Tradisi Dakwah Jalanan | OPINI.id

Jika banyak pelaksanaan dakwah atau ceramah dilakukan di masjid dan aula pada umumnya, berbeda dengan yang satu ini.

Di Provinsi Gorontalo ada tradisi dakwah yang digelar di jalan, tepatnya di persimpangan jalan Barito, perbatasan antara Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo.

Siraman Rohani di Persimpangan Jalan

Tiap bulan Ramadan, usai salat subuh warga berbondong-bondong datang ke persimpangan jalan barito, perbatasan antara Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Dengan masih menggunakan pakaian salat, mereka berniat menyaksikan ceramah yang diberi nama Barito Berdakwah. Gak ada kursi yang disiapkan sebagai tempat duduk untuk menyaksikan ceramah yang biasa disebut dakwah jalanan itu. Warga dipersilahkan dengan bebas milih duduk di mana pun. Bagi yang kuat berdiri, silahkan saja menyimak tausiah yang berlangsung sekitar satu jam. Hilir mudik kendaraan yang melintas tak dipedulikan. Semua warga sangat menekuni dan meresapi kalimat dari sang penceramah.

Cerita Kelam Lokasi Dakwah

Mungkin banyak yang bertanya kenapa berdakwah di jalan, bukan di masjid? Itu karena ada cerita kelam di persimpangan jalan ini. Dulu, lokasi dakwah ini jadi lokasi favorit warga yang berasal dari beberapa desa untuk bertemu, termasuk para pemuda. Lama kelamaan, mulai terjadi gesekan antarpemuda yang berujung pada perkelahian. Yusdin Danial, panitia Barito Berdakwah menceritakan perkelahian itu menimbulkan keprihatinan warga yang tinggal di persimpangan jalan. Untuk mencegahnya, maka tercetuslah gagasan untuk melaksanakan dakwah jalanan agar kesan tempat itu menjadi lokasi perkelahian dapat dihilangkan.

Kalau dicoba terapkan di Jakarta kira-kira bisa gak menurut kalian?
Bisa
Gak bisa macet
86 votes

Komentar

Fresh