Masih Percaya Politik? | OPINI.id

Jelang Pilkada putaran kedua, banyak isu black campaign yang dijalankan oleh salah satu paslon. Sebenarnya, semua itu bisa jadi hanya strategi.

Apa Benar Politik Itu Kotor?

Ini adalah sebuah seni dan ilmu buat meraih kekuasaan secara konstitusional ataupun nonkonstitusional. Image politik sendiri khususnya di Tanah Air kita, udah pasti kotor guys. Sebenarnya sedikit keliru jika banyak orang yang beranggapan kalau politik itu kotor.

Menurut sudut pandang saya sendiri, politik jadi kotor karena ulah para pelaku di dalamnya. Mereka semua kerap kali menggunakan taktik strategi busuk dan kotor demi meraih simpati dan kemenangan di mata masyarakat. Bahkan, karena strategi kotor dalam dunia politik, nggak sedikit banyak pertumpahan darah terjadi.

Politik Pasti Makan Korban

Tidak sedikit korban politik kotor di Indonesia terjadi. Sebut saja seperti penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Bareskrim beberapa tahun lalu.

Banyak yang beranggapan ini adalah bentuk dendam kesumat Polisi sama KPK. Bahkan media sampai ramai membuat berita dengan topik Cecak vs Buaya.

Spanduk Kontroversi Bukti Politik Kotor

Masih ingatkah kalian dengan spanduk kontroversi yang sempat mencoreng nama Islam? Ya, spanduk tolak salatkan jenazah sesama muslim yang mendukung Gubernur Ahok sang penista agama jadi gempar.

Ada yang setuju, dan ada juga yang anggap jika ini sudah melewati batas. Sebelum Pilkada DKI dimulai, pamor Ahok sempat turun karena kasus Al-Maidah.

Namun, kegigihannya melakukan blusukan di berbagai wilayah yang sempat ditolak oleh sebagian orang Islam yang ternyata adalah sekumpulan orang-orang yang pro kubu lawannya justru menghadirkan simpati buat Ahok.

Nah, darisini ada kesimpulan saya sendiri. Bisa jadi spanduk tolak salatkan jenazah ini datangnya dari kubu paslon itu sendiri. Tujuannya gak lain biar dapat simpati warga Jakarta. Ini hanya asumsi loh.

Black Campaign Putaran Kedua!

Saat media sosial lagi tenang, muncul lagi isu baru. Kali ini posisi pasangan yang dizalimi adalah paslon nomor 3 yaitu Anies Sandi. Black campaign itu gak lain adalah sebuah brosur.

Isi brosurnya gak lain berita negatif tentang paslon Anies dan Sandi. Mulai dari janji yang dianggap tidak mungkin terealisasi kalau mereka menang jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Bahkan rumornya, bagi distributor yang mau menyebarkan brosur negatif pasangan Anies dan Sandi ini bisa medapatkan Rp 20 juta loh! Lucunya selain brosur yang berisikan berita negatif Anies dan Sandi, ditemukan juga brosur pasangan Ahok dan Djarot yang berisi berita positif. Kalau bisa saya simpulkan lagi sebagai orang bodoh.

Bisa juga ini adalah strategi paslon 3 untuk kembali mendapatkan simpati warga DKI Jakarta. Ingat dalam politik, tidak ada yang pasti. Semuanya bisa berubah dalam sekejap.

Mari kita sebagai warga Jakarta harus bisa lebih pintar, membaca, menyebarkan, dan juga menyaksikan Pilkada putaran kedua nanti.

buat yang males googling .. politik itu gak kotor. Tapi bisa jadi ada cara-cara kotor yang dipakai.

Komentar

Fresh