Mengingat Kembali Sosok Pahlawan Revolusi | OPINI.id

Dalam sebuah usaha kudeta, 53 tahun lalu tepatnya pada 30 September 1965 malam hingga 1 Oktober 1965 dini hari, sejumlah petinggi militer diculik dan dibunuh. Peristiwa itu dikenal dengan nama Gerakan 30 September/PKI atau G30S/PKI.

Peristiwa tersebut tak hanya terjadi di Jakarta tapi juga di Yogyakarta. Ada enam jenderal dan satu perwira pertama TNI, serta 3 perwira lainnya yang turut menjadi korban keganasan PKI.

1. Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

Jenderal A. Yani merupakan komandan TNI AD yang lahir 19 Juni 1922 di Purworejo. Di bidang militer, Ahmad Yani mengantongi sederet prestasi. Ia pernah menahan Agresi Militer pertama dan kedua Belanda. Prestasinya kian menanjak setelah memimpin pasukan melumpuhkan pemberontak DI/TII dan Operasi Trikora di Papua Barat serta Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia. Saat menjabat sebagai komandan TNI AD, Jenderal Yani menolak usul Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menginginkan pembentukan Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani. Gencarnya Jenderal Yani menentang PKI membuatnya masuk dalam target penculikan dan pembunuhan PKI pada Gerakan 30 September 1965.

2. Letjen Anumerta Suprapto

Letnan Jenderal Anumerta Suprapto adalah salah satu pahlawan nasional yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920. Ia pernah menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/Diponegoro di Semarang, menjadi Staff Angkatan Darat di Jakarta, dan kembali ke Kementerian Pertahanan. Suprapto adalah salah satu Perwira Tinggi yang tidak menyetujui pemikiran pentolan PKI, DN Aidit yang ngotot ingin mempersenjatai buruh dan tani, oleh karena alasan itulah Suprapto masuk dalam daftar jenderal yang harus dihabisi.

3. Letjen Anumerta MT Haryono

MT Haryono adalah putra seorang asisten Wedana di Gresik, lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. Perwira tinggi ini diketahui fasih berbicara sejumlah bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, dan Jerman. Tak heran jika ia sering ditunjuk menjadi perwira penyambung lidah dalam setiap perundingan. MT Haryono merupakan salah satu perwira tinggi yang menentang PKI dan kroninya. Tak heran namanya masuk dalam daftar jenderal yang diculik oleh PKI.

4. Letjen Anumerta Siswondo Parman

Letjen Anumerta Siswondo Parman atau kini lebih dikenal dengan sebutan S. Parman, khususnya pada nama jalan di beberapa kota besar di Indonesia. Letjen S. Parman merupakan tentara intelijen yang masuk daftar penculikan lantaran mengetahui semua rencana dan gerak-gerik PKI. Masuknya nama S. Parman dalam daftar jenderal yang harus dibunuh datang dari kakak kandungnya sendiri, Ir Sakirman. Saat itu, Sakirman merupakan salah satu petinggi PKI, sering berselisih paham dengan adiknya. Pertengkaran kakak beradik itu pun berujung pada kematian S. Parman oleh keganasan PKI.

5. Mayjen Anumerta D I Pandjaitan

Mayjen D I Pandjaitan adalah salah satu pencetus lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bersama pemuda lain, ia membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia pernah jadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatra dan menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Terakhir, ia menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat. Perwira Tinggi, pria kelahiran Balige, Sumatra Utara, 19 Juni 1925 ini juga menjadi target penculikan dan pembunuhan oleh PKI.

7. Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Mayjen Sutoyo lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922. Di tahun 1945, Sutoyo bergabung dengan militer sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal Polisi Militer saat ini. Kariernya di dunia militer diawali menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, Komandan Polisi Militer. Lalu ia juga ia dipercaya menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama. Sutoyo dituding ikut membentuk Dewan Jenderal sehingga namanya masuk dalam daftar perwira tinggi yang harus dihabisi oleh PKI.

7. Kapten Anumerta Pierre Tendean

Kapten CZI Pierre Andreas Tendean lahir 21 Februari 1939. Ia merupakan pahlawan revolusi yang bukan termasuk jajaran Perwira Tinggi, namun memiliki keberanian yang membara. Ia pernah ditugaskan menjadi mata-mata ke Malaysia selama konfrontasi Indonesia-Malaysia. Untuk melindungi Jenderal A.H. Nasution, Perwira Pertama yang baru berusia 26 tahun itu tewas diberondong timah panas senjata Cakrabirawa. Saat itu Piere bertugas sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution. Pada peristiawa G30S, Pierre mengaku sebagai Jenderal Nasution lalu ditangkap dan dibawa pasukan PKI ke Lubang Buaya.

8. AIPDa Anumerta Karel Satsuit Tubun

Ajun Inspektur Polisi Dua Karel Satsuit Tubun, kini lebih dikenal dengan sebutan KS Tubun adalah satu-satunya perwira di luar jajaran TNI yang tewas pada malam G30S PKI. KS Tubun saat itu bertugas menjadi ajudan Johanes Leimena, menteri di kabinet Presiden Sukarno. Dimana rumah Leimena bertetangga dengan rumah Jenderal A.H. Nasution. KS Tubun yang mendengar keributan saat PKI mengepung rumah A.H. Nasution, lalu melepas tembakan ke arah pasukan Cakrabirawa. Namun sayangnya, karena kalah jumlah dan kalah senjata, KS Tubun gugur diberondong peluru Cakrabirawa, namun jasadnya tidak dibawa ke Lubang Buaya.

9. Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo

Korban kekejaman PKI di luar Jakarta adalah Brigjen Katamso, ia diculik PKI saat bertugas di Yogyakarta. Tubuh Jenderal kelahiran Sragen, 5 Februari 1923 ini dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang telah disiapkan di sekitar Kentungan, Sleman, Yogyakarta. Jenazahnya baru ditemukan pada tanggal 21 Oktober 1965.

10. Kolonel Infanteri Anumerta R Sugiyono Mangunwiyoto

Sugiyono adalah salah satu Perwira Menengah yang turut beraksi dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Sugiyono yang lahir di Gunung Kidul, Yogyakarta, 12 Agustus 1926, gugur dibantai oleh PKI bersama dengan Brigjen Katamso. Bersama Brigjen Katamso, jenazahnya dimasukkan ke lubang di sekitar daerah Kentungan, Sleman, Yogyakarta dan baru ditemukan setelah 20 hari kemudian.

Komentar

Fresh