Carline Darjanto Bentangkan Sayap Cotton Ink | OPINI.id

Bagi Anda para pecinta fashion, tentu sudah tak asing lagi dengan nama Carline Darjanto. Yup, dia adalah founder sekaligus CEO dan creative director dari brand fashion lokal ready to wear ternama, Cotton Ink. Tumbuh di keluarga yang menyukai desain, membuat Carline memiliki ketertarikan yang kuat akan dunia fashion design. Sempat dilanda keraguan, Carline pernah memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan bisnis.

Meniti bisnis bersama sahabat

Ketertarikannya pada fashion mendorong Carline untuk berpindah haluan hingga kemudian memutuskan untuk mengejar mimpinya dengan berkecimpung di dunia fashion yang menjadi passion-nya selama ini. Carline mengambil jurusan desain fashion di LaSalle College of Fashion serta sukses membuktikan tekad dan bakatnya dengan menjadi lulusan terbaik di tahun 2008 silam. Menjadi CEO dan creative director Cotton Ink diakui Carline merupakan profesi impian yang selama ini ia dambakan. Meniti bisnis bersama sahabat Usai lulus dari bangku kuliah, Carline memulai kariernya dengan bekerja di sebuah perusahaan garment manufacturer. Ia kemudian berpikir untuk mencari uang tambahan sambil mencari pekerjaan impiannya. Bersama sahabat SMP, Ria Sarwono—selaku co-founder sekaligus marketing director yang juga pernah menjalani kursus singkat di LaSalle College of Fashion, Carline memutuskan untuk mendirikan Cotton Ink pada tahun 2008 silam. Minimnya ketersediaan dan kesulitan untuk mendapatkan fashion item lokal yang ready to wear saat itu, mendorong keinginan dua sahabat ini untuk menghadirkan Cotton Ink di tengah masyarakat. Meski awalnya hanya dijadikan side job, tingginya permintaan pelanggan, membuat Carline memberanikan diri untuk fokus pada bisnisnya sebagai pekerjaan utamanya. Cotton Ink pun hadir dengan beragam terobosannya yang memegang teguh konsep ‘ready to wear with a twist’.

Berawal dari jualan syal dan printed tees

Awalnya Carline dan Ria hanya menjual syal dan printed tees di Facebook dan memasarkannya lewat media sosial yang saat itu masih berkembang. Dominasi bahan katun yang diperoleh dari dalam negeri serta konsep simpel dengan sentuhan kreativitas, membuat syal dan printed tees tersebut laris di pasaran. Atas permintaan konsumen yang tinggi, Cottonink kemudian berkembang menjadi web store di tahun 2011 dan memiliki offline store untuk pertama kalinya pada Maret 2015 di Kemang. Produk yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari blouse, celana, rok, outer, hingga kini sepatu, tas, dan aksesori. Sepuluh tahun hadir untuk perempuan Indonesia, kini Cotton Ink telah memiliki tiga offline store eksklusif yang tersebar di tiga mal ternama di Jakarta. Produknya kini juga bisa dijumpai dengan mudah di media sosial, e-commerce, dan gerai-gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

Meraih sejumlah penghargaan

Dalam 10 tahun perjalanannya, Cotton Ink telah berhasil menyabet sejumlah penghargaan, seperti Most Innovative Local Brand di CLEO Fashion Awards 2010, Most Favorite Brand di Brightspot Market, Best Local Brand oleh Free Magazine tahun 2010 dan 2012. Atas kesuksesan tersebut pula, nama Carline sendiri masuk dalam daftar 30 Under 30 kategori Retail & E-Commerce versi majalah Forbes Asia pada tahun 2016 lalu. Penulis: Giza Rusdynia

Komentar

Fresh