Fakta di Museum Kebangkitan Nasional | OPINI.id

20 Mei 2018 Bangsa Indonesia memperingati 110 tahun Kebangkitan Nasional. Kebangkitan Nasional diawali oleh lahirnya pemikiran para pemuda cerdas yang tergabung di dalam organisasi Budi Utomo. Ternyata di Museum Kebangkitan Nasional menyimpan banyak fakta sejarah yang jarang diketahui banyak orang. Berikut 7 fakta sejarah yang ada di sana:

1. Hanya Ada Pelajar Laki-Laki di STOVIA

Dikarenakan sistem di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/ Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) mewajibkan siswanya untuk menginap di asrama dibawah pengawasan ketat penjaga asrama. Maka asrama disekolah ini hanya tersedia dan memungkinkan untuk laki-laki, karena pada masa itu memang pelajar didominasi oleh laki-laki. Tapi bukan berarti perempuan tidak bisa atau tak boleh jadi dokter, hanya saja sekolah ini pada saat itu belum memiliki asrama untuk kaum perempuan.

2. Pelajar di STOVIA Adalah Lulusan SD

Kalau zaman sekarang, yang hanya bisa masuk sekolah kedokteran adalah siswa yang telah lulus SMA. Namun saat itu, pelajar di STOVIA adalah mereka yang lulus dari Sekolah Dasar yang kemudian menjalani seleksi ketat untuk masuk ke sekolah kedokteran ini.

3. Masa Pendidikan 9 Tahun

Masa pendidikan untuk menjadi dokter di STOVIA adalah 9 tahun. Sistem pendidikan di STOVIA merupakan sistem pendidikan modern yang setara dengan Eropa. Peraturan dan disiplin di STOVIA juga sangat ketat, bagi pelajar yang nilainya jelek jangan harap dapat kemudahan untuk naik ke jenjang berikutnya, tapi akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Jadi pelajar di sini dituntut untuk serius menimba ilmu.

4. Mayat Untuk Praktek Berasal Dari Eropa

Untuk kepentingan praktek di bidang anatomi tubuh manusia, mayat yang digunakan khusus didatangkan dari Eropa. Hal ini dilakukan pemerintah Belanda untuk menghindari keributan diantara pelajar, pasalnya pada masa itu masyarakat Jawa masih kental dengan hal-hal tabu dan menganggap urusan yang berhubungan dengan mayat itu dilarang.

5. Dr Sutomo Hampir Dikeluarkan Dari STOVIA

Budi Utomo (Boedi Oetomo) merupakan organisasi pemuda yang dicetuskan oleh Dr Sutomo bersama pelajar STOVIA yang lain. Pergerakan ini pun sempat mengundang kecemasan oleh pihak Belanda. Bangsa Indonesia yang saat itu diam saja, sekarang mulai melakukan pergerakan. Belanda berpikir dengan mengeluarkan Sutomo dari sekolah mungkin pergerakan ini akan mati. Tapi para pelajar melakukan demo. Mereka pun mengancam akan ikut keluar apabila Sutomo dikeluarkan. Hal ini membuat takut pemerintah Belanda, akhirnya Belanda urung mengeluarkan Dr Sutomo dari STOVIA.

6. Adanya Usaha Belanda Memecah Belah Indonesia

Dalam hal berpakaian saat mengikuti pelajaran di STOVIA terdapat perbedaan. Ada pelajar yang memakai kain Jawa sebagai bawahan dan ada yang memakai celana. Hal ini merupakan salah satu cara Belanda untuk memecah belah pelajar Indonesia. Pelajar yang memakai celana adalah pelajar non muslim, dan yang mengenakan kain jawa adalah pelajar muslim.

7. Maksud Tersembunyi Belanda di Balik Pembangunan STOVIA

Ternyata ada maksud lain dari Belanda dengan membangun sekolah kedokteran di Jawa. Pada masa itu, Pulau Jawa sedang dilanda wabah penyakit. Hampir sepertiga orang Jawa mati karena wabah ini. Ditambah lagi kondisi dokter-dokter Belanda yang tidak mau datang ke Indonesia yang kumuh dan banyak penyakit. Maka dari itulah didirikan sekolah kedokteran untuk pelajar Indonesia.

Museum Kebangkitan Nasional

Kalau kamu ingin mengetahui lebih banyak lagi cerita tentang pergerakan nasional, datang saja langsung ke Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Jakarta Pusat. Jadi klo jalan-jalan atau menikmati hari libur jangan cuma ke Mall doang hehehe... "Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Mengenal Sejarahnya" (Bung Karno)

Komentar (1)

Fresh