Tragedi Bagi Sembako Siapa yang Salah? | OPINI.id

Insiden bagi-bagi sembako di Monas tewaskan dua anak berusia 12 tahun. Kabar menyedihkan ini jadi viral baik di media ataupun media sosial.

Cerita Tragis Bocah Sembako

Sembilan bahan pokok alias sembako selalu jadi daya pikat menarik, terutama bagi orang-orang yang kurang mampu. Gak heran, jika banyak acara bagi-bagi sembako di negeri yang katanya kaya dan bisa hidup hanya dengan kail saja. Forum Untukmu Indonesia (FUI) mengadakan aksi bagi-bagi sembako di kawasan Monas, Jakpus, pada Sabtu (28/4) berakhir dengan kisah tragis. Acara yang meliputi pembagian 400 ribu paket sembako ini merenggut korban jiwa. Dua bocah berinisial AR dan MK meninggal di acara ini. Adinda Rizki tewas setelah lepas dari ibunya yang ikut di antrian pembagian sembako 'ilegal' yang diadakan di Monas oleh pihak FUI. Sang ibu terdorong dan menyebabkan AR pun terhimpit serta terjatuh dan sempat terinjak massa. AR pun diberikan pertolongan pertama dan segera dilarikan rumah sakit Tarakan. Namun, mereka sempat terganjal birokrasi. Loket administrasi RSUD Tarakan yang melayani BPJS tutup. Setelah hanya diberikan perawatan, jelang adzan subuh, AR pun meninggal dunia.

Undangan Sembako Viral di Medsos

Kejadian tragis yang merenggut dua nyawa bocah di acara bagi-bagi sembako yang diadakan oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI) jadi sorotan. Namun, ada isu yang bergulir belakangan seolah Pemrov DKI ambil bagian. Namun, FUI pun langsung angkat bicara. Mereka keluarkan surat klarifikasi, jika acara ini dibuat tanpa keterlibatan Pemrov DKI seperti apa isu yang beredar. Namun, satu hal yang perlu diketahui, undangan acara pembagian sembako ini viral di jagat maya, Pemrov DKI permasalahkan tercantumnya nama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI, serta Dinas Pendidikan DKI.

Masih perlu gak memberikan bantuan ke rakyat kecil lewat aksi bagi-bagi sembako?
Perlu
Nggak perlu
253 votes

Komentar (3)

Fresh