Kita Dapet Rekor Dunia di Bidang Korupsi | OPINI.id

Mahkamah Agung (MA) akhirnya putuskan napi korupsi boleh nyaleg di Pileg 2019. Keputusan ini berdasarkan gugatan dari politisi mantan koruptor yang pengen nyaleg lagi. Ada apa dengan dunia ini? Apakah ini permainan dari para elit global? Apa kata dunia? #KetauanCerdasnya

MA ‘Ngumpet’ di Belakang UU?

Alasan MA terima gugatan karena PKPU Nomor 20 dan 26 tahun 2018, udah bertentangan sama UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Dalam pasal 240 ayat 1 huruf g berbunyi: "Bakal calon DPR dan DPRD harus memenuhi persyaratan: tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih, kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana." Ngerti gak? Yaa, pokoknya selama caleg gak terikat sama hukum pidana dan jujur pernah jadi terpidana, mereka boleh jadi wakil rakyat. Keren kan? Cuma di negara kita koruptor dikasih kesempatan buat jadi wakil rakyat.

Bisa Dapet Rekor Dunia

Terhitung ada sekitar 207 caleg mantan koruptor yang beruntung dengan keputusan ini. Tersebar di 12 provinsi, 97 kabupaten dan 19 kota. Walaupun yang diloloskan Bawaslu hanya 38 orang, tetep aja ini rekor dunia. Kita bisa ngajuin ke Guiness World Records kayaknya. Lumayankan di balik kenestapaan ini, ada secercah kebahagiaan.

Tokoh ‘Inspiratif’ di Balik Putusan MA

Gue pengen kasih karangan bunga ke orang-orang yang gugat aturan PKPU. Mereka udah kontribusi melegalkan kembali mantan koruptor untuk menjadi calon wakil rakyat lagi. Gua prediksi mereka sangat menjunjung tinggi hak asasi para koruptor yang dulu pernah ngambil hak rakyat. Tokoh-tokoh inspiratif itu ada 12 orang lho. Salah tiganya Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, M Taufik, mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh dan mantan anggota DPR, Wa Ode Nurhayati. Ditunggu yaa, karangan bunga dari akyuuu, cantumkan alamat kalian di kolom komen, bebas ongkir. Mereka bilang PKPU soal larangan mantan koruptor ikut nyaleg itu telah melanggar HAM. Katanya sih mantan terpidana belum tentu ngelakuin korupsi lagi, justru yang belum tersentuh hukum bisa saja tidak ketahuan melakukan korupsi. #KetauanCerdasnya

Jadi Koruptor Di Indonesia Menguntungkan

Fadli Zon menyambut keputusan MA. Doi bilang mantan koruptor gak harus terima hukuman seumur hidupnya. Kata Bang Fadli siih, kan para koruptor itu udah bayar kesalahannya saat dipenjara, jadi gak pantes dihukum seumur hiudup. “Kita akan berpedoman pada Undang-Undang mana yang lebih tinggi. Aturan main kita apa, sih? Kan undang-undang. Bukan yang lain. Jadi segala putusan harus terkati dengan undang-undang. Ini yang jadi pegangan,” tegas Fadli. Iyaa, sih Bang bener juga, tapi jangan pasrah gitu aja doong. Kejahatan itu lebih maju duluan dari pada aturannya. Naah, kan situ wakil rakyat yang akan merumuskan aturan, cegah doong koruptor.

Jangan Pasrah Sama Keputusan MA

Kalo kata Ubedilah Badrun, pengamat politik UNJ bilang setidaknya ada 4 alasan kita tolak napi korupsi jadi caleg. Pertama Citra DPR udah terlalu buruk, cobalah ada etiket baik dan serius buat ngeberantas korupsi. Biar masyarakat kembali percaya sama DPR. Kedua, ini juga baik buat DPR untuk ngeruntuhin budaya korupsi yang udah mengakar. Ketiga, ini juga keinginan publik, masyarakat udah jengah banget ngeliat korupsi terjadi terus. Tiap bulan ada aja yang ketangkep. Terakhir, ini semua untuk kepentingan kita semua sebagai rakyat, kalo hukum berpaku sama rakyat itu berarti udah menjunjung kepentingan rakyat.

Jangan Dipilih!

Alhasil jangan gerutu doang, kita bisa gerak buat cegah korupsi. Ingetin muka para calon koruptor, tandai muka mereka. Jangan dipilih! Buat bapak ibu yang ada di partai, coba deh calonin kader yang gak pernah terlibat korupsi. Emang kurang orang? Jangan malah didukung atau pura-pura gak tau.

Menurut kalian gimana soal keputusan MA bolehin napi korupsi nyaleg?
Akhir dari Dunia
Gak Serius Berantas Korupsi
598 votes

Komentar (4)

Fresh