Cuma Ada di Bali nih | OPINI.id

Belum lengkap rasanya berlibur di pulau Dewata, jika belum pernah merasakan keseruan tradisi Omed Omedan. Tradisi unik ini menjadi hal yang ditunggu tunggu oleh masyarakat Sesetan dan para wisatawan. I Gusti Ngurah Oka Putra, 74 yang merupakan Pangelingsir Puri Sesetan, menjelaskan banyak hal mengenai tradisi Omed Omedan. “Omed Omedan sendiri memiliki arti tarik menarik, dimana tradisi ini diadakan sehari setelah hari raya Nyepi atau biasa disebut hari ngembak geni.

Tradisi Omed Omedan di Bali

Omed Omedan sendiri sudah ada sejak tahun 1900an dan hanya dilaksanakan di Banjar Kaja Sesetan Denpasar Bali”, ujar Ngurah Bima panggilan akrabnya. Pada mulanya, tradisi ini adalah permainan yang dimainkan oleh muda mudi di Banjar Kaja Sesetan, tepatnya berada di depan Puri Oka, saat itu raja Puri Oka yang sedang sakit mendengar keributan tersebut, raja pun memaksakan keluar dan melihat kondisi yang dialami oleh warganya. Raja pun melihat pasangan pria dan wanita saling tarik menarik, yang saat itu raja ingin marah, akhirnya mengurungkan niatnya karena rasa sakit yang dialaminya seketika hilang, ia merasa senang dan gembira, maka saat itulah, raja memberikan Titah/Ijin agar acara ini dilaksanakan setiap tahunnya. Diah Sanjiwani (22), salah satu warga Sesetan yang merupakan alumni dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Udayana ini berbagi pengalamannya mengenai tradisi ini, banyak hal unik yang terjadi, seperti disaat peserta omed omedan memiliki pasangan/pacar, terjadi miskomunikasi atau pasangan tidak mengijinkan mengikuti tradisi, terutama yang berbeda Banjar, karena memang hanya di Sesetan saja tradisi ini berlangsung. Tahun 1970an, tradisi ini sempat tidak diselenggarakan, namun terjadi Niskala atau hal mistik dimana terdapat dua babi besar beradu hingga berdarah darah, warga pun melerainya, namun yang terjadi, kedua babi tersebut hilang tanpa jejak dan darah sekalipun, setelah kejadian ini, omed omedan kembali dihelat setiap tahunnya. Diah menyatakan, bahwa tradisi ini memiliki sisi positif, dimana pemuda pemudi Sesetan dapat menjadi akrab dan saling mengenal, bahkan yang tidak pernah aktif berkegiatan di banjar sekalipun, tidak ada efek psikis, karena ini semua murni sukarela. “ tidak ada efek psikis yang dialami peserta, karena memang ini murni sukarela” ujar Diah. Sudah 10 Tahun terakhir Omed omedan semakin meriah dengan diadakannya pasar rakyat/Bazzar dan hiburan musik, dimana acara ini semakin menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. (SAP)

Komentar (1)

Fresh