleh masyarakat muslim. Meliputi Lembaga keuangan bank, perusahaan asuransi, reksadana atau obligasi syariah. Lembaga-lembaga keuangan tersebut diatur oleh bank sentral, pejabat yang berwenang di pasar modal dan pihak regulator lainnya. berdasarkan dengan Shariah Governance Framework (SGF), yang diperkenalkan oleh BNM pada tahun 2010, audit syariah didefinisikan dalam paragraph 7.7, sebagai berikut: “penilaian berkala yang dilakukan dari waktu ke waktu, untuk memberikan penilaian dan assurance yang objektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan memperbaiki kadar kepatuhan dari operasi bisnis LKS, dengan tujuan utamanya menjamin Sistem Internal control yang efektif untuk kepatuhan Syariah.” (BNM; p.23). Walaupun Auditing Syariah ini penting, masih sedikit pemahaman bagaimana untuk melatih dan menjaga auditor syariah yang qualified yang dapat melakukan kinerja dengan efektif dan efisien. Satu pedoman yang terkenal adalam dari SGFdi negara tersebut (Malaysia), bahwa audit syariah akan dilakukan oleh Auditor Internal dari LKS yang mempunyai pengetahuan syariah dan pelatihan yang cukup. Maksudnya adalah SGF menyarankan bahwa kompetensi yang harus dimiliki auditor syariah adalah seperti auditor internal, namun ditambah dengan pelatihan tentang syariah. Akan tetapi saat ini masih sangat minim sekali pelatihan – pelatihan terkait audit syariah yang diadakan lembaga – lembaga pelatihan, yang menyebabkan kompetensi seorang auditor syariah masih sangat sedikit yang memiliki kompetensi yang diharapkan dan sesuai dengan standar yang berlaku di Malaysia. Kompetensi dapat diklasifikasikan sebagai dimensi perilaku yang terkait dengan kinerja pekerjaan yang unggul di mana orang-orang tertentu melakukan lebih baik daripada yang lain. Selain itu, kompetensi juga terkait dengan keterampilan teknis (technical skill), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) untuk melakukan pekerjaan terutama pekerjaan profesional. Selain itu, kompetensi dapat umum atau organisasi tertentu.Kompetensi organisasi tertentu mengacu pada kompetensi yang berkaitan dengan peran manajerial tertentu; daftar kompetensi universal untuk manajemen puncak sebaik kompetensi supra (seperti perencanaan dan pengorganisasian). Sementara studi di Australia dan AS terkonsentrasi pada aspek manusia dari kompetensi, yang jauh kemudian dikaji oleh Drejer (2001) yang melihat kompetensi dalam empat (4) aspek yang berbeda yaitu kompetensi dalam bentuk teknologi yaitu mengacu pada alat fisik; manusia sebagai titik fokus untuk pengembangan kompetensi dan menggunakan alat-alat; organisasi sebagai mana sistem manajemen yang ditentukan di mana individu beroperasi dan budaya organisasi informal perusahaan. Oleh karena itu, berdasarkan berbagai definisi, kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan atau ekspektasi seseorang untuk melakukan tugas tertentu dalam suatu organisasi dengan baik sebagaimana kemampuan bagian organisasi tertentu melalui alat atau sistem mereka, melakukan fungsi tertentu untuk memastikan operasi organisasi berjalan secara terus-menerus (continue). Kaitannya dengan kompetensi syariah auditor, tentu ada kompetensi audit syariah yang spesifik yang perlu dikuasai oleh auditor untuk memastikan kinerja maksimum yang dapat disampaikan kepada para pemangku kepentingan bank Kompetensi untuk Audit Profesional menyatakan bahwa auditor perlu memiliki pendidikan formal Audit (pengetahuan / knowledge) (IES 2), keterampilan profesional (IES 3) dan mampu menerapkan nilai-nilai profesional, etika dan sikap terhadap situasi dan organisasi (IES 4) yang berbeda. Berdasarkan pedoman ini, disarankan agar kompetensi merupakan kombinasi dari atribut yang relevan seperti pengetahuan, keterampilan dan sikap (IFAC 2014). Ketiga unsur ini merupakan dasar untuk mengukur kompetensi umum auditor. Pendekatan holistik untuk kompetensi sumber daya manusia sebagai dasar keterampilan yang yang mebedakan antara industri jasa keuangan syariah dan konvensional dilakukan oleh Natt, Al-Habshi dan Zainal (2009). Temuan mereka mengungkap adanya standar yang berbeda dalam hal program pelatihan; efektivitas program pelatihan yang diukur dengan Indikator Kinerja Kunci Individu Karyawan baru dari lembaga yang berbeda memerlukan batasan yang berbeda dari keterampilan umum atau khusus atau kompetensi dan Prusahaan mempunyai preferensi yang berbeda ketika merekrut staf baru mulai dari disiplin khusus seperti perbankan dan keuangan sampai disiplin yang lebih luas seperti ekonomi atau sumber daya manusia. Selain