Protes Kenaikan Tarif Tol | OPINI.id

Ibarat puncak, itulah gambaran tarif tol Jakarta yang kunjung naik dan terus naik. Pemerintah akan menaikan
tarif Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Tentu saja hal ini tuai kritikan dan berujung pada penundaan.

Eit, tapi ini bukan berarti pemerintah batal menaikan tarif tol loh! Hanya ditunda saja. Waduh makin jebol deh kantong nih.

foto:liputan6

Tarif Mahal Tol Hanya Jadi Beban Ekonomi Masyarakat

Mungkin bagi sebagian orang yang tidak membawa kendaraan mobil setiap hari, kebijakan rencana kenaikkan tarif tol bukan masalah. Tapi bagi para pengendara mobil tentu saja ini akan menjadi beban ekonomi yang lebih besar. Ya, meskipun ditunda, tapi rencana kenaikkan tarif ruas Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) tetap akan dilaksanakan. Jika terjadi, lagi dan lagi, ini akan jadi bebas ekonomi masyarakat. Khususnya bagi pengendara mobil yang memang di tempat tinggalnya belum tersedia sarana transportasi yang memadai untuk sampai di tempat kerja. Rencana kenaikkan tarif tol ini juga diprotes sosok kontra pemerintahan Jokowi yaitu Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Menurutnya, kebijakan ini gak punya dasar kalkulasi yang kuat. Sehingga hanya akan menguntungkan BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) dan jadi beban ekonomi masyarakat.

Kenaikkan Tol Menyalahi Regulasi!

Mesipun pihak BPJT menyampaikan dua alasan kenaikan tarif tol yang isinya berbunyi. Pertama, mendorong agar mobil angkutan barang bisa patuhi aturan muatan dan dimensi. Kedua, mempersingkat waktu tempuh yang dijalani pengguna jalan tol karena gerbang tol yang dilewati berkurang. Tapi tetap saja menurut Fadli Zon, kebijakan ini sangat menyalahi regulasi. Alhasil, bongkar isi dapur BUJT pun jadi santapan media terkait rencana kenaikkan tarif ruas Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Menurut Fadli Zon, dua alasan ini sekilas memang pro rakyat, tapi sebenarnya ada niat untuk menggenjot keuntungan. Oleh karena ini ini dianggap menyalagi regulasi. Dalam UU No.38 Tahun 2004 tentang Jalan, memang benar evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap 2 (dua) tahun sekali. Penyesuaian terakhir terjadi tahun 2015. Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan. Dalam pasal 48 ayat (1), tarif tol dihitung berdasarkan tiga hal, yakni kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan biaya operasi kendaraan (BKBOK) dan kelayakan investasi. Ia pun mempertanyakan apakah kenaikan tarif tol ini telah dihitung berdasarkan tiga komponen tersebut. “Dengan tarif Rp15.000, dari yang awalnya Rp 9.500, artinya telah terjadi kenaikan sebesar 57 persen. Lantas, apakah laju inflasi kita sebesar itu? Bukannya pemerintah selalu membanggakan keberhasilannya dalam menekan laju inflasi dalam tiga tahun terakhir. Inflasi 2016 yaitu 3.06 persen, dan 2017 3,61persen," ungkapnya. Padahal sepanjang tahun 2017, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 35,09 triliun. Meningkat 110,62 persen dibanding pendapatan di 2016, Rp 16,66 triliun.

Kamu setuju gak dengan rencana kenaikkan tarif tol yang akan dilakukan pemerintah?
Gak setuju, tambah jadi beban
Setuju, asal tol lancar
105 votes

Komentar (1)

Fresh