Mentoring, Dulu, Kini dan Nanti | OPINI.id

Mentoring, Dulu, Kini, dan Nanti

Mentoring, Dulu, Kini, dan Nanti

Di dalam Mentoring selain kita mendapat materi yang sangat bermanfaat kita juga mendapatkan banyak hal, mulai dari pengecekan amalan yaumiyah (amalan ibadah sehari-hari), belajar menyampaikan materi (biasanya dalam bentuk kultum), dimulai dengan tilawah, dibiasakan untuk infaq, dan biasa diakhiri dengan diskusi terkait masalah-masalah yang ada. Yang membuat mentoring ini menarik adalah, kita tidak hanya datang atua mengikuti sekali atau dua kali pertemuan saja tetapi rutin setiap pekan dengan tanpa ada batasan waktu. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dihindari seorang aktivis dakwah adalah: Lemahnya aspek tarbiyah Porsi terbatas dari aspek tarbiyah dibanding aspek-aspek lainnya mengalahkan segala hal. Menyebabkan aktivitas-aktivitas dari seorang aktivis menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani juga kesegaran ruhani. Perhatian setiap individu, baik sebagai bawahan maupun atasan, terhadap tarbiyah seharusnya menjadi kesibukan utama bagi pergerakan. Landasan Q.S Muhammad: 17 Tidak Proporsional dalam memposisikan anggota Problem ini selalu mengantar pada kegagalan aktivitas dan bergugurannya sebagian aktivis. Pergerakan yang profesional dan matang adalah pergerakan yang mengetahui kemampuan, kecenderungan, dan bakat para anggotanya. Juga, mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka. Jika tidak, maka tidak akan dapat pergerakan memposisikan anggotanya dengan tepat dan tidak terisinya tiap pos aktivitas secara benar dan baik. Tidak memberdayakan semua anggota Menyebabkan aktivitas menjadi menumpuk pada kelompok tertentu, sementara mayoritas tidak mendapat tugas sehingga muncul rasa tidak produktif karena lemahnya ikatan keanggotaannya. Lemahnya Kontrol Anggota pergerakan juga menghadapi situasi sulit, krisis, dan aneka ragam problem. Hal ini menuntut adanya perhatian dan kontrol terhadap anggota. Sehingga muncul kemampuan mengatasi berbagai problem dan krisis yang menimpanya. Landasan H.R Muslim. Kurang sigap dalam menyelesaikan persoalan Hal ini dapat mengakibatkan semakin rumitnya persoalan serta mengantarkan pada jalan buntu. Setiap pergerakan psti menemui persoalan yang butuh penyelesaian. Dan, setiap pergerakan memiliki cara dan bentuk tersendiri dalam menangani setiap persoalan tersebut. Penyelesaian harus dilakukan dengan sigap. Konflik Internal Bebrapa faktor yang menjadi penyebab munculnya konflik internal dapat memicu timbulnya konflik dalam pergerakan, dan meletupnya perselisihan. Bila tidak segera diselesaikan, maka akan mengakibatkan hancurnya pergerakan. Landasan pada Q.S Ali Imran 100-105 Pemimpin yang lemah Pemimpin yang lemah ketika ia hanya bisa memipin pada anggota dengan tingkat umur tertentu, tsaqofah tertentu dan pada situasi tertentu. Padahal adalah hal yang lumrah bahwa hal tersebut selalu mengalami perubahan setiap waktu. Perlu langkah cermat dan tepat dalam dakwah. Pendekatan dengan lemah lembut. Tidak boleh berputus asa dan terus berusaha. Tapi janan terpaku pada satu orang. “Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jika ada yang mudah.” Menghafal Nama merupakan hal yang penting yang melahirkan interaksi dan rasa saling percaya sesama individu. Langkah awal mengikat hati. Beberapa metode : tanamkan rasa suka menghafal nama orang lain, saat sedang berkenalan sigap menghafal namanya lalu mengingat-ingat dan menggunakan dalam percakapan, gunakan nama yang peling disukainya, saat berkenalan dengan yang baru ingatlah kenalan yang mempunyai nama sama agar mudah hafal, ingatkan wajahnya, waktu jumpa,dsb , untuk memantapkan bisa menuliskannya dan jika jarak jauh maka berkirim surat, ketika bertemu lagi ingatlah pertemuan-pertemuan sebelumnya, berkenalan dengan seseorang merupakan pintu untuk berkenalan dengan teman-temannya. Bagaimana Memulai Perkenalan; mulailah tanpa ragu dan jika mengetahui namanya, panggillah namanya. Kita mulai dengan menyebutkan nama kita untuk membangun kepercayaan. Tonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah SAW. Panggillah dengan nama kesukaannya. Berilah sanjungan dan ungkapkan yang kita ketahui tentang daerahnya, saudaranya, dsb. Sarana-Sarana Dakwah; Jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka caritahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mnundang maka penuhilah, jika ia bersin dan mengucap “hamdalah” maka jawablah (ucapkanlah “yarhamukallah”), jika meninggal dunia maka antarkanlah ke tempat pemakamannya. Langkah-langkah yang harus ditempuh; Bertasbih, bertakbir dan bertahlil, menyingkirkan duri di jalan, menolong orang tuli atau buta, menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang meerlukan pertolongan, menolong orang yang lemah, Penampilan seorang da’i; Getaran jiwa, pantulan wajah, kelebutan perasaan, penampilan yang simpatik, keimanan yang mendalam, pemahaman yang rinci dan syamil yang dimiliki seorang da’i. berpenampilan baik dan berakhlak mulia. Penampilan dan akhlak yang bak akan membuat orang yang beru saja memandang menjadi tertarik dan simpatik. Maka kita akan menjumpai ada sebagian orang yang menggantungkan kepercayaan melalui pandangan matanya. Pandangan kasih sayang adalah pandangan yang ditujukan pada hati dan mengajaknya bicara dengan lemah lembut. Apa yang disembunyikan dalam hati akan tersingkap dengan pandangan mata.

Komentar

Fresh