Indonesia di All England | OPINI.id

Kiprah Indonesia di ajang kejuaraan bulu tangkis Inggris terbuka All England patut diacungi jempol

Kiprah Indonesia di All England

Warga Inggris boleh tepuk dadak sambil mengaku kalau mereka adalah penemu banyak cabang olahraga. Sebut saja, Sepak bola, Rugbi,Kriket,Tenis, dan Bulu tangkis. Semuanya pertama kali dimainkan setidaknya dalam bentuk modern oleh orang-orang Inggris.

Tapi bukan berarti Inggris menguasai semua cabang olahraga itu. Buktinya, di kejuaraan bulu tangkis tertua di dunia, All England, nggak ada satu pemain bulu tangkis Inggris yang diunggulkan. Indonesia sendiri baru bisa meraih gelar juara pertama pada 1959 melalui aksi Tan Joe Hok.

Istimewanya, pria kelahiran 1937 itu mengalahkan sesama orang Indonesia, Ferry Sonneville di partai puncak. Namun, gelar juara Joe Hok sendiri kala itu hanya terasa seperti kejutan di tengah dominasi Malaysia-Denmark, terutama lewat Erland Kops, Eddy Choong, dan Wong Peng Soon.

Baru pada 1968 Indonesia mampu kembali menjadi juara. Lewat Rudy Hartono di nomor tunggal putra serta Minarni Sudaryanto dan Retno Koestijah di nomor ganda putri, Merah-Putih berkibar di Wembley. Rudy Hartono sendiri akhirnya berhasil menjadi juara sebanyak delapan kali, di mana tujuh di antaranya dia raih secara berturut-turut antara 1968-1974.

Sampai sekarang, rekor tujuh kali juara beruntun Rudy Hartono itu belum bisa dipecahkan siapa pun. Selain itu, delapan gelar juara milik pria asal Surabaya itu berkontribusi besar atas rekor yang hingga kini masih belum bisa direbut negara mana pun dari Indonesia.

All England Punya Indonesia

Mungkin banyak yang bertanya kenapa seperti ini? Faktanya, dari 43 gelar di semua nomor, Indonesia jadi peraih gelar All England terbanyak sepanjang sejarah dan dari semua gelar itu, 18 diantaranya disumbangkan oleh nomor ganda putera.

Christian Hadinata dan Ade Chandra jadi pasangan ganda putra Indonesia yang memelopori dominasi itu. Namun, bukan merekalah yang berkontribusi paling banyak dalam urusan raihan gelar.

Adalah pasangan Tjun Tjun dan Johan Wahjudi dengan enam gelarnya yang menjadi peraih gelar terbanyak. Sementara itu, meski sudah berhasil mengangkat trofi untuk pertama kali pada 1968, pebulu tangkis putri Indonesia terhitung jarang menjadi juara di tanah Britania.

Kevin Sanjaya & Marcus Fernaldi Gideon di All England

Keberhasilan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon menjadi juara All England 2017 membuat Indonesia terhindar dari hampa gelar di turnamen paling bergengsi di dunia tersebut. Bagi Kevin/Marcus, ini adalah gelar All England perdana dalam karier mereka.

Pada babak final, Marcus/Kevin menaklukkan pasangan asal China, Li Junhui/Liu Yuchen dengan skor 21-19, 21-14, di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Minggu. Kemenangan Marcus/Kevin ini sekaligus membuat Indonesia menyamai prestasi pada All England tahun lalu ketika meraih satu gelar lewat pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Santoso.

Fakta Menarik Dibalik Kemenangan Kevin dan Marcus

Kesuksesan Kevin/Marcus menaklukkan Li Junhui/Liu Yuchen juga menghadirkan sejumlah fakta menarik lainnya, yaitu:

Gelar All England 2017 ini merupakan gelar super series/super series premier keempat sepanjang karier Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon. Pada tahun lalu, mereka jadi juara di India, Australia, dan China. Keberhasilan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon jadi juara All England membuat Indonesia kembali memiliki juara di nomor ganda putra All England setelah terakhir kali Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan jadi juara pada 2014.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon hanya memberikan enam kali kesempatan bagi Li Junhui/Liu Yuchen untuk memimpin sepanjang laga final berlangsung. Di gim pertama Li/Liu memimpin pada angka 16-15 dan lima kali posisi memimpin yang didapat Li/Liu di gim kedua semuanya terjadi hanya di awal gim, tepatnya ketika mereka unggul 2-0 hingga 3-1.

Sukses Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon merebut trofi All England tahun ini membuat mereka menjadi ganda putra Indonesia ke-11 yang mampu melakukannya setelah Christian Hadinata/Ade Chandra, Tjun Tjun/Johan Wahjudi, Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono, Rudy Gunawan/Eddy Hartono, Rudy Gunawan/Bambang Suprianto, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, Tony Gunawan/Candra Wijaya, Tony Gunawan/Halim Haryanto, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Dalam perjalanan jadi juara All England, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon hanya kehilangan satu gim, yaitu ketika mereka menghadapi Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding dari Denmark di babak semifinal. Saat itu Kevin/Marcus kalah 19-21 di gim pertama sebelum menang 21-13, 21-17 di dua gim berikutnya.

Laga lawan Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding juga jadi laga dengan durasi terlama yang dimainkan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di turnamen ini. Mereka menghabiskan waktu 1 jam 9 menit untuk mengalahkan pasangan Denmark tersebut. Untuk empat laga lainnya, Kevin/Marcus hanya bermain 35 menit atau kurang dari durasi tersebut.

Komentar

Fresh