Makna Dibalik Tradisi Saprahan | OPINI.id

Mungkin tidak banyak generasi muda masa kini yang mengetahui tradisi Saprahan ini, bahkan orang-orang melayu generasi muda Kalimantan Barat-pun banyak yang sudah tidak mengenalnya lagi.

Padahal dalam tradisi Saprahan mengandung filosofi bernilai tinggi yang harus diketahui generasi muda bangsa ini.

Apa itu Saprahan?

Jika bangsa Eropa mengenal istilah table manner sebagai bentuk tata cara formal menyantap hidangan, maka masyarakat Melayu Kalimantan Barat khususnya di Pontianak, Mempawah, dan Sambas-mengenal istilah saprahan. Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu. Saprahan berasal dari kata "Saprah" yang artinya berhampar. Tradisi makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari 6 sampai 10 orang dalam satu kelompoknya.

Beralaskan Kain Saprah

Makan saprahan identik dengan makan melantai yang menggunakan kain saprah sebagai alas piring makanannya. Panjang kain saprah minimal 2 meter, ukuran ini dapat menampung 6 atau 10 orang yang duduk saling berhadapan. Duduk berhadapan biasa disebut saf ini terbagi dalam 3 saf. Saf-saf ini diatur menurut strata sosial dari para undangan, atau kedudukan mereka di masyarakat. Namun biasanya saf pertama akan diisi oleh pejabat atau pemuka agama, saf kedua kerabat dan keluarga serta saf ketiga adalah masyarakat umum atau undangan.

Penyajian Menu Dalam Saprahan

Penyajian makanan akan dibagi tiga gelombang atau tiga sesi hidangan yang berbeda yang disajikan pada acara saprahan. Biasanya, gelombang pertama akan disajikan nasi putih, sayur Ikan pedas, sambal belacan (sambal terasi), ayam, ikan asin, pisang raja atau pisang hijau. Bahkan juga ditambah dengan makanan khas cencalok (anak udang halus yang diberi sambal) dan buduk. Gelombang kedua akan disajikan berupa hidangan pencuci mulut, kue-kue dengan segelas kopi dalam ukuran cawan kecil disebut dengan kopi makjande. kue bingke berendam, belodar, dan roti kap. Gelombang ketiga, hidangan yang dikeluarkan adalah air serbat (air yang terbuat dari ramuan berwarna merah hati). Sajian air serbat (aek penguser) ini sekaligus sebagai tanda bahwa acara sudah berakhir dan undangan bisa meninggalkan tempat jamuan.

Kebersamaan

Biasanya makan saprahan dilakukan pada acara-acara tertentu, misalnya pernikahan atau acara tradisi lainnya. Mempersiapkan tradisi saprahan memerlukan kerjasama dan kebersamaan. Oleh karena itu, orang-orang Melayu di Kalimantan Barat biasa bergotong royong untuk mempersiapkan saprahan ini. Orang-orang yang terlibat akan membutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk mempersiapkan acara saprahan. Selain kebersamaan, makan saprahan juga mengandung arti kesetaraan (berdiri sama tinggi, duduk sama rendah), keramahtamaan dan persaudaraan/toleransi yang erat.

Gotong Royong

Tradisi saprahan adalah budaya dengan gotong royong yang sangat tinggi. Setiap ada orang yang mau mengadakan acara, biasanya seisi kampung akan bahu-membahu dalam acara ini dan tidak menuntut imbalan apa pun. Apa yang mereka lakukan murni dalam rangka kebersamaan. Hal ini telah dilakukan turun-temurun dan sudah menjadi ciri bagi suku Melayu Sambas, Pontianak maupun Mempawah. Gotong royong adalah ciri dari kehidupan bersosial dalam bangsa kita.

Kesetiakawanan

Saat ini ditengah-tengah generasi muda, kesetiakawanan sudah jadi barang langka. Seringkali kesetiakawanan cenderung diartikan atau dipraktekkan dalam kegiatan yang negatif. Berbeda halnya dalam tradisi saprahan, kesetiakawanan adalah salah satu hal utama yang diwariskan karena tanpa hal ini tak akan ada istilah saling bantu. Sepertinya, kita harus kembali memupuk semangat ini dalam kehidupan anak muda generasi milenial.

Kesetaraan Bagi Semua Orang

Tradisi saprahan mengajarkan tentang kesetaraan bagi setiap manusia. Filosofi berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah menjadi legitimasi hal ini. Kesetaraan artinya memperlakukan semua orang sama. Menghargai seorang manusia tidak dinilai dari posisi, uang, penampilan atau apa pun itu. Memanusiakan manusia berarti menilai dan memperlakukan manusia karena kemanusiaannya.

Sopan Santun

Banyak filosofi yang terkandung dalam budaya makan saprahan. Dari sisi etika yakni menghormati orang yang lebih tua, menghargai pimpinan atau orang yang dihormati. Dalam tradisi saprahan dikenal juga bagaimana berbicara santun dan bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan dalam sebuah acara. Dalam kegiatan yang sama juga diajarkan bagaimana sikap duduk yang baik, kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk bersimpuh. Ada juga ada ketentuan adat yang harus dilakukan, misalnya pakaian yang dikenakan petugas yang menyajikan hidangan, cara berjalan, duduk serta bergerak saat acara berlangsung.

Mengajarkan Toleransi

Dalam tradisi saprahan tamu undangan bisa datang dari kalangan manapun. Tak memandang ras, suku, agama maupun etnis semuanya akan sama yaitu "berdiri sama tinggi, duduk sama rendah." Jika dalam kesehariannya semua undangan disibukkan dengan aktivitas masing-masing, maka melalui acara makan saprahan ini masyarakat bisa lebih saling mengenal, lebih akrab, memiliki sikap saling menghargai dan menghormati. Maka sikap toleransi antar sesama juga bisa tumbuh lebih baik.

Sumber:

https://bit.ly/2M57b6z https://bit.ly/2yt5MVs M. Natsir. S.Sos. M.Si, Peneliti Budaya Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak. https://bit.ly/2ysAg9R https://bit.ly/2JYpFsY https://bit.ly/2JVr17B

Komentar

Fresh