Pelopor Bahan Bangunan Ramah Lingkungan | OPINI.id

Co-Founder dan CEO Mycotech. Idenya adalah membuat produk bahan bagunan berbahan limbah organik dan jamur. Ternyata mereka berhasil membuat prototype material bagunan, kuat, memiliki bobot ringan, tahan api dan tentu ramah lingkungan. Produk ini bisa disesuaikan dengan panel dan genteng elegan untuk perabotan, cabinetry dan interior lainnya.

Co-Founder dan CEO Mycotech

Adi Reza Nugroho membuat produk bahan bagunan berbahan limbah organik dan jamur. Ternyata mereka berhasil membuat prototype material bagunan, kuat, memiliki bobot ringan, tahan api dan tentu ramah lingkungan. Produk ini bisa disesuaikan dengan panel dan genteng elegan untuk perabotan, cabinetry dan interior lainnya. Tak berhenti sampai di sana, Mycotech ini akhirnya diseriusi menjadi bisnis jangka panjang. Menurut Adi, sejak September tahun 2015, di bahwa payung PT Miko Batera Nusantara, Mycotech menjadi start-up yang berfokus pada pengembangan desain interior dengan menciptakan bahan desain ramah lingkungan dari jamur. Adi yakin Mycotech bisa diterima di pasaran Indonesia. Tak hanya itu, atas inovasi dalam mengatasi 120 juta ton limbah pertanian yang diproduksi di Indonesia, DBS Foundation memberikan dana usaha kepada Mycotech pada tahun 2016.

Berawal dari Lima Sekawan

Adi mengungkapkan, awalnya produk Mycotech terjadi tidak sengaja. Inovasi ini bermula di tahun 2013, ketika Adi beserta Annisa Wibi, Robbi Zidna Ilman, Arekha Bentang dan Ronaldiaz Hartantyo menemukan fenomena jamur yang dapat memperkuat media tanamnya (baglog). Namun, karena temuan tersebut bukan tujuan utama riset mereka, maka hal itu tidak mereka publikasikan. Sarjana Arsitektur ITB ini mengaku selepas kuliah memutuskan untuk membuka berbagai usaha. Keputusan itu sempat kurang disetujui orang tua. Sampai akhirnya Adi dan teman-temannya memutuskan untuk mencoba usaha budidaya jamur. Menurut Adi proses pengembangan teknologi jamur itu terinspirasi dari fermentasi tempe yakni mengendapkan campuran limbah organik dan dibiarkan berkembang begitu saja dalam media. Dari proses fermentasi tersebut akan muncul serat-serat yang saling mengikat sehingga membuat material menyatu. Selama enam bulan riset yang dilakukan dengan dana yang terbatas dan tidak menggunakan dana hibah ini mereka awali dengan proses mengisolasi bibit jamur. Proses ini ternyata sangat sulit, kegagalan sering mereka temui untuk bisa mendapatkan produk yang diharapkan.

Balik Modal

Saat ini, kata Adi, produksi Mycotech masih skala rumahan dan dipasarkan melalui sistem pre-order. Menurut Adi, dalam sebulan mereka baru memproduksi 20 meter persegi. Padahal, target awal produksi 3.000 meter persegi sebulan dengan harga Rp 500.000 per meter persegi. Menurut Adi, agar bisa meningkatkan produksi, pihaknya mesti memutar otak kembali. Antara lain dengan melakukan promosi produk agar dapat lebih dikenal masyarakat. Pria pengemar fotografi ini mengatakan, sebagai pengusaha ia tak selalu mengejar keuntungan dalam bentuk material semata. Akan tetapi, terus meningkatkan hasil produk terbaik dan memberi banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Dijelaskan Adi, dalam satu meter persegi, Mycotech membutuhkan 16,5 kilogram limbah pertanian. Limbah tersebut dibeli dari petani. Ini berarti Mycotech juga turut memberikan tambahan penghasilan hingga 50% bagi petani. Apalagi setiap tahun, Indonesia memproduksi 120 ribu ton limbah pertanian. Bahkan, produksi Mycotech dapat dilakukan di berbagai pulau. Bahan tergantung limbah pertanian. Dengan semakin dikenalnya produk Mycotech oleh khalayak, Adi berencana untuk memasarkan produknya itu ke mancanegara sebagai pengembangan usaha yang akan dilakukan ke depannya. Penulis: Indra Dahfaldi Nasution

Komentar

Fresh