Teater Pengadilan Kesukaan Raja-Raja | OPINI.id

Belasan tahun lalu Orde Baru menjadi judul klasik bungkamnya saudara-saudara kita pada kesejahteraan yang dipilihkan pemerintah. Penjara, Pengadilan, bahkan hanya lirikan dingin dari aparat saat itu mampu membuat idealisme yang masih tersimpan rapi dalam pikiran gemetar dalam bisu. Semuanya hanya berbisik-bisik tentang lenyapnya idealisme besar lalu berlagak tak berdaya saat masih berandai-andai.

Sekian lama akhirnya muncul saudara-saudara lainnya yang rela bersuara meski berbagai ancaman sudah bersiap menebas kepala.

Berkat reformasi, kita yang sudah berusia dewasa tidak lagi berbisik-bisik. Demokrasi sudah diproklamirkan dimana-mana, katanya. Jutaan masyarakat Indonesia sudah tersenyum-senyum di jejaring sosial sambil mengetik apa yang sedang dipikirkan. Tentang politik juga. Iya, politik yang seram itu. Sampai dewan-dewan pemerintah menjadi ketakutan saking pemberaninya masyarakat sekarang. Olehnya wakil-wakil di gedung sana lebih fokus merakit senjata untuk menyerang musuh dibandingkan cara menyejahterakan yang diwakili.

Undang-undang atau peraturan semacamnya jadi beranak-pinak.

Kinerja dewan-dewan yang sangat bagus, cermat! Dari undang-undang rentetan peraturan pencalonan presiden sampai undang-undang informasi di jejaring sosial terasa sangat jelas saat ini. Politik jadi seram lagi, terbukti dengan bermunculannya akun-akun anonim di jejaring sosial untuk membahas idealisme politik maupun kebijakan pemerintah.

Namun masih ada yang bicara politik dan kebijakan pemerintah tanpa akun anonim atau topeng fenomenal semacam Guy Fawkes.

Profilnya sangat jelas malah. Tidak, bukannya bertopeng itu pengecut. Hanya saja saudara-saudara kita ini tak gemetar meski sudah dipelototi dewan-dewan terhormat di atas sana. Figur-figur ini masih dengan lantang menyuarakan idealisme-nya walaupun kontradiktif dengan kebijakan pemerintah yang akan maupun sudah berjalan. Dewan-dewan masih merakit senjata. Tentu, ada saja senjata hebat dari tangan penguasa-penguasa itu.

Sudah sejak lama siapapun yang kontra terhadap pemerintah akan dibayangi dengan kriminalisasi.

Asal-muasalnya, dewan-dewan rakyat yang terhormat tentu tidak mau malu sendiri. Bahkan dalam penyakit klasik dewan rakyat, korupsi, anggota lembaga buatan pemerintah sendiri (saya berbicara tentang KPK) dapat terkena kasus-kasus pidana yang entah darimana datangnya. Bermain dengan citra publik lalu masalah selesai. Sekarang soal aktivis yang tidak bernaung lembaga resmi pemerintah sekelas KPK. Seberapa buruk permainan kriminalisasi yang akan digunakan oleh dewan-dewan? Iya, memikirkannya saja seram. Bicara tentang keanehan kebijakan infrastruktur lalu kesejahteraan di rumah sendiri, aktivis berpikir. Pemerintah secara tidak langsung lebih menyukai masyarakat yang ‘iya-iya’ saja. Sudah saja muncul aktivis, pemerintah akan langsung berpikir penyerangan macam apa yang mau digunakan.

Ada suatu istilah, yang menurut saya sangat angkuh, dalam permainan kriminalisasi. Simulakra namanya.

Simulakra memproduksi suatu kebohongan yang dibenarkan atau “kebenaran palsu” demi suatu kepentingan (baik politik maupun sosial). Realita atau kebenaran di sini akan disuguhkan ke dalam perspektif maupun kemasan sedemikian rupa sehingga kebenaran menjadi salah di mata hukum maupun sebaliknya tergantung kepentingan. Permainan semacam ini sangat banyak dilakukan dalam politik maupun sosial sebagai senjata paling ampuh. Tak apa dosa akhirat, asal masih dilihat ada sucinya.

Permainan citra di mata publik bagi penegak hukum pada kenyataannya tentu masih sangat penting.

Pintar saja bermain lakon, bisa dapat bonus yang menggiurkan (saya tidak menyebut bentuknya). Sang penguasa masih tersenyum-senyum saja saat penegak hukum yang jadi algojo bagi para aktivis penentang kebijakannya. Kriminalisasi jadi mudah saja. Namun kembali lagi, sebagai bagian masyarakat, kita juga menentukan suatu kebenaran. Perspektif, tentu saja. Masyarakat kita haus akan perspektif cermat. Tidak ada salahnya mendengarkan pemikiran-pemikiran. Aktivis, pemerintah, semuanya mampu berbicara soal pemikiran. Aktivis atau tidak asal pemikiran untuk bangsa bukan soal kepentingan sendiri. Bangkitkan objektivitas!

Komentar

Fresh