Apa ini saatnya melepaskan pasanganmu? | OPINI.id

Mengakhiri hubungan dan melepaskan seseorang yang sudah banyak menemanimu adalah hal terberat yang harus dihadapi dalam setiap kisah percintaan. Tidak bisa dipungkiri, pasti sulit untuk merubah kebiasaan dan melanjutkan hidup tanpa dia. Tapi, mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat justru akan makin menyakiti kalian berdua. Pertanyaannya kapan sih bisa yakin sepenuhnya kalau ini saat yang tepat untuk benar-benar mengakhiri hubungan?

Mengingat masa bahagia saat kamu kecewa

Setiap hari, kamu selalu dihadapkan pada rasa kecewa dengan pasangan. Dia sudah tidak lagi bisa memberikan apa yang ingin kamu dapatkan dari sebuah hubungan. Sementara kamu masih terus berusaha bertahan dengan mengulang momen-momen indah yang pernah kalian rasakan. Hey, ingat. Kamu dan dia menjalani hubungan di saat ini lho, bukan di masa lalu.

Memilih menyakiti dari pada menyayangi

Kalian pernah jadi sepasang manusia yang tidak pernah lupa mengumbar perlakuan manis ke masing-masing. Tapi sekarang kalian adalah dua orang yang paling lihai saling menyakiti dari pada menyayangi. Semua perlakuannya ke kamu bisa jadi sumber masalah. Begitu pula sebaliknya. Dia sudah tidak lagi bisa menerima semua kebiasaanmu seperti sebelumnya. Saat bersama bukannya santai dan bisa berbagi cerita, kalian justru lebih sering merasa tegang.

Waktu Kebersaman Kalian Mulai Berkurang

Prioritas waktu kalian mulai bergeser. Menyempatkan diri untuk saling menemui ditengah kesibukan sudah bukan lagi jadi hal yang ditunggu dan diharapkan. Tidak hanya pertemuan fisik yang mulai meredup, komunikasi via telepon, chatting pun juga semakin jarang. Kalian sudah tidak lagi saling mengetahui kabar dan perkembangan hidup masing-masing. Rasanya hidup sudah berjalan diatas rel masing-masing.

Dia Memaksamu Untuk Berubah

Hubungan yang sehat adalah saat dua orang yang berada didalamnya bersedia untuk saling menerima apa adanya. Seseorang yang terus-terusan memaksamu untuk berubah menjadi seseorang yang bukan dirimu tidak layak untuk didampingi dan diperjuangkan. Kecuali jika itu dilakukan untuk kebaikanmu ya. Seperti jika ia memintamu untuk olahraga atau berhenti merokok. Saat pasanganmu terus meminta kamu untuk berubah, dan kamu merasa jika menuruti permintaannya akan membuat kamu jadi dirimu yang bukan kamu banget maka bisa jadi ini saatnya kamu untuk melanjutkan hidup. Kamu bisa memilih, ingin hidup mengikuti ekspektasi pasanganmu atau membangun kehidupan yang benar-benar ingin kamu jalani.

Berusaha Membuat Semua Tampak Masuk Akal

Kekecewaan yang kamu hadapi kamu buat menjadi tampak masuk akal dengan menciptakan berbagai alasan dan kemungkinan dalam kepalamu. Kalau dia melakukan hal yang menyakitimu, kamu akan berpikir “Oooh itu mungkin karena dia tidak tahu”. Atau “ooh mungkin dia cuma bercanda”. Saat dia mengecewakanmu, kamu memakluminya dengan menciptakan alasan yang nampak rasional buatmu. Rasa sayangmu pada orang ini membuat kamu tidak lagi melihat kenyataan dengan objektif. Bahwa sebenarnya dia sudah tidak lagi membahagiakanmu. Kamulah yang tidak ingin merasakan rasa sakit kehilangan dia.

“Terlalu lama, Terlalu Sayang”

Dimata teman-teman dan keluargamu, hubunganmu sudah tidak sehat. Mereka merasa tidak ada masa depan yang dapat diharapkan jika kamu dan dia terus berjalan. Tapi kamu masih ngotot bertahan, karena kalian sudah menginvestasikan banyak waktu bagi hubungan ini. Kamu merasa lamanya kalian bersama akan mempersulit prosesmu dalam melupakannya. Walau rasa sayangmu terhadap pasanganmu saat ini tidak akan mudah dilupakan, tidak ada hubungan yang patut dipertahankan jika alasannya hanya “terlalu”. Sepatutnya hubungan dapat membawa kalian menjadi pribadi yang lebih baik, juga menawarkan masa depan yang jelas. Bukan hanya karena takut kehilangan investasi waktu dan perasaan.

