Gadis-gadis Indonesia Penakluk Ombak | OPINI.id

Ombak ganas di pantai Indonesia ternyata banyak lahirkan surfer lokal profesional. Gak cuma laki-laki perempuan juga ada. Cuma gak banyak yang tau, sayang kalo keahlian mereka 'menari' diatas papan iringi deburan ombak gak di ceritain. Ini dia beberapa surfer-surfer Kartini berani taklukan ombak.

Flora Christin Butarbutar

Cuma butuh 2 tahun Flora jadi surfer perempuan profesional. Cabut dari kehidupan menjenuhkan di Jakarta, temukan dirinya pada papan surfing pinjaman di Bali. Seharian di Batu Bolong berkenalan dengan ombak bareng longboardnya. Belum pernah juarai kompetisi surfing profesional tapi udah disponsorin sama brand papan surfing internasional. Jadi, orang Indonesia satu-satunya yang ikut REnextop Asian Surfing Tour di Filipina dan pernah ikut Deus 9ft & Single Competition di Bali. Gak mau cuma berselancar aja, Flora lagi bikin film dokumenter Goddesses yang nyeritain peselancar perempuan di Bali. Biar perempuan lokal terdorong untuk taklukan ombak-ombak di pantai Indonesia. Ia juga akan bangun surfcamp perempuan untuk nampung komunitas surfer perempuan.

Kadek Diah Rahayu

Cewe 23 tahun asal Bali ini gak takut sama stereotype kulit coklat. Diah justru merasa lebih cantik tampil natural dan berada diatas papan surfing. Berselancar dari umur 12 tahun ikuti jejak ayahnya. Sempat gak didukung oleh ayah tapi pamannya dukung penuh Diah berselancar. Tahun 2008 Diah raih perunggu di kompetisi Asian Beach Games di Bali. Mulai dari situ karirnya terus meroket hingga disponsori oleh brand surfboard asal Australia. Bila waktunya tiba, Diah akan tinggalkan olahraga surfing karena tuntutan adat Bali. Ia tidak akan tinggalkan tempat yang udah kenalin dirinya dengan ombak. Sebelum pensiun dari dunia surfing, Diah akan kembangkan bisnis kulinernya di Bali.

Yasnyiar Bonne Gea

Lahir ditanah Nias, pulau terpencil dengan kehidupan tradisional ini punya ombak yang indah buat surfing. Bonne (36) sebagai surfer perempuan Indonesia pertama udah megang banyak medali. Juarai kompetisi nasional maupun internasional seperti Asian Beach Games 2008. Ia juga dinobatkan sebagai surfer terbaik se Asia karena prestasinya di kompetisi internasional. Bonne juga ikut terlibat dalam fil berjudul NIAS. Menceritakan Lagundri Bay, Nias dimana masyarakatnya lebur karena wisata surf. Film tersebut bercerita dari sudut pandang Bonne yang temukan karir surfingnya di tanah Nias. Perkembangan wisata surf di Nias semakin cepat, komunitas surfing juga ikut kembangkan masyarakat agar sadar potensi wisata daerahnya. Bonne menjadi ambasador Surfaid yang punya program berdayakat masyarakat Nias untuk kelola potensi wisata surfnya.

Komentar

Fresh