Nikmat Ngupil Bikin Kecanduan, Bahaya ! | OPINI.id

Berdasarkan penelitian, mayoritas orang mengupil sembunyi-sembunyi karena secara budaya menuntut mereka demikian. Tapi kenapa sih mengupil itu bisa terasa enak? Kamu bisa mengetahuinya secara lengkap di sini! Oh iya, hasil penelitian ini bahkan menang penghargaan nobel lho! Wow! Yuk, lanjut!

Asal Muasal Mengupil

Kebiasaan mengupil telah dilakukan sejak zaman Romawi kuno, dalam sebuah lembaran papirus yang tercatat sekitar tahun 1330 SM, tercatat bahwa Firaun Tutankhamen memiliki pelayanan khusus yang bertugas mengambil kotoran hidung sang Firaun. Sebagai imbalannya, petugas khusus itu mendapat bayaran tiga ekor ternak. Di masa sekarang, orang membersihkan kotoran hidungnya dengan jari sendiri. Karena aktivitas itu sering dilakukan, sebagian orang menjadikan mengupil sebagai kebiasaan. Mungkin karena dirasa nikmat, beberapa orang pun menganggap aktivitas mengupil sebagai kesenangan. Penelitian pertama di dunia terkait kegiatan mengupil itu dilakukan pada tahun 1995 oleh sepasang peneliti bernama Thompson dan Jefferson. Mereka mengirimkan survey melalui surat kepada para penduduk dewasa daerah Dane, Wisconsin. Setidaknya 91 persen responden menyatakan mereka rutin mengupil dan 1.2 persen menyatakan mereka melakukannya minimal sekali dalam satu jam.

Rhinotillexomania

Secara umum, rhinotillexomania adalah orang yang secara psikologis sangat menikmati kepuasan jika mengupil, hingga baginya aktivitas itu bukan sekedar membersihkan sisa kotoran di hidung, tapi suatu kebiasaan yang memberikan efek lebih kepada pengidapnya. Ada beberapa responden yang bahkan sampai mendapat julukan "tukang ngupil" karena saking seringnya orang tersebut mengupil. Ada juga yang saking terlalu kebiasaan mengupil sampai merobek nasal septum, jaringan tipis yang memisahkan jalur lubang hidung kanan dan kiri.

Dapat Berdampak Buruk

Seluruh responden remaja mengaku mereka mengupil dengan sering, 12 persen dari mereka menyatakan mereka melakukannya karena terasa enak. Mereka bahkan menggunakan alat bantu lain ketika jari dirasa sudah kurang memberikan rasa lega. Ada yang menggunakan pinset, pensil, pulpen dan benda panjang ramping apapun sekitar mereka yang bisa mereka gunakan untuk mengupil. Rasa enak ini muncul akibat syaraf-syaraf di sekitar bulu hidung yang terstimulus dengan gerakan tarikan dan gesekan. Andrade dan Srihari menemukan ada wanita berusia 53 tahun yang mengalami kelainan mengupil kronis. Saking ekstrimnya ia sampai tidak sengaja membuat lubang ke sinusnya. Sama halnya dengan pria berusia 29 tahun yang ketagihan menarik bulu hidung (trichotillomania) sekaligus ketagihan mengupil (rhinotillexomania). Sampai para dokter harus menciptakan istilah baru untuk yang mengidap keduanya rhinotrichotillomania.

Persentase pria lebih tinggi kecanduan mengupil daripada wanita

Seperti hal nya menggigit kuku atau menarik bulu hidung itu bisa digolongkan pertanda atau tahap awal obsessive compulsive disorder (OCD) dan untungnya mengupil itu gak termasuk. Namun bukan berarti mengupil gak menimbulkan resiko kesehatan. Semakin tinggi frekuensi mengupil seseorang, semakin tinggi risiko penyebaran bakteri Staphylococcus aureus di dalam hidungnya. Perasaan takut ketahuan saat mengupil karena berusaha menjaga image itu menambah rasa "enak" pada aktivitas mengupil tersebut. Secara psikologis, orang akan merasa puas melakukan sesuatu yang nyaman atau enak dan "terlarang", tapi bisa dijalani dengan sukses. Jangan-jangan kamu juga begitu ya?

Hayo jangan-jangan kamu pengidap rhinotillexomania ?
kayanya sih gitu
wo engaa dong
0 votes

Hayo jangan-jangan kamu pengidap rhinotillexomania ?
kayanya sih iya
wo engga dong
3 votes

Hayo jangan-jangan kamu pengidap rhinotillexomania ?
iya kayanya deh
wo enggak dong
198 votes

Komentar (2)

Fresh