Jalan Panjang Prestasi Anthony Ginting | OPINI.id

Prestasi Anthony Ginting di turnamen Superseries Premier gak didapat secara instan. Butuh perjuangan dan latihan jangka panjang, untuk berada di posisi seperti saat ini. Mengalahkan empat juara dunia di China Open 2018, Lin Dan, Viktor Axelsen, Chen Long, dan Kento Momota jadi bukti level permainan Ginting sudah berada di titik optimal.

Ginting Mulai Bersinar

Pola perekrutan pemain muda nomor ganda putra di pelatnas bulutangkis beberapa tahun silam sempat menjadi pertanyaan. Publik bertanya seberapa besar potensi darah muda pada saat itu, Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan Ginting. Pembuktian akhirnya terjawab. Setelah Jonatan Christie merebut medali emas tunggal putra di Asian Games 2018, kini Ginting jadi omongan. Khusus Ginting memang tidak seheboh Jonatan di periode awal pelatnas 2013. Tapi sejatinya catatan prestasinya sudah mulai terlihat saat Milo School Competition 2008. Kejurnas dan Sirnas tahun 2012 Ginting sudah mencatat prestasi masuk empat besar juara. Bahkan, kalau kita coba mengingat kembali saat Olimpiade Remaja 2014 dan Kejuaraan Dunia Junior 2014, dia dapat medali perunggu. Jalur juara dunia sudah tampak di depan mata saat itu. Dua tahun kemudian, konsistensi Ginting terlihat pada Kejuaraan Bulu Tangkis Asia di Hyderabad, India. Dukungan Ginting juga terlihat saat Asian Games 2018. Pada nomor beregu, usaha pantang menyerahnya tampak saat melawan Shi Yuqi (China). Pada nomor perorangan, Ginting akhirnya mendapat perunggu, menemani Jonatan yang merengkuh medali emas.

Kerja Keras Adalah Kunci

Anthony Ginting punya motivasi besar untuk bisa mengalahkan ego diri. Tidak semata berambisi juara. Ini adalah penilaian sang pelatih, Hendry. Bagi pelatih tim tunggal putra pelatnas, Ginting menjadi lebih sabar dalam meladeni permainan lawan. Pemain 21 tahun ini mampu mengontol pikirannya hingga mampu mengendalikan pukulan. Fokus dan tidak gampang membuat kesalahan sendiri, yang tentu akan berujung poin untuk lawan. "Hasilnya ya bisa kita lihat sendiri," kata Hendry.

Konsistensi Menjawab Itu Semua

Pelatih Anthony Ginting, Hendry mengatakan, jawaban atas prestasi yang diraih anak didiknya adalah perjalanan panjang dari usaha puluhan tahun. "Misalnya ada 12 kali turnamen setara level super series dalam setahun, masa sih nggak bisa dapat satu? Tapi bicara begini juga harus ada dasarnya, fisiknya bagus, teknik pendukung bagus," ucap Hendry.

Cerita Kebugaran Fisik Ginting

Masih ingat aksi heroik Ginting saat melawan Shi Yuqi saat Asian Games 2018? Ganggungan cedera gak ganggu Ginting untuk tetap berjuang. Meskipun kalah rubber game, Ginting sudah tampil memukau. Pada saat itu fisiknya lemah hingga tidak bisa mengembangkan permainan. Namun pada China Open 2018 semua itu diperbaiki, dan hasilnya seperti kita tahu bersama, menjadi juara.

Masa Depan Ada Di Tangan Pemain

Atlet berprestasi itu banyak, tapi mempertahankan konsistensi prestasilah yang harus dilihat. Itu menjadi tantangan seorang atlet di kemudian hari. "Sekarang sudah bisa melewati, tinggal konsistennya, bisa atau tidak? Selalu ada ujian bagi tiap pemain setelah menjadi juara, apalagi setelah Asian Games, banyak harapan kepada Anthony dan Jonatan," ucapnya.

quote-mark

Tiap atlet pasti punya tujuan, selagi tujuan itu belum tercapai, ya dia harus berjuang terus. Kalau jatuh ya fight back.

Komentar

Fresh