Ritual Ogoh Ogoh | OPINI.id

Jelang Hari Raya Nyepi, masyarakat di Bali adakan ritual tawur kesangan yang salah satunya menyajikan arak-arakan dan membakar ogoh-ogoh.

Ogoh Ogoh...

Jelang perayaan Nyepi, masyarakat Hindu di Bali adakan ritual tawur kesanga. Salah satu aksinya adalah mengarak dan membakar ogoh-ogoh. Ogoh-Ogoh atau celuluk adalah leak yakni sebutan bagi makhluk halus yang digambarkan dalam wujud menakutkan yang merupakan anak buah dari Rangda (ratu dari pada Leak).

Sedangkan menurut versi lainnya, Ogoh-ogoh adalah sebuah karya seni patung dalam kebudayan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tidak terukur dan terbantahkan.

Sejarah Ogoh-Ogoh

Versi cerita kemunculan ogoh ogoh di Bali memang banyak. Salah satunya ada yang menyebutkan jika Ogoh-ogoh muncul sejak jaman Dalem Balingkang.

Pada masa itu, ogoh-ogoh digunakan saat upacara Pitra Yadnya yang merupakan upacara pemujaan kepada roh leluhur. Sedangkan cerita lainnya adalah barong landung.

Wujud dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasutri yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal bakal hadirnya ogoh-ogoh. Terlepas apapun itu, ogoh-ogoh adalah salah satu bentuk kreativitas masyarakat Bali yang tidak akan mati ditelan kemajuan zaman.

Ogoh-ogoh Jalak Bali dibuat oleh yayasan Bengawan dan populer di kalangan kalangan siswa sekolah dasar Bali.

null

Ogoh-Ogoh Jalak Bali dibuat untuk tujuan meningkatkan kesadaran terhadap status Jalak Bali yang terancam punah.

null

Parade Ogoh-ogoh di Tegallalang

Desa Tegallalang yaitu daerah pusat seni di pinggiran Kota Gianyar Bali. Warga di sana begitu antusias menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Mereka bahkan lebih awal berparade mengarak Ogoh-Ogoh dibandingkan desa lain di Bali yang pada umumnya sehari sebelum Hari Nyepi. Foto dan Teks: Nyoman Budhiana

Ogoh-ogoh Tegallalang

Sejak siang hari warga Tegallalang, Gianyar, Bali berkumpul dalam tujuh kelompok karang taruna membuat persiapan atraksi arak-arakan Ogoh-ogoh untuk malam harinya. Ogoh-ogoh atau boneka raksasa merupakan penggambaran sosok raksasa atau monster menyeramkan yang dapat mengganggu manusia. Sejatinya, monster itu adalah cerminan hal-hal negatif yang dapat meracuni pikiran, perbuatan dan perkataan.

Makna Ogoh-ogoh bagi Warga Tegallalang

Tujuan utama parade ogoh-ogoh adalah untuk menetralisir berbagai hal negatif di alam, baik alam semesta/ lingkungan atau disebut "Bhuana Agung" maupun dalam diri manusia atau "Bhuana Alit" sebelum menjalankan ibadah Nyepi. Meski wajah menyeramkan, para remaja di Tegallalang, Gianyar mampu merancang boneka raksasa itu begitu artistik, seakan-akan monster-monster itu nyata hidup saat diarak di jalan raya.

Ogoh-ogoh Diarak Keliling Kampung

Ribuan warga dari tujuh kelompok masyarakat di Tegallalang, Gianyar meluapkan kegembiraan, riuh dengan diiringi gamelan mengarak hasil kreativitas seninya itu berkeliling kampung untuk mengembalikan kekuatan negatif itu ke alamnya.

Persaudaraan dalam Parade Ogoh-ogoh

Selain untuk ritual tolak bala, parade ogoh-ogoh juga menjadi ajang adu kesenian sekaligus memupuk persaudaraan di antara mereka. Sehingga ratusan wisatawan domestik dan mancanegara hadir berbaur di lokasi itu untuk menyaksikan tradisi tahunan itu.

Ogoh-ogoh Menyambut Nyepi

Secara keseluruhan di Bali, sedikitnya ada 7.000 ogoh-ogoh telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya di 1.480 desa adat tahun 2017 ini. Arak-arakan akan berpuncak pada Hari Pengerupukan yaitu sehari menjelang Hari Raya Nyepi.

Parade Ogoh-ogoh hingga Malam

Arak-arakan berlangsung sore hingga malam hari yang menjadi rangkaian upacara Tawur Kesanga yakni ritual kurban untuk menetralisir hal-hal negatif sehingga alam menjadi hening dan damai keesokan harinya.

Empat Pantangan Nyepi

Pada Hari Raya Nyepi suasana hiruk-pikuk di Pulau Dewata akan terhenti total selama 24 jam. Umat Hindu menjalankan empat pantangan yaitu tidak bepergian, tidak menggunakan api, tidak menikmati hiburan, dan tidak bekerja.

Ogoh-ogoh di Tegallalang

Desa Tegallalang yaitu daerah pusat seni di pinggiran Kota Gianyar Bali, tiba-tiba begitu ramai dan riuh. Warga di sana begitu antusias menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Mereka bahkan lebih awal berparade mengarak ogoh-ogoh dibandingkan desa lain di Bali yang pada umumnya sehari sebelum Hari Nyepi.

Komentar

Fresh