Kawasan Lubang Buaya menjadi sangat terkenal sejak meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan di tempat ini kini berdiri megah Monumen Pancasila Sakti, simbol pengingat tragedi pengkhianatan PKI pada NKRI di tahun 1965. Sebenernya bagaimana awalnya kawasan tersebut bisa dinamakan Lubang Buaya? Ternyata ada legendanya tersendiri loh. Yuk swipe aja yaak ---->

Mengenal Datuk Banjir

Jauh sebelum tragedi G30S/PKI, nama tempat di Jakarta Timur itu memang sudah disebut kampung Lubang Buaya. Nama Lubang Buaya tersebut konon disematkan oleh salah satu sesepuh kampung sekaligus orang sakti bernama Datuk Banjir. Konon Datuk Banjir adalah Pangeran Syarif Hidayatullah bin Syaikh Abdurrahman, salah seorang penyebar dakwah Islam di tanah Jayakarta. Gelar Dato (Datuk) sendiri lazim disematkan pada Ulama atau tokoh yang disegani pada abad 17 hingga ke 19 Masehi di Jayakarta (Jakarta sekarang).

Awal Nama Lubang Buaya

Menurut cerita turun menurun ketika Datuk Banjir dalam perjalanan dakwahnya menyusuri aliran sungai menggunakan getek (perahu bambu), serta bambu panjang sebagai dayungnya. Dalam perjalanan, bambu dayung itu tak menyentuh dasar sungai, seakan menyentuh ruang kosong. Ruang kosong itu seolah menyedot material di atasnya. Akibatnya, bambu dayung dan getek serta Datuk Banjir turut tenggelam, saat tenggelam itulah, Datuk melihat sarang buaya di dasar sungai. Lalu Datuk Banjir muncul kembali ke permukaan sungai secara tiba-tiba, dia merenungi pengalaman spritual itu termasuk saat melihat sarang buaya di dalam sungai itu. Dari situlah Datuk Banjir menyebut daerah itu Lubang Buaya dan ia menetap didaerah tersebut hingga memiliki keturunan.

Mengapa Disebut Datuk Banjir?

Masyarakat memberinya julukan Datuk Banjir, karena beliau dipercaya memiliki kelebihan bisa "mendatangkan" dan "menolak" banjir. Konon saat zaman Hindia Belanda, kampung Lubang Buaya pernah akan diserbu oleh pasukan Belanda. Datuk Banjir kemudian berdo'a dan seketika pasukan Belanda terombang-ambing seperti orang yang akan tenggelam. Menurut penglihatan pasukan Belanda, kampung Lubang Buaya rupanya berubah menjadi lautan, sehingga mereka mengurungkan niat untuk menyerbu. Selain mampu "mendatangkan" banjir, Ia dipercaya pula memiliki kelebihan "menolak" banjir. Daerah di sekitar Kramat Datuk Banjir dipercaya tidak akan tersentuh banjir. Meski letaknya persis di pinggir anak kali sunter dan hanya beberapa meter dari Kali Sunter, sederas apapun curah hujan dan sebesar apapun debit air di Kali Sunter, air akan lewat begitu saja tanpa mampir ke area ini.

Makam Keramat

Makam Pangeran Syarif Datuk Banjir terletak di kompleks makam keramat Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di kompleks makam ini, ada empat nisan berjajar yang berisi jasad orang sakti dan juru kuncen makam. Mereka berasal dari keluarga Datuk. Bagi penziarah yang mendatangi makam ini ada sejumlah larangan yang harus ditaati oleh para peziarah. Larangan itu berasal dari petuah Datuk banjir yang disampaikan secara turun-temurun, diantaranya adalah tak boleh mengenakan seragam (seragan polisi, TNI, PNS dll) dan ga boleh sombong atau menyombongkan diri. Tak hanya itu, hingga kini tidak pernah ada orang yang berani membuka pertunjukan kesenian wayang, lenong, atau seni lainnya disekitar daerah lubang buaya terutama yang dekat dengan makam Eyang Datuk Banjir, pasalnya jika ada yang nekat maka para pemain biasanya akan mendadak sakit atau kesurupan.

Komentar (4)

Top Konten