Antara Wanita dan Kuntilanak | OPINI.id

Sekilas dengan melihat judul tersebut akan terbayang dengan sosok perempuan dalam mitos Aceh yang menjelma menjadi makhluk halus.

Asal Usul Kuntilanak

Kuntilanak yang dianggap oleh orang Aceh sebagai hantu yang berasal dari perempuan yang meninggal akibat persalinan, meninggal setelah perempuan itu melahirkan anaknya ataupun bayinya belum sempat dilahirkan. Hantu ini ditemui pada malam hari dalam wujud sesosok tubuh yang terbungkus kain putih, atau dalam bahasa Acehnya disebut Burong Punjot. Kuntilanak berasal dari perempuan yang melahirkan dan lupa melepaskan tali pengikat kafannya ketika kuburnya ditutup. Selain itu, ada juga mitos lain yang berkembang di Aceh yang tidak terlepas dari kaum wanita, Sundil Bolong atau dalam bahasa Acehnya Burong Tujoh misalnya. Burong digambarkan berbentuk wanita dengan sebuah lubang besar di punggungnya, sekilas tidak jauh berbeda dengan kuntilanak, konon makhluk tersebut hidupnya tidak begitu bersih dan mengalami ajalnya ajalnya dengan cara yang tidak wajar. Kuntilanak yang diakui eksistensinya oleh sebahagian orang berbentuk mayat hidup terbungkus kain kafan. Bila ia berjalan kakinya tidak menginjak tanah. Suaranya kedengaran seperti suara seorang wanita yang menangis sedih (di Aceh suara kuntilanak itu dikenal dengan bunyi "Meu i-i" menangis tersedu-sedan) sesuai dengan suasana dak waktu ia berperan. Mitos yang berkembang begitu cepatnya dikalangan masyarakat Aceh ini seolah-olah pudar ditelan era globalisasi, mereka tidak mempercayai adanya mitos kuntilanak dan sundil bolong tersebut, karena dianggap tidak masuk akal dan bersifat takhayyul jika dilihat keberadaan yang sebenarnya. Namun tidak demikian bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman dan jauh dari perkotaan serta jauh dari perkembangan pengetahuan modern yang tetap meyakini mitos ini.

Review

Mitos ini juga bisa dijelaskan penyebabnya dalam ranah agama Islam, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ra. dari Rasulullah SAW : "Bila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada disebagian malam maka tahanlah anak-anakmu, karena sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu, dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkan lampu-lampumu serta sebutlah nama Allah, tutuplah minumanmu serta sebutlah nama Allah, dan tutuplah sisa makananmu serta sebutlah nama Allah (ketika menutupnya). H.R. Bukhari r.a. Jadi dalam hal ini ilmu pengetahuan dan agama sejalan, yaitu waktu maghrib dan malam hari merupakan waktu yang tidak baik untuk keluar rumah. Akan tetapi hal ini tidak hanya berlaku kepada ibu hamil semata, melainkan untuk semua umat manusia terutama kaum perempuan. Sepertinya ungkapan pribahasa Aceh "Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita" ada benarnya juga. Pantangan-pantangan yang terdapat dalam adat masyarakat Aceh pada dasarnya bertujuan untuk mengatur prilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Terkadang banyak dari mitos maupun adat Aceh yang terbukti kebenarannya jika dilihat dari segi medis maupun agama, hanya saja alasannya yang bertolak belakang dengan realita. Oleh karena itu, merasionalkan suatu adat pantang, penting dilakukan agar generasi muda lebih mudah untuk menerima serta menyaring mana yang bisa diserap dan mana yang harus diabaikan. Terlepas dari melihat mitos masyarakat Aceh, tanyakan pada pribadi masing-masing (khususnya wanita hamil), mau ikut menjadi kuntilanak dan sundil bolong selanjutnya ? Cukup ikuti pantangan nenek moyang kita. Simple kan ? Wallahu A'lam bisshawab

