12 Tragedi : Dibalik Reformasi 98 | OPINI.id

Tepat 20 tahun lalu, kawan-kawan kita turun kejalan, berjuang dan dengan teguh menolak kezaliman yang ada di negeri ini. Hingga mempertaruhkan keselamatan bahkan nyawanya sendiri.

1. 3 Tahun Sebelum Rezim Orba Runtuh

1 Mei 1995 yang merupakan Hari Buruh Internasional. Pada Rezim Orde Baru melarang peringatan May Day karena diklaim mengandung unsur komunis. Namun pada saat itu, mahasiswa dan buruh bersama turun kejalan membentuk pondasi melawan kesewenang-wenangan pemerintah. Dimana salah satu tuntutannya yaitu “Stop Intervensi Militer dalam Kasus Perburuhan”.

2. Krisis Ekonomi dan Harga Kebutuhan Pokok Melonjak Tajam

Memasuki tahun 1997 nilai tukar rupiah melemah dan Indonesia terlanda krisis moneter. Krisis ini pun berkembang menjadi krisis ekonomi dan politik. Kemudian terjadi penjarahan dibeberapa toko sembako. Pada 13 Januari 1998 ratusan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa dengan menuntut penurunan harga sembako, serta menuntut reformasi ekonomi dan politik.

3. Warga Tionghoa terkena Imbas

92 toko yang sebagian besar dimiliki oleh keturunan Tionghoa rusak dan beberapa terbakar akibat kerusuhan di Ende, NTT. 14 Mei 1998 di Jakarta terjadi kerusuhan dan penjarahan yang menyerang warga Tionghoa. Hingga beberapa mengungsi ke luar negeri.

4. Pergerakan Mahasiswa Semakin Masif

Meskipun munculnya berbagai isu terkait penculikan aktivis, tidak mengurungkan niat para mahasiswa untuk melawan pemerintahan otoritarian. Berbagai diskusi dan mimbar untuk memprotes rezim orba bermunculan diberbagai kampus di Indonesia.

5. Intel Rezim ada dimana-mana

Intelejen besutan Soeharto menyusup untuk mengintai pergerakan-pergerakan rakyat dan mahasiswa. Para intel tersebut mengawasi setiap pergerakan mahasiswa. Hingga mengharuskan beberapa lainnya melakukan diskusi secara sembunyi-sembunyi.

6. Kembali Dilantiknya Presiden Soeharto

Soeharto kembali dilantik menjadi Presiden pada 10 Maret 1998. Pelantikannya pun segera disambut dengan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Hingga menimbulkan bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan.

7. Perhatian PBB terhadap Kasus Penghilangan Paksa

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menghubungi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan mengirim surat untuk meminta perwakilannya melacak orang yang hilang selama dua bulan terakhir. Diantaranya yaitu Herman Hendrawan (mahasiswa Fisipol UGM), Faizol Reza (mahasiswa Filsafat UGM), Rahardjo Waluyo Djati (mahasiswa Sastra UGM), Nezar Patria (mahasiswa Filsafat UGM), Mugianto (mahasiswa Sastra UGM), Aan Rusdianto (mahasiswa Sastra Undip), dan Haryanto Taslam (Pengurus DPP PDI Jakarta). Mereka yang berstatus mahasiswa hilang pada 12 Maret 1998. Hal ini pun mendapat perhatian dari Komisi HAM PBB.

8. Keberadaan Kopassus dalam Pengamanan Demonstrasi Mahasiswa

Mahasiswa Trisakti yang berencana long march ke kompleks DPR/MPR Senayan dihadang aparat dan terhenti di depan Kantor Wali Kota Jakarta. Meski telah melakukan negosiasi, tetap berujung buntu. Demonstran pun menggelar mimbar dan membagikan bunga mawar ke barisan aparat dan masyarakat yang melintas. Namun aparat semakin bertambah dari Kodam Jaya dan Satuan Brimob. Kopassus juga muncul membawa senapan otomatis.

9. Tertembaknya 4 Aktivis

Pada 12 Mei 1998, 4 aktivis yang merupakan Mahasiswa Trisakti tertembak oleh peluru aparat. Diantaranya Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka gugur dalam aksi damai menentang pemerintahan Soeharto. Atas tragedi yang menimpa kawan seperjuangannya, ribuan mahasiswa turun kejalan, protes terhadap dilantiknya kembali Soeharto menjadi presiden.

10. Misteri Penembakan ke-4 Aktivis

Sampai saat ini pengungkapan siapa dalang dibalik penembakan ke-4 aktivis masih belum menemui titik terang. Pansus yang dibentuk oleh DPR menghasilkan keputusan yang kontroversi, yakni menerima putusan Mahkamah Militer. Upaya hukum pun telah dilakukan Komnas HAM namun berkas terhenti di Kejaksaan Agung. Salah satu terdakwa dari 18 polisi yang diadili dalam hal ini, angkat bicara, bahwa para terdakwa adalah kambing hitam dan alat politik atasannya.

11. Aktivis Korban Penculikan

Menurut Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, 23 orang telah dinyatakan hilang dalam tragedi 98 ini. Dari jumlah tersebut 1 orang telah dinyatakan meninggal dan 9 orang lainnya telah dilepaskan. Namun 13 Aktivis lainnya masih tidak diketahui keberadaannya. Ketiga belas korban tersebut yaitu Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Wiji Thukul, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Munandar Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nasser.

12. Kejelasan dari Kasus Penghilangan Paksa

Hingga saat ini kejelasan dari ke-13 aktivis yang hilang masih belum menemukan titik terangnya. Keluarganya pun hanya menuntut kejelasan dari nasib anggota keluarganya. Berbagai upaya telah dilakukan. Kepada pemerintah maupun lembaga-lembaga terkait perlindungan HAM. Hingga aksi Kamisan yang dimulai sejak tahun 2007. Pemerintah harus mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM ini, dan bangsa tidak bisa begitu saja mengabaikan persoalan ini.

Sumber

https://www.merdeka.com/peristiwa/mengenang-mencekamnya-tragedi-mei-98.html https://nasional.kompas.com/read/2014/07/04/16351711/Korban.Penculikan.Sjafrie.Sjamsoeddin.yang.Paling.Tahu.Keberadaan.13.Aktivis https://m.liputan6.com/amp/2505396/6-fakta-penting-dari-kerusuhan-13-14-mei-1998 https://tirto.id/misteri-penembakan-mahasiswa-trisakti-12-mei-1998-cKaw https://tirto.id/20-tahun-reformasi-yang-terjadi-sepanjang-maret-1998-cJCW https://www.merdeka.com/peristiwa/mengenang-mencekamnya-tragedi-mei-98.html https://tirto.id/20-tahun-reformasi-yang-terjadi-sepanjang-januari-1998-cJBd https://tekno.kompas.com/read/2013/09/10/0806314/pelajaran.krisis.19971998 https://tir.to/n/cJAX Kebebasan yang kita rasa saat ini, tidak akan terjadi tanpa perjuangan para aktivis dan korban yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Komentar

Fresh