Eks Bintang AC Milan yang jadi Politisi | OPINI.id

Tidak butuh waktu lama buat adaptasi, Pemain-pemain bintang AC Milan ini banting setir jadi politisi.

George Weah - Presiden Liberia

George Weah bukan pemain sembarangan, King George julukannya, Dia berhasil meraih African Footballer of The Year 3 kali dan sekali menjadi FIFA World Player of The Year selama karirnya di kancah sepakbola Eropa. Minat berpolitiknya sudah terlihat disaat masih bermain, Weah selalu punya inisiatif terhadap program menghentikan rasisme di Sepakbola, menjadi Duta Besar PBB sebagai Goodwill Ambassador dan kegiatan lainnya. Weah lahir sebagai orang Liberia dari keluarga miskin, Ayahnya seorang mekanik dan Ibunya berdagang. Weah agak telat memulai bermain Sepakbola, yaitu di usia 15 tahun. Sebelum pindah keluar negeri untuk bermain bagi AC Monaco, Weah bekerja sebagai teknisi switchboard di Liberia Telecommunications Corporation. Weah terpilih dan disumpah menjadi Presiden Liberia pada 22 Januari 2018. Dia terpilih dalam pemilu paling demokratis yang pernah diselenggarakan. Janjinya adalah memerangi korupsi, reformasi ekonomi, memerangi buta huruf, dan meningkatkan kualitas hidup warga. Selama di AC Milan, Weah telah bermain sebanyak 114 pertandingan resmi dengan total 46 gol selama 5 tahun (1995-2000) kemudian dipinjamkan ke Chelsea. Pencapaian tertinggi diperolehnya ketika bermain di AC Milan.

Andriy Shevchenko - Anggota Partai Aktif

Shevchenko hampir selalu digelayuti dengan berbagai penghargaan selama karirnya. Dia adalah pemain kedua paling produktif di AC Milan. Penghargaan Ballon d'Or, Fifa World Player of The Year, dan World Football Award pernah dengan asyik menggelayutinya. Selama karir di pertengahan 1990, Shevchenko dan beberapa temannya di Dynamo Kiev secara terang-terangan mendukung Partai Sosial Demokrat Ukraina. Pada pemilihan Presiden Ukraina 2004, dia secara terus terang mendukung calon Viktor Yanukovych. Lalu dalam waktu singkat setelah memutuskan pensiun, Sheva (nama panggilannya) dengan cepat bergabung dengan partai bernama Ukraine-Forward! Walaupun di kemudian hari partai ini gagal dalam pemilu.

Kakha Kaladze - Walikota Tblisi

Kakha Kaladze lama bermain buat AC Milan, 9 tahun, 2001 sampai dengan 2010. Walau tidak digelayuti banyak penghargaan, banyak penyerang-penyerang Serie A pada saat itu menyatakan kalau Kaladze adalah momok menakutkan pertahanan AC Milan setelah Maldini. Kaladze menjadi pemain Georgia termahal pada saat AC Milan membelinya dari Dynamo Kyiv tahun 2001. Sesaat setelah Kaladze gabung dengan AC Milan, adiknya diculik orang tak dikenal. Mayatnya tidak ditemukan dan dinyatakan meninggal pada tahun 2006. Pada tahun yang sama ditangkap dua orang yang paling bertanggungjawab dalam penculikan itu, kedua orang itu dihukum penjara selama 30 tahun. Karirnya di dunia bisnis dan politik terbilang moncer. Awal karir politiknya dimulai menjadi anggota partai Georgian Dream–Democratic Georgia pada 2012. Kemudian tidak lama terpilih masuk ke Parlemen di Oktober 2012 dan menjadi Deputi Menteri Energi pada bulan yang sama. Kaladze undur diri dari kabinet pada 2017 untuk mencalonkan diri menjadi Walikota Tblisi (Kota terbesar dan Ibukota Georgia), dan menang! Kaladze menang dengan raihan suara 51,13 persen. Karir politiknya ini didukung dengan finansial yang encer. Menjelang berakhir karir, Kaladze merintis bisnis di bidang permodalan yang fokus ke Bisnis Energi bernama Kala Capital. Selain itu Kaladze memiliki beberapa Bar/Pub dan Restoran di Italia. Investasi strategis Kala Capital saat ini adalah kepemilikan 45 persen saham di Perusahan Konstruksi Hydropower bernama SakHidroEnergoMsheni. Itu hanya portofolio-portofolio bisnisnya yang bernilai besar, masih ada banyak portofolio-portofolio lainnya yang bernilai lebih kecil.

Ronaldinho - Anggota Partai Pemula

Siapa yang tidak kenal 'Si Gigi Tonggos' ini. Ronaldinho moncer di PSG, Barcelona, dan AC Milan. Ronaldinho sudah menjadi anak yatim pada usia 8 tahun, Ayahnya pekerja kapal dan juga pesepakbola. Karir abangnya -Roberto- justru lebih dulu moncer. Keluarganya pindah ke daerah Gauruja karena sang Abang diterima di Gremio. Namun fatal, karirnya sangat pendek karena sang Abang cedera parah. Ronaldinho mulai bermain pada usia 8, dia jadi anak yang paling mudah dan pendek di klubnya pada saat itu. Awalnya Ronaldinho lebih tertarik dengan futsal dan sepakbola pantai, namun minatnya berubah seiring dengan sadar akan keahliannya mengolah kulit bundar. Dia mulai disorot media ketika mencetak semua gola dalam satu pertandingan, tak tanggung-tanggung ada 23 gol yang dicetaknya. Walhasil timnya menang 23-0 melawan tim lokal. Ini terjadi ketika usianya menginjak 13 tahun. Ronaldinho tidak lama berkarir di AC Milan, karir moncernya ada di Barcelona atau PSG. Di penghujung karir baru pindah ke AC Milan. Total dia cuma bermain 3 tahun sebanyak 76 pertandingan resmi dengan total 20 gol di AC Milan. Tahun 2018 ini, Ronaldinho secara ragu-ragu menancapkan awal karirnya di dunia politik. Dia bergabung dengan partai PRB (Partido Republicano Brasileiro), partai republiknya Brazil. Malahan tahun ini juga Ronaldinho akan mengikuti polling nasional buat menjadi calon anggota parlemen dari Partai. Beberapa pengamat berpendapat jika Ronaldinho bagi PRB cuma sebagai faktor 'penarik', mungkin seperti Partai PAN ketika awal-awal reformasi. Banyak pengamat juga yang bilang Ronaldinho bukan 'Political Person' tapi dia cenderung 'Party Person'. Party bukan berarti partai, tapi pesta. Dia sangat suka dengan pesta. Tapi apapun bisa terjadi berow ....

Mantan Pesepakbola Indonesia jadi Politisi ?
Oh Yeees
Oh Nooo
243 votes

Komentar

Fresh