Dibalik Mitos

Namun dibalik mitos yang dikembangkan nenek moyang secara turun temurun ini bukan tidak ada nilai positifnya, kemajuan tekhnologi telah melahirkan penelitian-penelitian terbaru dan pengetahuan yang Up to date. Pengetahuan itu dinamis, semestinya manusia juga mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sehingga dapat memilah antara perbuatan yang harus dikerjakan dan dijauhi dan dilihat dari mitos tersebut, dan ternyata mempunyai nilai positif tersendiri terhadap perempuan-perempuan hamil. Dilihat dari cara nenek moyang kita dalam menjaga wanita yang sedang hamil. Di Aceh, wanita hamil diyakini harus menjalani berbagai macam pantangan yang jika dilanggar akan membawa akibat buruk bagi perempuan hamil tersebut. Sebagai contoh, wanita hamil tidak boleh memakan pisang atau pinang yang tumbuh berdempet, akibatnya akan melahirkan anak yang kembar, juga ada larangan memakan rebung bambu, nantinya ditakutkan akan melahirkan anak yang berbulu badannya.

Pantangan

Namun, pantangan yang sering terdengar adalah wanita hamil yang dilarang keluar malam, dan ini tidak lain adalah karena adanya makhluk halus bernama kuntilanak dan sundil bolong. Konon kalau dilanggar maka makhluk halus itu akan memasuki tubuh wanita hamil tersebut. Karena menurut cerita orang Aceh, ada anggapan bahwa untuk menambah jumlah sundil bolong dan kuntilanak, sasaran serangannya diarahkan kepada semua wanita hamil, dan juga wanita yang bersalin. Oleh sebab itu, dalam tradisi orang Aceh kuntilanak tidak akan mengganggu jika dari mulut wanita hamil ataupun suaminya selalu membaca do'a. Do'a-do'a yang dipakai untuk mengusir sundil bolong dan kuntilanak ini pada dasarnya sama dengan jampi-jampi atau japa di Jawa (Syamsuddin Daud, 2002) Bagi Masyarakat Aceh, wanita hamil disarankan membaca do'a-do'a sebagai penangkalnya agar kuntilanak tidak masuk ke dalam tubuh dan ke dalam rumahnya. Terkait dengan pantangan bagi wanita hamil agar tidak keluar dimalam hari, ini bisa dijelaskan secara ilmiah menjelang waktu maghrib, alam berubah ke warna merah dan diwaktu ini kita kerap kali diingatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada diluar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga karena mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti dahulu pada waktu waktu ini (Shalat Maghrib dulu).

Resonansi

Warna merah yang dipancarkan oleh alam ketika itu mempunyai resonansi yang sama dengan jin dan syaitan. Selain itu, ketika malam hari produksi oksigen berkurang sehingga harus berhati-hati ketika keluar malam karena bisa menyebabkan berbagai macam penyakit, sehingga kita lebih baik untuk berada didalam rumah pada waktu maghrib

Bukti Kebenaran Mitos

Mitos ini juga bisa dijelaskan penyebabnya dalam ranah agama Islam, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ra. dari Rasulullah SAW : "Bila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada disebagian malam maka tahanlah anak-anakmu, karena sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu, dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkan lampu-lampumu serta sebutlah nama Allah, tutuplah minumanmu serta sebutlah nama Allah, dan tutuplah sisa makananmu serta sebutlah nama Allah (ketika menutupnya). H.R. Bukhari r.a. Jadi dalam hal ini ilmu pengetahuan dan agama sejalan, yaitu waktu maghrib dan malam hari merupakan waktu yang tidak baik untuk keluar rumah. Akan tetapi hal ini tidak hanya berlaku kepada ibu hamil semata, melainkan untuk semua umat manusia terutama kaum perempuan. Sepertinya ungkapan pribahasa Aceh "Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita" ada benarnya juga. Pantangan-pantangan yang terdapat dalam adat masyarakat Aceh pada dasarnya bertujuan untuk mengatur prilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Terkadang banyak dari mitos maupun adat Aceh yang terbukti kebenarannya jika dilihat dari segi medis maupun agama, hanya saja alasannya yang bertolak belakang dengan realita.

The Point

Oleh karena itu, merasionalkan suatu adat pantang, penting dilakukan agar generasi muda lebih mudah untuk menerima serta menyaring mana yang bisa diserap dan mana yang harus diabaikan. Terlepas dari melihat mitos masyarakat Aceh, tanyakan pada pribadi masing-masing (khususnya wanita hamil), mau ikut menjadi kuntilanak dan sundil bolong selanjutnya ? Cukup ikuti pantangan nenek moyang kita. Simple kan ? Wallahu A'lam bisshawab

Komentar

Fresh