98% Optimisme Pebisnis Indonesia | OPINI.id

Bisnis Indonesia tetap sangat optimis di angka 98%, tertinggi di antara negara-negara lain yang disurvei oleh IBR.

Tingginya Optimisme Pelaku Bisnis Indonesia 98% Disaat Lemahnya Optimisme Pebisnis Global

Jakarta, menurut penelitian yang terbaru dari International Business Report (IBR) Grant Thornton, kekhawatiran yang berkembang atas fluktuasi nilai tukar di kalangan bisnis Asia Tenggara (ASEAN) mengancam untuk membalikkan pandangan positif mereka. Meskipun ada penurunan global dalam optimisme bisnis, kepercayaan meningkat di ASEAN, mencapai tingkat tertinggi yang pernah dicatat oleh IBR pada Q2 2018. Sebenarnya optimisme bisnis meningkat di seluruh ASEAN, IBR mengungkapkan bahwa optimisme bisnis di antara bisnis ASEAN duduk di 64% di Q2 2018. Ini naik tiga poin persentase dari Q1 dan dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 46%. Di Malaysia, optimisme bisnis telah melonjak 24pp menjadi net 52% di Q2, sementara di Filipina telah meningkat 8pp menjadi bersih 82%. Bisnis Indonesia tetap sangat optimis di angka 98% - tertinggi di antara negara-negara yang disurvei. Ini adalah tingkat optimisme bisnis tertinggi yang pernah dicatat oleh IBR di wilayah tersebut. Pencapaian yang terbaru adalah puncak dari empat kuartal pertumbuhan berturut-turut dalam optimisme dan mencerminkan kerjasama ekonomi regional yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir setelah pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Berdasarkan hasil IBR tersebut, terlihat optimisme pelaku bisnis di Indonesia bertahan di angka 98 persen, yang menjadikannya sebagai tingkat optimisme bisnis tertinggi di dunia. Optimisme pelaku bisnis di Indonesia juga jauh di atas rata-rata ASEAN, yang berada di angka 64 persen dan Asia Pasifik di angka 55 persen. Selain itu, IMF memperkirakan pertumbuhan 5% dalam PDB ASEAN dari 2018 sampai hingga 2023, meningkat sedikit dari 5,3% pada 2018 menjadi 5,5%. Tingkat optimisme tidak diragukan didorong ke atas oleh pertumbuhan Cina yang berkelanjutan, mitra dagang dekat bagi banyak perekonomian di kawasan itu. Data IBR menunjukkan bahwa meskipun peningkatan keseluruhan optimisme bisnis ASEAN, di Singapura itu sedikit menurun dari 34% menjadi 32% dan di Thailand dari 16% menjadi 2%. Selanjutnya, nilai tukar bukan satu-satunya hambatan potensial pada kepercayaan. Ekspektasi untuk peningkatan lapangan kerja di seluruh wilayah telah turun dari 37% menjadi 31% - terendah sejak akhir 2016. Ini mengungkapkan gambaran yang lebih kompleks di kawasan ini meskipun skor optimisme rekornya. Untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membangun industri manufaktur berdaya saing global melalui percepatan implementasi revolusi industri ke-4 atau Industri 4.0 yang diluncurkan di awal kuartal II tahun ini. Implementasi Industri 4.0 akan ditopang lima teknologi utama, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotic dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menaikkan tarif bea masuk 1.300 produk teknologi industri, transportasi, dan medis dari Tiongkok, yang langsung direspons pemerintah Tiongkok dengan menerapkan tambahan tarif bea masuk untuk 106 produk impor dari Amerika, terutama produk pertanian, mobil, hingga pesawat terbang. Prediksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun ini yang berada di kisaran 2-3 persen, diyakini para ekonom justru merasakan imbas yang lebih buruk akan adanya perang dagang dibandingkan pelaku bisnis di Tiongkok dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.

Komentar

Fresh