Ragam Aksara Kuno Nusantara | OPINI.id

Anak muda zaman now mungkin lebih tertarik dan bakal terlihat lebih bergengsi jika mempelajari aksara Kana atau aksara Kanji dari Jepang, aksara Han (Hanzi) dari China maupun aksara Hangul (Hangeul) dari Korea. Padahal bangsa kita memiliki Aksara Nusantara yang kini hanya jadi salah satu warisan budaya nyaris punah. Hal ini terjadi karena jarang sekali anak muda Indonesia yang merasa bangga akan identitas budaya lokal hingga tidak merasa punya kepentingan untuk mempelajari aksara kuno ini.

Aksara Nusantara

Aksara Nusantara merupakan beragam aksara atau tulisan kuno yang pernah digunakan di Nusantara sebelum dikenalnya Aksara Arab-Melayu dan Aksara Latin. Digunakannya aksara-aksara kuno ini oleh leluhur Bangsa Indonesia dapat dirunut hingga sekitar abad ke-4, dengan ditemukannya prasasti-prasasti dan naskah peninggalan kerajaan-kerajaan terdahulu. Bukti tertua mengenai keberadaan Aksara Nusantara ini berupa tujuh buah yupa (tiang batu untuk menambatkan tali pengikat sapi) yang bertuliskan prasasti mengenai upacara waprakeswara yang diadakan oleh Mulawarmman, Raja Kutai di daerah Kalimantan Timur. Tulisan pada yupa-yupa tersebut menggunakan Aksara Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Berdasarkan tinjauan pada bentuk huruf Aksara Pallawa pada yupa, para ahli menyimpulkan bahwa yupa-yupa tersebut dibuat pada sekitar Abad IV.

Aksara Nusantara Asli

Zaman Klasik : Aksara Pallawa Aksara Siddhamatrka Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuna) Zaman Pertengahan : Aksara Buda Aksara Sunda Kuna (Ngalagena) Aksara Proto-Sumatera Zaman Kolonial : Aksara Batak (Surat Batak) Aksara Rencong (Aksara Kerinci) Aksara Lampung (Had Lampung/Kaganga) Aksara Jawa (Aksara Jawa Baru/Hanacaraka) Aksara Bali Aksara Lontara (Aksara Bugis-Makassar) Aksara Baybayin Aksara Buhid Aksara Hanuno’o Aksara Tagbanwa Zaman Modern : Aksara Sunda Baku

Koleksi Naskah Kuno Perpusnas

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia memiliki 10.334 naskah kuno yang berupa aksara dan bahasa yang tersimpan di Museum Perpusnas. Koleksi tersebut ditulis dalam aksara Arab, Jawi, Pegon, Sunda kuno, Kaganga, Batak, dan Bugis serta dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Lampung. Koleksi yang paling tua adalah naskah Arjuna Wiwahana dari abad ke-14 ditulis di atas daun lontar. Naskah kuno yang dimiliki oleh Perpusnas, 70 persen ditulis diatas kertas, 25 persen daun lontar, lalu sisanya ada yang ditulis di kayu, bambu maupun perkamen (kulit hewan). Perkamen biasanya digunakan oleh suku Aceh untuk menulis informasi penting. Informasi yang ada di dalam naskah kuno adalah Alquran, hadist, hukum, sejarah, hikayat, obat-obatan, teknologi, linguistik, syair dan arsitektur.

Paleografi

Paleografi adalah ilmu yang mempelajari atau kajian tentang tulisan-tulisan kuno, termasuk ilmu membaca, menentukan waktu (tanggal), dan menganalisis tulisan-tulisan kuno yang ditulis diatas papirus, tablet-tablet tanah liat, tembikar, kayu, perkamen (vellum) kertas, lontar (daun enau).

1. Aksara Minangkabau

Aksara Minangkabau (Sumatera Barat) ditemukan pada “Tambo” (kitab adat) minangkabau. Ada dua jenis aksara ini yaitu aksara yang ditemukan pada Tambo Alam milik Datuk Suri Dirajo di Nagari Pariangan dan aksara alfabetis yang ditemukan di Tambo Ruweh buku di Nagari Silek Aia (Sulit Air).

2. Aksara Batak

Aksara atau huruf Batak yang disebut juga ‘Surat Batak’ adalah huruf-huruf yang dipakai dalam naskah-naskah asli suku Batak (Angkola-Mandailing, Toba, Simalungun, Pak­pak-Dairi, Karo) Kelompok bahasa sub suku ini mempunyai kemiripan satu sama lain dan sebenarnya adalah cabang dari suatu bahasa Batak tua (Proto Batak). Naskah asli itu sebagian besar berupa pustaha (laklak), sebagian kecil lainnya dituliskan pada bambu dan kertas.

3. Aksara Incung

Aksara Incung digunakan oleh suku Kerinci, Jambi. Pada umumnya aksara Incung ditulis diatas ruas bambu dan tanduk. Aksara Incung yang ditulis pada tanduk kerbau dan tanduk kambing pada umumnya berisikan tentang silsilah (Tambo ), yang biasanya pada awal kalimat dimulai dengan ucapan “ini surat tutur tambo ninik" ( inilah cerita tentang silsilah nenek moyang). Aksara Incung Suku Kerinci juga ditulis diatas kertas, kulit kayu, tapak gajah dan daun Lontar.

