muhammad fiqri | OPINI.id

IMF dan KONSPIRASI

IMF dan KONSPIRASI

IMF (international monetary fund) adalah organisasi internasional yang beranggotakan 189 negara yang bertujuan mempererat kerjasama moneter global, memperkuat kestabilan keuangan, mendorong perdagangan internasional, memperluas lapangan pekerjaan sekaligus pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia. Secara sekilas kita memandang hal ini tentu sangatlah baik dan mungkin harus turut bergabung dalam organisasi ini. Namun beberapa fakta mengejutkan yang belum kita ketahui tentang organisasi ini adalah tentang langkah dan dan program mereka yang sangat bertolak belakang dengan visi dan misi organisasi ini. Contoh besar nya adalah salah satu alasan kuat di berhentikan nya proyek IPTN (industry pesawat terbang nurnatio) yang dikelola oleh seorang jenius dari tanah air kita B.J. habibie, adalah IMF. Proyek besar dalam sejarah bangsa Indonesia yang terpaksa di berhentikan tersebut cukup mengecewakan habibie dan seluruh kru IPTN. Ribuan karyawan iptn pun terpaksa harus tersebar ke Negara lain untuk mencari nafka. Sebenarnya, misi IMF dalam memasuki suatu Negara tidak lain adalah untuk menghancurkan lembaga sosial ekonomi Negara tersebut dengan berkedok peminjaman uang. Joseph stiglitz, mantan kepala tim ekonomi bank dunia, mengatakan bahwa IMF biasa nya melakukan program nya dengan 4 langkah. 1. Lahngkah pertama adalah program ‘privatisasi’ yang menurut stiglitz lebih tepat disebut dengan program ‘penyuapan’. Pada program ini, perusahaan-perusahaan milik Negara penerima bantuan milik IMF harus di jual kepada swasta dengan alasan untuk mendapatkan dana tunai segar. Pada tahapan ini, menurut stiglitz, “kita bisa melihat bagaimana mata pejabat keuangan di Negara penerima bantuan ini terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa miliah dolar akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi mereka, yang sesungguh nya diambil dari penjualan asset nasional mereka tadi.” 2. Langkah kedua yaitu ‘liberalisasi pasar modal’. Dalam teorinya, deregulasi pasar modal memungkinkan modal investasi untuk mengalir keluar masuk. Namun, meningkat nya modal investasi dari luar akan menguras cadangan devisa Negara penerima bantuan, sehingga Negara tersebut akan mengimpor asset dari Negara-negara yang di tunjuk oleh IMF. Malang nya lagi, dalam kasus Indonesia dan brazil, menurut stiglitz , modal itu hanya keluar dan keluar, tidak pernah kembali. Hal ini membuat suku bunga tinggi dan mengakibatkan hancurnya nilai properti, memangsa produksi industri, dan mengeringkan dana nasional. Pemasukan modal investasi dari luar, meskipun tampak nya membantu memperluas kesempatan kerja, kenyataan nya persyaratan itu telah membunuh usaha bumi putra setempat. Pada akhirnya, usaha rakyat negri sendiri jatuh bergelimpangan, karena belum mampu bersaing dengan luar, khususnya dalam hal pemasaran. Acap kali kebijakan seperti itu mengakibatkan penutupan pabrik-pabrik, karena pemerintah tuan rumah dan sector swata domestic tidak cukup membeli modal. Contoh yang paling mutakhir adalah bangkrutnya ekonomi argentina pada januari tahun 2002 yang mengakibatkan kekacauan politik dan sosial. 3. Langkah ketiga, yaitu ‘pricing –penentuan harga sesuai pasar-‘, sebuah istilah yang berlebihan untuk program penaikan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih, dan BBM. Tahapan ini sudah dapat di prediksi akan menuju ke langkah berikutnya, yang dinamakan oleh stiglitz sebagai ‘kerusuhan IMF’. Hasil kerusuhan IMF yakni IMF akan mengambil keuntungan dan memeras Negara debitur, seperti yang terjadi di Indonesia pada 1998. Menurut stiglitz, ketika itu IMF mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia, yang akhirnya menimbulkan kerusuhan di Indonesia. ‘kerusuhan IMF’ (yang dimaksud ‘kerusuhan’ disini adalah demonstrasi damai yang dibubarkan dengan gas air mata, peluru, dan tank) menyebabkan kepanikan baru yang berakibat pelarian modal (capital flight) dan kebangkrutan pemerintah setempat. Kebakaran ekonomi ini mempunyai sisi terang, tapi hanya untuk perusahaan asing. Mereka mendapat kesempatan unruk menyabet sisa asset yang sedang kacau balau itu, seperti konsesi pertambangan, perbankan, perkebunan, dan lain sebagainya dengan harga obral besar-besaran. 4. Langkah keempat, yaitu pasar bebas, atau yang disebut sebagai “strategi pengentasan kemiskinan” oleh IMF dan bank dunia. Menurut WTO (world trade organization – organisasi perdanggan dunia) dan bank dunia, ‘pasar bebas’ disamakan dengan ‘pasar candu’. Konsep tersebut bertujuan untuk membuka pasar. Sebagai akibat program ‘pasar bebas’, para pengusaha kapitalis local dan bank local terpaksa meminjam dengan suku bunga mencapai 60%. Tak hanya itu, mereka juga harus bersaing dengan barang-barang impor dari amerika serikat atau eropa, dimana suku bunga berkisar tidak lebih dari 6-7%. Program semacam inilah yang mematikan kaum kapitalis local. Sebagian besar pulic terutama pemerintah Negara-negara dunia ketiga, masih memandang IMF dan bank dunia sebagai lembaga dengan wajah yang manusiawi, “turut serta dalam menghapuskan kemiskinan”. Namun kenyataannya, IMF lebih sukses berperan menciptakan kemiskinan Negara-negara berkembang, dari pada mengatasi kemiskinan itu sendiri. --Muhammad Fikri— MAHASISWA STEI SEBI DEPOK

Komentar

Fresh