Alutsista Baru Penjaga Kedaulatan RI | OPINI.id

Di usianya yang ke 73 tahun (5 Oktober 1945-2018) kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) baik darat, udara sampai laut tidak perlu diragukan lagi. Pasalnya, saat ini, TNI sudah dibekali dengan persenjataan dan alutsista yang super canggih.

Helikopter Apache AH-64E

Teknologi dari 8 unit helikopter Apache tipe AH 64E yang dimiliki TNI-AD merupakan produk Amerika Serikat termutakhir. Helikopter Apache AH-64E merupakan helikopter modern berteknologi canggih yang bisa dioperasikan dalam berbagai kondisi medan dan cuaca yang menggunakan teknologi Avionics, seperti Radar Longbow dan Multi Target Acquisition and Designation System (MTADS). Radar Longbow adalah sistem radar yang ada di baling-baling Apache. Sistem radar ini memiliki radar kendali tembak dan radar indentifikasi frekuensi. Sementara, persenjataan yang digunakan adalah peluru kendali AGM-114 Hellfire, Roket Hydra 70, AIM-92 Stinger, Aim-9 Sidewinder, dan Kanon M 230. Helikopter Apache juga memiliki perangkat yang dapat melihat dan mengetahui informasi objek dalam kondisi gelap. Helm pilot juga dapat mengatur arah senjata M 230 tanpa mengubah arah helikopter.

Tank Amfibi Arisgator

Alutsista baru yang memperkuat jajaran TNI AD adalah 200 tank angkut pasukan M113 versi amfibi Arisgator. Arisgator adalah kendaraan lapis baja hasil pengembangan dari APC M113 series Ground Systems Division, BAE Systems. Perusahaan Italia ARIS SpA mengembangkan sebuah kit khusus untuk meningkatkan kemampuan amfibi APC M113 BAE Systems ini. Modifikasi yang dilakukan adalah moncong tambahan yang berbentuk haluan kapal dan berisi gabus dan karet khusus yang ringan hingga dapat meningkatkan daya apung. Terdapat panel pembelah ombak yang dapat dibentangkan saat mengarung air. Dikodratkan untuk eksis di permukaan laut, pada bagian atas bodi posisi exhaust atau knalpot dipanjangkan dengan menggunakan snorkel pada sisi kanan atap. Untuk mempercepat laju di dalam air, dua buah propeller hidrostatik dipasang di bagian belakang bawah dengan ukuran yang besar, yang mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan maksimum 6 knots (11 km per jam) di permukaan air. Modifikasi Arisgator sendiri tidak mempengaruhi kemampuan manuvernya di darat jika dibandingkan dengan M113 versi standar. Kecepatan maks di jalan raya: 60 km per jam Tank ini dapat membawa delapan anggota pasukan lengkap dan juga dapat dipasangi berbagai stasiun senjata eksternal.

KRI Ardadedali-404

KRI Ardadedali-404, sebuah kapal selam yang didatangkan dari Korea Selatan. Indonesia menjadi negara pertama yang memiliki kapal selam tercanggih ini. KRI Ardadedali mampu berlayar lebih dari 50 hari untuk menunjang fungsi operasi. Pemberian nama Ardadedali pada kapal selam milik TNI AL ini diambil dari salah satu nama senjata panah yang dimiliki oleh tokoh Arjuna dalam cerita Mahabharata. KRI Ardadedali - 404 milik TNI-AL ini merupakan kapal selam type 209/400 DSME yang memiliki bobot 1.280 ton saat muncul di permukaan dan bobot jadi 1.400 ton saat menyelam. Kapal selam ini memiliki empat mesin diesel MTU 12V493 yang mendukung jarak jelajah mencapai 18.520 km. Kapal selam tempur ini memiliki kecepatan 21 knot di bawah air dan 12 knot di permukaan. Panjang kapal 61,3 meter dan diameter 6,2 meter dengan draft 5,7 M yang mampu menampung 40 kru kapal. Kapal selam produksi DSME ini dilengkapi dengan peluncur torpedo yang mampu meluncurkan torpedo 533 mm. KRI Ardadedali juga memiliki peluru kendali antikapal permukaan yang merupakan modernisasi armada kapal selam TNI AL.