4. Aksara Ulu

Aksara Ulu atau Surat Ulu merupakan kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra Selatan. Beberapa aksara yang termasuk kelompok Surat Ulu adalah aksara Kerinci, aksara Rejang-Rencong, dan aksara Lampung. Aksara Ulu juga dinamakan Aksara KaGaNga berdasarkan tiga huruf pertama dalam urutan abjadnya dan masih serumpun dengan Surat Batak (aksara Batak). Istilah “Kaganga” diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull di Inggris dalam buku Folk Literature of South Sumatra, Redjang Ka-Ga-Nga texts (Canberra, The Australian National University, 1964) untuk merujuk kepada Surat Ulu.

5. Aksara Rencong Bengkulu

Aksara Rencong adalah istilah yang mula-mula digunakan oleh para peneliti Belanda untuk merujuk pada aksara Surat Ulu yang digunakan di kawasan ulu (pegunungan) Sumatra, khususnya di Kerinci, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Bersama dengan aksara-aksara daerah lain di Sumatra, Surat Ulu merupakan turunan dari Aksara Pallawa. Pada masa lalu surat ulu dituliskan pada bambu, tanduk kerbau, dan kulit kayu.

6. Aksara Had Lampung

Aksara Lampung atau Aksara Kaganga atau biasa disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan masyarakat Suku Lampung. Para ahli berpendapat bahwa aksara ini berasal dari perkembangan aksara devanagari yang lengkapnya disebut Dewdatt Deva Nagari atau aksara Pallawa dari India Selatan.

7. Aksara Ngalagena

Aksara Sunda Kuno atau Aksara Ngalagena biasa digunakan oleh suku Sunda (Jawa Barat). Aksara Ngalagena menurut catatan sejarah telah dipakai oleh orang Sunda dari abad ke -14. Jejak aksara ini dapat dilihat pada Prasasti Kawali (Prasasti Astana Gede). Dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukancana yang memerintah di Kawali, Ciamis, (1371-1475). Prasasti Kebantenan yang termaktub dalam lempengan tembaga, berasal dari abad ke-15, juga memakai aksara Ngalagena.

8. Aksara Hanacaraka

Menurut perjalanan sejarahnya, aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke-4 Masehi. Lalu seiring perkembangan zaman pula, aksara Hanacaraka mengalami beragam perubahan bentuk dan komposisi hingga seperti yang kita kenal sampai saat ini. Aksara Jawa yang sering disebut dengan "Hanacaraka" merupakan aksara jenis abugida turunan dari aksara Brahmi. Dari segi bentuknya, aksara "Hanacaraka" punya kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Untuk aksara Jawa sendiri merupakan varian modern dari aksara Kawi, salah satu aksara Brahmi hasil perkembangan aksara Pallawa yang berkembang di Jawa.

9. Aksara Bali

Aksara Bali disebut juga dengan ‘Carakan‘. Dalam buku ‘Unicode Standard version 5.0‘ dinyatakan bahwa aksara Bali berasal dari aksara Brahmi purba dari India. Aksara Bali memiliki banyak kemiripan dengan aksara-aksara modern di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang berasal dari rumpun aksara yang sama. Aksara Bali pada abad ke-11 banyak memperoleh pengaruh dari bahasa Kawi atau Jawa kuno. Versi modifikasi aksara Bali ini digunakan juga untuk menuliskan bahasa Sasak yang digunakan di Pulau Lombok. Beberapa kata-kata dalam bahasa Bali meminjam dari bahasa Sansekerta yang kemudian juga mempengaruhi aksara Bali. Tulisan Bali kuno ditulis pada daun pohon siwalan (sejenis palma), tumpukannya kemudian diikat dan disebut lontar.

10. Aksara Lontara

Aksara Lontara merupakan perkembangan pesat dari tulisan Kawi yang biasa digunakan di Indonesia tahun 800-an. Lontara merupakan aksara kuno dari masyarakat Bugis-Makassar. Tulisan lontara Bugis menurut budayawan Profesor Mattulada (alm) asalnya dari “sulapa eppa wala suji” dimana wala suji asalnya dari kata wala yang bila diartikan adalah pemisan/pagar atau penjaga lalu suji artinya putri. Wala Suji merupakan sejenis pagar bamboo yang ada dalam acara ritual bentuknya belah ketupat. Sedangkan sulapa eppa merupakan bentuk mistis dari kepercayaan orang Bugis-Makassar klasik yang mana menyimnbolkam susunan semesta, ada api, air, angin dan tanah.

Sumber:

http://perpusnas.go.id/ https://www.researchgate.net http://repositori.perpustakaan.kemdikbud.go.id/ https://bit.ly/2M57duC http://malahayati.ac.id/?p=18871 https://bit.ly/2M7Nz1m https://bit.ly/2wMIuFZ https://bit.ly/2oH1j9Y https://bit.ly/2oKfkDV https://bit.ly/2PHBfqK

Komentar (1)

Fresh