22 Menit, Terinspirasi Kisah Nyata | OPINI.id

Film hasil karya anak bangsa bertajuk 22 Menit The Movie, menceritkan tentang kekejaman dan kebiadaban teroris radikal di Indonesia, serta perlawanan masyarakat bersama pihak kepolisian.

22 Menit, Terinspirasi dari Kisah Nyata

Film 22 Menit The Movie adalah sebagai bentuk dukungan dan penghormatan kepada para korban tragedi bom Thamrin yang tepatnya terjadi di daerah Plaza Sarinah, Jakarta. Serangan teroris itu merupakan serentetan peristiwa ledakan bom sedikitnya emam ledakan, dan penembakan di daerah Plaza Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, tepatnya pada tanggal 14 Januari 2016 lalu. Ledakan terjadi di dua tempat, yakni daerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah, dan sebuah pos polisi di depan gedung tersebut. Sedikitnya delapan orang (empat pelaku penyerangan dan empat warga sipil) dilaporkan tewas dan 24 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Tujuh orang terlibat sebagai pelaku penyerangan, dan organisasi Negara Islam Irak dan Syam mengklaim bertanggung jawab sebagai pelaku penyerangan bom itu. Serangan di Sarinah merupakan serangan pertama setelah Bom Jakarta 2009 yang menewaskan 9 orang termasuk dua pelaku yang merupakan anggota Jemaah Islamiyah. Jemaah Islamiyah sendiri merupakan organisasi terorisme di bawah al-Qaeda yang bertujuan menyatukan Indonesia, Malaysia, dan wilayah selatan Filipina ke dalam sebuah negara Islam. Sejak kasus Bom Bali I pada tahun 2002 lalu, Indonesia mulai melangkah lebih maju untuk memberantas aksi terorisme di Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia mengesahkan Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Terorisme. Sebuah badan yang khusus memberantas aksi terorisme dibentuk pada tahun 2010 dengan nama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Juru bicara Kepolisian Republik Indonesia mengatakan, kepolisian menerima informasi pada bulan November 2015 bahwa Negara Islam Irak dan Syam memberi sinyal akan menyerang Indonesia. Hal ini dikuatkan oleh laporan dari Institute for Policy Analysis of Conflict, lembaga kajian konflik di Indonesia asal Jakarta, bahwa sedikitnya ada 50 Warga Negara Indonesia yang pergi secara diam-diam ke Suriah untuk bergabung dengan organisasi NIIS. Film ini dibuat sebagai Film dokumenter sebagai bentuk perlawanan terhadap teroris, karena dalam Film ini menggambarkan peristiwa bagaimana para aparat kepolisian dan masyarakatat dalam usahanya memerangi teroris. Trailer film documenter ini sendiri diposting langsung melalui akun instagram resmi DIT RESKRIMUM POLDA METRO JAYA @ditreskrimumpmj yang direncanakan akan tayang pada bulan Juli mendatang. Sang Sutradara Eugene Panji, yang sebelumnya menggarap film Naura and The Genk itu, juga mengungkapkan sebagian dari penjualan tiketnya akan diberikan kepada korban Bom Thamrin, baik yang mengalami luka, maupun yang meninggal dunia. Hal itu menjadi penting baginya, karena ia melihat selama ini tidak banyak pihak yang dinilai peduli atas kehidupan para korban dan keluarga korban bom di Indonesia. "Kami sepakat sebagian penjualan tiket, akan kami sumbangkan untuk korban bom. Sebagai bentuk rasa kepedulian kami kepada mereka," jelasnya.

Komentar

Fresh