itu, ada tantangan untuk lulusan akuntansi masa depan untuk memahami penerapan standar yang berbeda di dunia akuntansi Islam sebagaimana standar yang berbeda telah diadopsi secara berbeda oleh negara-negara Muslim yang berbeda. Misalnya, studi oleh El Razik (2009) menunjukkan bahwa budaya dan lingkungan bisnis memberi pengaruh pada pilihan standar akuntansi di negara-negara Muslim. Oleh karena itu, dalam rangka untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang perbankan syariah, kita harapkan lulusan dari Malaysia juga memahami Standar Akuntansi Internasional serta standar yang diadopsi oleh negara-negara Muslim lain jika mereka ingin bekerja di negara lain selain Malaysia. Untuk memenuhi peningkatan permintaan ini untuk tenaga kerja, institusi pendidikan tinggi dan IFI didesak untuk memulai program dan pelatihan baru bagi bank syariah. Studi kasus longitudinal empiris yang lain disajikan oleh Hussain dan Parker (nd) pada isu pemilihan dan pelatihan penasihat syariah di Pakistan LKI menemukan bahwa tidak banyak (terbatas) penasihat syariah yang kompeten yang boleh melayani beberapa IFI, bertentangan dengan peraturan perbankan pemerintah, sehingga menciptakan konflik kepentingan. Peran ganda auditor syariah eksternal dan internal yang dilakukan oleh penasihat syariah juga meningkat telah menyebabkan potensi konflik kepentingan di IB. Kasim dan Mohd Sanusi (2013) meneliti perspektif praktisi yang terlibat dalam proses audit syariah dari LKS di Malaysia pada isu kualifikasi auditor. Temuan mengungkapkan bahwa hanya 5,9% dari responden yang memenuhi syarat keduanya (kualifikasi syariah dan akuntansi atau audit) (kebanyakan auditor internal dan divisi manajemen syariah) dibandingkan dengan 69%, yang mengaku melakukan audit syariah di LKS di Malaysia. Penelitian lain baru-baru ini yang didukung temuan dilakukan oleh Mahzan dan Yahya (2014) menggunakan survei yang melibatkan 158 auditor internal di IFI yang menawarkan produk IB. Meskipun sebagian besar responden (39%) memiliki 10-20 tahun pengalaman perbankan umum, hanya 6% dari mereka memiliki pengalaman kerja 10-20 tahun di perbankan dan keuangan Islam. Hal ini juga mengkhawatirkan sebagai catatan bahwa penelitian juga mengungkapkan bahwa mayoritas responden yaitu 76% dari auditor internal yang melakukan audit syariah tidak memiliki kualifikasi Perbankan Syariah dan Keuangan Syariah. Situasi ini jelas menunjukkan bagaimana pengembangan sumber daya manusia dalam hal memiliki auditor internal yang lebih kompeten dengan pengetahuan syariah adalah pada tahap kritis. Temuan dari studi baru-baru ini konsisten dengan penelitian sebelumnya bahwa masalah tidak cukup auditor syariah yang kompeten masih belum terselesaikan dan dapat mempengaruhi citra reputasi LKS kepada para pemangku kepentingan Muslim serta pengguna jasa keuangan lainnya. Oleh karena itu, auditor internal yang melekat pada LKI tidak hanya harus memiliki keterampilan audit tetapi juga kualifikasi tambahan yaitu pengetahuan syariah khususnya Fiqh Muamalat untuk memastikan pemeriksaan syariah yang luas telah dilakukan dan secara keseluruhan operasi LKS adalah syariah compliant. Yang seharusnya juga di dukung oleh perguruan – perguruan tinggi malasyia dengan menyiapkan sarjana akuntansi yang berkompeten. Yang sangat disayangkan adalah, saat ini, hanya satu universitas lokal di Malaysia menjadikan Audit syariah sebagai bagian dari kurikulum akuntansi yaitu Universitas Sains Islam Malaysia (USIM). USIM juga memberikan Fiqh Muamalat sebagaimana Audit syariah untuk mahasiswa akuntansi mereka. Dilihat dari apa yang ada dalam kasus-kasus diatas tantangan terbesar seorang auditor syariah adalah memiliki kompentensi yang mumpuni baik dari segi audit secara konvensional dan pemahaman terkait syariah, karna kebutuhan akan seorang auditor syariah yang dapat memahami keduanya masih sangat minim padahal kebutuhan akan auditor syariah yang berkompeten sangat dibutuhkan di malaysia. Dan harapannya universitas universitas yang ada di Malaysia dapat membuat kurikulum khusus terkait auditor syariah mengingat saat ini hanya ada satu universitas yang ada, yang harapannya apabila seluruh universitas yang ada di malaysia memiliki kurikulum khusus terkait auditor syariah maka kedepannya sarjana-sarjana lulusan universitas tersebut bisa menjadi auditor syariah yang berkompeten dibidangnya dan memberikan kontribusi untuk perkembangan auditor syariah. Oleh : Faiz Dinul Haq Zulkifli, Mahasiswa Semester VII Jurusan Akuntansi Syariah, STEI SEBI Depok

Komentar

Fresh