Sholat Jenazah dan Pilgub DKI | OPINI.id

Munculnya selebaran, pamflet, dan spanduk di beberapa masjid di Jakarta yang mengancam tidak akan menyolatkan atau membantu mengurus jenazah mereka yang mendukung calon gubernur tertentu adalah bentuk nyata dari politik takfir. Yakni, praktik mengkafirkan pihak Muslim lain yang menganut pandangan politik berbeda. Inilah bentuk penyalahgunaan agama untuk tujuan politik paling buruk yang pernah mencoreng sejarah Islam.

Islam Tak Melarang Menyalati Orang yang Beda Pilihan Politik

Larangan menyalatkan jenazah di Masjid Al Jihad Setiabudi, Jaksel, bagi mereka yang memilih penista agama dalam Pilgub DKI dikritik Kiai Cholil Nafis. Menurut dia, cara seperti itu kurang elegan dalam menjaga kemaslahatan umat. "Ya ini kan cara dakwah dengan cara menggertak pendukung paslon tertentu. Islam tak melarang untuk menyalati orang yang beda pilihan politik. Kalau toh dia memilih yang tak seiman itu dosa, tak sampai kufur atau musyrik. Sehingga masih kewajiban kolektif untuk menyalatinya," terang Kiai Cholil yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat dalam keterangannya kepada kumparan, Jumat (24/2). (Source: kumparan.com)

Takfir sebagai ideologi politik modern

Ideologi takfir (mengkafirkan lawan politik dan beserta pendukung) bukan sejarah masa lalu dan ancamannya sudah berakhir. Tak terhitung pertumpahan darah dan korban jiwa sebagai akibat dari ideologi takfir tersebut. Menuduh orang atau/dan pihak lain sebagai kafir terbukti menjadi retorika politik yang sangat ampuh untuk mengintimidasi lawan-lawan politik. Dan bila kekuatan politik bersenergi dengan ideologi takfir, maka dampak dan kerusakan yang diakibatkannya sungguh sangat dahsyat. Dengan adanya gerakan tak mau mensholati jenazah mereka yg punya preferensi politik di DKI Jakarta semakin kita tahu bahwa politik takfir memang semakin digaungkan.

Himbauan Menteri Agama

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat beragama untuk menjadikan tempat ibadah sebagai tempat saling merekatkan persaudaraan bukan sebagai sumber munculnya pertikaian. “Marilah kita jadikan rumah ibadah sebagai tempat yang paling aman, dan karenanya tidak boleh justru menjadi tempat sumber munculnya keresahan dan pertikaian antarkita,” pesan Menag dalam siaran pers Kemenag, seperti dikutip Antara, Sabtu (25/2/2017). Ajakan ini disampaikan Menag sehubungan adanya rumah ibadah yang memasang spanduk bertuliskan “Masjid ini tidak menshalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama” yang juga viral di media sosial.

Komentar

Fresh