Filosofi Dalam Sepiring Kolak | OPINI.id

Kolak merupakan penganan manis yang selalu muncul saat bulan Ramadhan.

Usut punya usut, ternyata menu takjil favorit ini memiliki makna yang mendalam. Bahkan nama 'kolak' dan bahan yang digunakan memiliki filosofi tersendiri.

1. Media Penyebaran Agama Islam

Kalau ditelusuri dari sisi historisnya, kolak merupakan salah satu media penyebaran Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Masyarakat Jawa pada masa itu belum mengenal Islam dengan baik, sehingga para ulama mencoba berembuk untuk menetapkan satu cara sederhana agar masyarakat dapat memahami ajaran agama Islam. Cara mudah dan sederhana ini akan lebih dipahami oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu adalah hal yang berhubungan dengan makanan, dengan begitu para ulama sepakat memberikan kolak sebagai media penyebaran Islam. Tak hanya itu penamaan makanan yang biasanya terbuat dari pisang atau ubi, gula aren, dan santan ini juga tidak sembarangan, ada filosofi sendiri pada setiap elemen kolak.

2. Anjuran 'Mengosongkan Dosa'

Kata kolak berasal dari kata Khala yang artinya adalah kosong. Jika dilihat dari makna 'kosong' ini adalah kita sebagai manusia harus selalu introspeksi diri, memohon ampunan akan segala kesalahan, kekhilafan maupun dosa-dosa yang telah kita perbuat dan bertaubat selagi hidup agar bisa kosong, yaitu kosong akan dosa. Kematian dengan kekosongan dosa menurut para wali adalah sebaik-baiknya akhir. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran [3] : 185)

3. Mendekatkan Diri Pada Tuhan

Ada pula yang menyebutkan kata Kolak berasal dari Kholaqo (Menciptakan) yang bermakna membuat melalui proses yang tidak dapat diganggu gugat. Menciptakan sesuatu sejak semula atau menjadi sebab awal berwujudnya sesuatu. Kata Kholaqo yang berasal dari bahasa Arab ini bisa diturunkan menjadi kata Kholiq atau Khaliq yang artinya adalah Yang Maha Pencipta. Nah, dari sini bisa diambil satu makna filosofisnya, dimana secara tersirat kolak menganjurkan dan mengingatkan penikmatnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta Alam Semesta dan Segala Isinya.

4. Mengajarkan Untuk Tak Berbuat Dosa

Pisang bisa dibilang jadi bahan utama yang harus ada dalam kolak. Dari sekian banyak jenis pisang, mungkin hanya pisang kepok yang paling mantap dan siapa sangka kata kepok juga punya nilai filosofi tersendiri. Kepok pada pisang kepok merujuk kepada istilah kapok. Kapok (bahasa Jawa maupun Sunda) ini berarti jera atau menyesal. Artinya setiap kali kita menyantap pisang kepok yang ada di dalam kolak, harus selalu ingat untuk jera akan dosa dan tidak lagi dengan mudah melakukan hal-hal yang membuat kita jadi berdosa atau menambah dosa.

5. Mengingatkan Kita Akan Kematian

Menurut orang Jawa, ubi masuk dalam jenis-jenis makanan Polo Pendem atau yang tumbuh di bawah tanah. Artinya, ketika kita menyantapnya, maka harus ingat jika suatu saat kita pasti akan seperti mereka yaitu dikubur di dalam tanah. Para Wali menganjurkan adanya rasa syukur sekaligus selalu ingat akan Tuhan, ingat akan permohonan maaf akan segala kesalahan yang pernah kita perbuat dalam kehidupan di setiap sendok kolak yang kita makan. Pasalnya, kematian bisa datang kapanpun, mungkin saja akan datang semudah kita menyendokkan kolak ke dalam mulut.

6. Mengajarkan Kita Untuk Meminta Maaf

Santan yang berwarna putih bersih adalah bagian yang juga tak kalah penting dalam kolak. Ia adalah pelebur semua bahan-bahan karena bertugas sebagai kuah yang menyempurnakan rasa kolak. Santan dalam bahasa Jawa disebut santen. Kata ini kependekan dari Pangapunten yang artinya adalah permohonan maaf. Jadi, ketika kita menikmati kuah kolak yang manis dan gurih karena campuran santan, ingatlah juga akan kesalahan yang pernah kita perbuat dan tak pernah merasa malu untuk meminta maaf.

Sederhana Tak Selalu Hina

Siapa yang menyangka dari makanan sesederhana ini ada nilai-nilai luhur, etika dan moral yang begitu mendalam yang bisa kita terapkan dalam kehidupan, sekaligus bisa kita tularkan banyak kebaikan pada sesama manusia maupun alam semesta.

Komentar

Fresh