Helikopter AS565 MBe Panther

Helikopter AS565 MBe adalah helikopter Anti Kapal Selam (AKS), dikendalikan oleh 2 awak dan dapat membawa 10 penumpang. Namun ternyata Panther memiliki bodi sangat ringan karena punya bobot maksimum saat take off hanya 4,3 ton. Bodinya menggunakan glass fibre yang diperkuat nomex bahan tahan api. Rotorhead dengan empat bilah baling-baling utama menggunakan bahan serat gelas Starflex. Helikopter canggih AS565 Panther disokong dua mesin turboshaft Turbomeca Arriel 2C. Masing-masing mesin punya kekuatan 635 kW. Dengan mesin ini, Panther memiliki performa yang dapat diandalkan dalam kondisi apa pun. Panther dapat melakukan hovering hingga ketinggian 2.600 meter, selain itu Helikopter ini dapat melesat hingga 285 km per jam. Panther memiliki daya jangkau deteksi keberadaan kapal selam musuh yang lebih luas. Sebab, helikopter ini memiliki dipping sonar L-3 Ocean Systems DS-100 Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS). Perangkat DS-100, dirancang ideal untuk melakukan redetection, melokalisir sasaran, dan melancarkan serangan torpedo di perairan dalam dan dangkal. Sebagai penghancur kapal selam milik TNI-AL, helikopter ini juga dilengkapi dengan dua torpedo yaitu jenis MK46 dan A.244.

F-16C/D Fighting Falcon

Di tahun 2018 ini TNI AU resmi menerima bantuan 24 unit pesawat tempur tipe F-16C/D dari Amerika Serikat. Pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dilengkapi dilengkapi radar Westinghouse AN/APG-68, yaitu radar Pulse-doppler jarak jauh yang bisa menditek hingga jarak 296 km. Pesawat F-16 C/D memiliki mesin turbofan afterburning, dimana mesin ini juga dipakai oleh pesawat F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Blok di bawah pesawat dilengkapi pod infra merah Lantrin. Alat ini memungkinkan pesawat untuk terbang pada ketinggian rendah, di malam hari dan di bawah cuaca apapun untuk menyerang target darat dengan berbagai senjata pandu presisi. Pesawat ini juga dilengkapi dengan Litening, sebuah alat yang berfungsi untuk meningkatkan efektivitas pesawat tempur siang hari, malam hari dan di bawah cuaca dan kondisi dalam serangan darat dan udara, target dengan berbagai senjata khusus (yaitu, bom dipandu laser, bom konvensional dan senjata pandu GPS).

Radar Master –T

Master-T adalah radar deteksi paling canggih yang digunakan oleh TNI AU, diciptakan oleh Thales Raytheon System Perancis. Master-T masuk dalam golongan radar 3D modern yang punya kemampuan PSR (Primary Surveillance Radar) dengan mengadopsi teknologi Full Solid State. Sementara untuk SSR (Secondary surveillance Radar) didukung kemampuan aktif IFF (Identification Friend or Foe) untuk mendeteksi kawan atau lawan. Dari segi jangkauan radar ini dapat memindai area sejauh 444 km, sementara jangkauan minimum 8 km dengan coverage 360 derajat. Sedangkan untuk ketinggian deteksi bisa mencapai 100.000 kaki (30,48 km). Master-T dapat mendeteksi keberadaan pesawat berukuran kecil dari jarak 390 km. Khusus untuk deteksi obyek berupa pesawat tempur yang punya kecepatan dan manuver tinggi, akurasi deteksi kisaran 30 meter hingga 200 meter pada ketinggian 2.000 kaki (0,6 km ) dengan jarak pantau efektif 100 nautical mile (185,2 km). Radar ini terintegrasi dengan pesawat tempur TNI dan artileri pertahanan udara. Saat ini, TNI AU sudah memiliki 20 unit radar Master T, yang ditempatkan di beberapa tempat vital di Indonesia.

Sederetan alutsista baru ini bikin kamu tambah bangga ga sih sama TNI?
Bangga dong
Biasa aja
Ga bangga
790 votes

Komentar (2)

Fresh