Berangkat dari kasus kematian Jakmania yang dikeroyok ribuan viking layaknya binatang, mari kita tiru bagaimana cara 5 negara ini menanggulangi kekerasan para suporter sepakbola.

Ingat, ini bukan masalah berapa banyak Jakmania membunuh bobotoh, begitu juga sebaliknya, bukan masalah berapa banyak bobotoh membunuh Jakmania!

Italia Membatalkan seluruh liga

Indonesia harus tiru ini nih! Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) ancam batalkan seluruh liga di negara ini, setelah rentetan kekerasan oleh suporter berlangsung pada Januari 2007. Salah satunya ketika seorang ofisial klub amatir Sammartinese, tewas ketika terjebak dalam perkelahian antara pendukung dan pemain bola, pada Sabtu (27/01/07). Gak berhenti disitu, seorang polisi, Flippo Raciti tewas saat bertugas melerai pertikaian antara dua pendukung klub serie A, Catania dan Palermo. Raciti disebut tewas karena ditusuk di bagian hatinya, dengan “benda tajam dari toilet”. Geram, Pancalli pun melaksanakan janjinya, membatalkan seluruh pertandingan, bahkan laga yang digelar oleh tim nasional Italia, selama sepekan. Kematian Raciti yang diliput berbagai media dunia, saat itu membangkitkan solidaritas dan dukungan terhadap keselamatan aparat keamanan.

Turki melarang suporter menonton

Gerah dan kesal sama pertikaian antara suporter membuat salah satu klub sepakbola Turki, Fenerbahce menerapkan aturan unik. Larangan laki-laki menonton di stadion pun dikeluarkan. Tidak hanya di Turki, pertandingan Liga Champion antara Manchester City dengan klub asal Rusia, CSKA Moscow, di Rusia, pada 21 Oktober 2014, berlangsung tanpa ditonton satu orang pun di stadion. Pelarangan penonton ini merupakan sanksi setelah supporter CSKA Moskow melakukan tindakan kekerasan saat sebuah laga di Roma, Italia, beberapa hari sebelumnya.

Inggris memisahkan penonton

Sudah sejak tahun 1970-an, Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) mencegah potensi kekerasan yang terjadi di dalam stadion dengan memisahkan tempat duduk penonton dari kedua kubu. Lewat pernyataan resminya, FA menyebut, cara segragasi ini “telah secara signifikan mengurangi aksi kekerasan di dalam stadion”.

Rusia : Polisi kelas berat dan sanksi buat klub

Spartak Moscow, Lokomotiv Moscow dan CSKA Moscow adalah klub yang pendukungnya kerap rusuh. Rusia pun memiliki polisi anti-huru hara dengan perlengkapan komplit, yang kerap dipanggil para suporter sebagai “kosmonot”, karena pakaian pelindung tebal dan helm yang mereka kenakan. Polisi tersebut dilengkapi tameng, pentungan dan gas air mata untuk menindak tegas pelaku, yang sering bersenjata.Saking seriusnya, tiga minggu jelang pembukaan Piala Dunia 2018. Pemerintah pun meluncurkan video penanganan suporter rusuh. Tujuannya agar suporter takut. Lebih jauh lagi, hukuman terkait tindakan yang dilakukan suporter, juga bisa dijatuhkan pada klub atau tim nasional yang didukungnya.

Belgia memberikan pelatihan suporter

Di negara ini punya cara yang berbeda untuk mengurangi kekerasan yang terjadi antar suporter sepakbola. Program Pelatihan Suporter dimulai oleh klub asal Belgia, Standard Liege, pada akhir 1980an. Idenya mencegah terjadinya kekerasan oleh suporter dengan meredam gejalanya sejak dini.

Menurutmu cara ini wajib dicoba gak di Indonesia?
Wajib banget
Gak ngaruh banget di sini
1324 votes

Komentar (4)

Top Konten