Kalian Sering Bertengkar

Ketidak cocokan menjadi semakin jelas diantara kalian berdua. Toleransi sudah tidak bisa lagi dilakukan. Dampaknya, kalian menjadi sering bertengkar. Berbeda dengan pertengkaran sebelumnya yang pasti memiliki jalan keluar, kini pertengkaran lebih terasa seperti pintu keluar untuk mengakhiri hubungan yang sedang kalian jalani saat ini.

Merasa Harus Membuat Dia Menyanyangimu

Hubunganmu terasa seperti kompetisi. Kamu harus terus berusaha untuk menarik perhatiannya, kamu perlu menjelaskan panjang lebar apa yang kamu mau. Kalian tidak lagi merasakan perasaan sayang yang minim usaha. Ingatlah kali pertama kalian jatuh cinta dulu, apakah kalian perlu berusaha keras agar rasa sayang itu muncul? Tidak bukan?

Cinta Sendiri

Hubungan kalian hanya diusahakan oleh satu orang saja. Entah kamu atau pasanganmu, namun satu orang diantara kalian lebih berusaha keras untuk membuat hubungan ini bertahan. Sementara pihak lain hanya menjalani tanpa menunjukkan upayanya untuk memperbaiki keadaan. Jika ini yang terjadi pada hubunganmu, pertimbangkanlah lagi. Apakah keadaan ini kamu rasa ideal dan sehat? Berhentilah memperjuangkan hal yang pada akhirnya akan menemui jalan buntu, lepaskanlah orang yang berjuang keras untukmu saat kamu tak mampu lagi merengkuh bahu.

Tidak mendukung apa yang kamu impikan

Dengan bersama, kalian tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengembangkan hobi dan karir. Kebersamaan kalian justru memberikan tanda “STOP” bagi terwujudnya impian masing-masing. Saat ini yang terjadi dengan hubunganmu, maka inilah saatnya melepaskan. Kalian berhak mendapatkan pasangan yang dapat saling mendukung untuk mencapai impian yang diharapkan. Bukankah impian bersama baru bisa terwujud saat impian pribadi sudah tuntas dicapai?

Prinsip yang dimiliki berbeda

Seiring perjalanan hubungan, kalian menyadari bahwa prinsip yang kalian anut terlalu berbeda. Sesekali hal ini bisa tidak dipedulikan, namun jika kalian berencana membawa hubungan ini ke jenjang selanjutnya maka perbedaan prinsip menjadi krusial. Ketika perbedaan ini sudah tidak lagi bisa dikompromikan dan terus menerus menjadi sumber pertikaian maka ada baiknya kalian memilih untuk saling melepaskan.

Kalian Tidak Lagi Saling Percaya

Kamu mulai mempertanyakan kegiatannya. Kecurigaan dan ketidakpercayaan meliputi hubungan kalian. Penjelasan dari dia sudah tidak lagi cukup buatmu. Minimnya rasa percaya bisa timbul karena berkurangnya interaksi dan makin jauhnya kalian berdua. Hubungan yang sudah tidak memiliki kepercayaan sebagai sumber kekuatannya akan mudah sekali rapuh. Coba bicarakan masalah krisis kepercayaan ini dengan pasanganmu. Namun jika sudah tidak ada lagi yang bisa ditempuh barangkali inilah tanda bagi kalian bahwa hubungan ini sudah mencapai garis akhirnya.

Masalah yang Sama Muncul Terus Menerus

Problem pertengkaran kalian selalu sama. Tidak peduli bagaimana kalian berjanji untuk tidak saling mengulangi kesalahan, namun hal tersebut akan kembali muncul. Bukankah ada pepatah yang bilang, jika kesalahan terjadi sekali maka coba lagi. Jika terjadi dua kali, kamu harus mulai berhati-hati. Saat masalah yang sama sudah muncul tiga kali atau lebih berarti kalian perlu berpikir untuk berhenti. Kamu bisa terus mencoba dan mengulangi semua dari 0 lagi. Tapi kemungkinan hubungan ini bisa terus berjalan akan kecil. Masalah yang sama akan kembali menjadi tembok penghalang bagi kalian.

Berhenti berharap hubungan menjadi baik

Kamu dan pasanganmu telah mencapai titik dimana kalian merasa hubungan ini tidak akan berubah jadi lebih baik. Meskipun kalian telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan untuk merubah keadaan. Kalian berhenti berusaha, mendiamkan semua masalah yang ada. Jika ini yang terjadi pada hubunganmu, jadilah orang pertama yang berani mengambil keputusan untuk keluar dan melanjutkan hidup.

Komentar

Fresh