Tradisi Unik Perayaan Idul Adha | OPINI.id

Tidak banyak yang tahu kalau saat hari raya Idul Adha, umat Muslim di Indonesia tak hanya memotong hewan kurban saja, tapi juga ada beberapa tradisi unik yang masih dilakukan hingga saat ini.

Tradisi Ngejot

Sebagian besar orang Bali memang beragama Hindu. Namun bukan berarti masyarakat Muslim di Pulau Dewata ini tidak mempunyai tradisi yang spesial. Umat muslim di Banjar Angantiga di Desa Petang, Kecamatan Petang, Badung mempunyai tradisi "ngejot". Ngejot adalah saling berbagi makanan saat umat Islam maupun Hindu merayakan hari raya keagamaan. Ngejot merupakan tradisi untuk hidup berdampingan dengan damai bersama warga yang memiliki keyakinan yang berbeda. Tradisi seperti itu telah diwarisi turun temurun sejak 500 tahun silam, berkat adanya saling pengertian dan menghormati satu sama lainnya.

Tradisi Mepe Kasur

Masyarakat Osing yang tinggal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, mempunyai kebiasaan unik menjelang Idul Adha. Mereka melakukan tradisi "mepe kasur" atau menjemur kasur. Tradisi awal dzulhijah bagi masarakat Osing ini, dilakukan dengan menjemur kasur sejak pagi hingga tengah hari, alas tidur yang sebagian besar berwarna dasar hitam dengan tepi merah itu dipukul-pukul menggunakan sapu lidi atau rotan agar bersih. Masyarakat Osing meyakini dengan mengeluarkan kasur dari dalam rumah dapat membersihkan diri dari segala penyakit. Khusus bagi pasangan suami istri, tradisi ini bisa diartikan terus memberikan kelanggengan.

Tradisi Manten Sapi

Sehari menjelang Idul Adha, warga Desa Wates Tani, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur menggelar "manten sapi" atau pengantin sapi untuk menghormati hewan kurban yang akan disembelih. Sapi-sapi yang akan disembelih dimandikan dan dirias secantik mungkin. Setelah itu hewan ini diarak oleh warga kampung menuju masjid untuk diserahkan ke panitia kurban. Sementara itu ibu-ibu meramaikan acara ini dengan membawa peralatan rumah tangga dan berbagai bumbu dapur sebagai persiapan memasak usai penyembelihan sapi.

Tradisi Apitan

Menjelang Idul Adha, warga Kelurahan Sampangan, Kota Semarang, Jawa Tengah memiliki tradisi unik, yakni "sedekah bumi Apitan" dengan mengarak tumpeng dan hasil bumi di jalan raya. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun sampai sekarang. Tujuannya merupakan wujud ungkapan syukur kepada sang pencipta, Allah AWT atas limpahan rezeki kepada warga. Bentuk syukur itu disimbolkan dengan arak-arakan hasil bumi disusun bertumpuk. Arak arakan ini berujung di kantor kelurahan setempat. Di tempat ini prosesi tradisi Apitan selesai ditandai dengan pembacaan doa bagi keselamatan warga.

Tradisi Kaul Negri dan Abda'u

Setelah melaksanakan solat Idul Adha, penduduk di Negeri Tulehu, Maluku Tengah akan melakukan tradisi unik menggendong 3 kambing oleh para pemuka adat dan agama. Kemudian tiga kambing tersebut akan diarak diiringi lantunan shalawat dan takbir hingga tempat penyembelihan. Tradisi selanjutnya adalah tradisi abda’u dimana semua pemuda di desa Tullehu Ambon, berusaha memperebutkan bendera bertuliskan kalimat tauhid. Tradisi ini adalah bentuk ketulusan menerima Islam sebagai agama yang harus dijaga.

Tradisi Grebeg Besar

Kesultanan Yogyakarta biasanya menggelar "Grebeg Besar" di pelataran Masjid Gede Kauman sebelum hari raya Idul Adha. Grebeg tersebut merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh keraton kesultanan Yogyakarta. Biasanya acara tradisi grebeg besar Idul Adha diawali dengan keluarnya iringan pasukan keraton Yogyakarta. Mereka mengenakan seragam dan atribut beraneka warna sambil membawa senjata tradisional seperti tombak, keris, serta senapan kuno. Di belakang pasukan keraton selanjutnya muncul iring-iringan gunungan grebeg besar Idul Adha. Gunungan itu ada empat yakni gunungan lanang (laki-laki), gunungan wadon (perempuan), gunungan gepak, dan gunungan pawuhan. Iring-iringan pasukan keraton Yogyakarta dan empat gunungan keluar dari dari dalam keraton melewati Siti Hinggil, Pagelaran, dan menuju Alun-Alun Utara. Setelah tiba di Masjid Gede maka keempat gunungan itu akan didoakan terlebih dahulu oleh penghulu keraton. Selesai didoakan oleh penghulu keraton, dalam waktu sekejap, empat gunungan yang berisi hasil bumi langsung habis direbut oleh masyarakat.

Cis Tongkat Khutbah Sunan Gunung Jati Dikeluarkan

Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, juga memiliki tradisi untuk menyambut hari raya qurban. Tradisi yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu diawali dengan dikeluarkannya Cis tongkat khutbah Sunan Gunung Jati, sekitar pukul 06.00 WIB. Tongkat tersebut selama ini hanya disimpan di dalam Keraton Kasepuhan, dan tidak seorang pun boleh melihat apalagi memegang benda pusaka yang berusia sekitar 700 tahun tersebut. Tongkat itu memiliki panjang sekitar 1,20 meter dan hanya dibawa khotib ketika sholat Idul Fitri maupun Idul Adha. Tongkat tersebut terbuat dari semacam kayu hitam yang diulir dengan logam pada setiap ujungnya. Tongkat pun selanjutnya dibawa ke Langgar Agung dan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Setelah shalat Ied, Sultan dan keluarganya menyaksikan gamelan sekaten di Siti Inggil. Gamelan tersebut hanya dibunyikan dua kali dalam setahun, yaitu saat Idul Adha dan Idul Fitri. Usai menyaksikan gamelan sekaten, diadakan pemotongan hewan kurban. Setiap Idul Adha, pihak keraton juga menggelar hajat nasi atau menyediakan masakan dan lauk pauk yang dibagikan bagi masyarakat.

Komentar

Fresh