Pemuda Ini Ajak Punk ke Masjid | OPINI.id

Rizki Topananda, Pemuda Pelopor Kota Bekasi Bidang Sosial-Kemanusiaan Berawal dari Keprihatinan Kondisi Moral, Berhasil Ajak Anak Punk ke Masjid Dulu, kondisi lingkungan RW 08 Kelurahan Perwira, Bekasi Utara, dikenal kurang nyaman. Banyak pemuda pengangguran yang mabuk hingga mengonsumsi obat-obatan terlarang. Kini, kondisi itu berubah berkat kerja keras Rizki Topananda.

Rizki Topananda, Pemuda Pelopor Kota Bekasi Bidang Sosial-Kemanusiaan. Berawal dari Keprihatinan Kondisi Moral, Berhasil Ajak Anak Punk ke Masjid.

Dulu, kondisi lingkungan RW 08 Kelurahan Perwira, Bekasi Utara, dikenal kurang nyaman. Banyak pemuda pengangguran yang mabuk hingga mengonsumsi obat-obatan terlarang. Kini, kondisi itu berubah berkat kerja keras Rizki Topananda. Sudah selayaknya apa yang dilakukan Rizki Topananda menjadi inspirasi bagi pemuda Kota Bekasi. Pria 26 tahun ini berhasil mengubah wajah RW 08 Kelurahan Perwira, Bekasi Utara, yang dulunya terlihat ‘suram’ menjadi lebih ‘cerah’. Lantaran kiprahnya itu, ia diganjar penghargaan Pemuda Pelopor Kota Bekasi bidang Sosial-Kemanusiaan. Pria yang kini menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat ini mengisahkan, setelah lulus dari pesantren Daruttaubah Bekasi Utara, dirinya langsung dihadapkan pada ujian yang sesungguhnya, yakni kondisi masyarakat yang pemudanya suka begadang -yang tak ada artinya- karena menganggur, suka mabuk, berkelahi, bahkan mengonsumsi obat terlarang. Bahkan, pria yang menggemari lagu-lagu Kangen Band ini pernah mendapati seorang pemuda yang mengonsumsi pil anjing (lexotan) yang dicampur bahan-bahan tidak jelas yang diduga oplosan. Menurutnya, karena menganggur, banyak pemuda hanya mengandalkan biaya hidup dari orangtua dan hasil mengamen. Pernah pula terjadi penimpukan oleh seorang anak punk yang tengah mabuk terhadap ibu-ibu pengajian. Saat itu, seorang ibu berangkat menuju majelis taklim. Tiba-tiba anak muda yang berada di bawah pengaruh alkohol menghantamkan batu ke arah ibu tersebut. “Dia benci pada agama. Pokoknya kondisinya sudah memprihatinkan,” ujar Rizki. Mendapati kondisi seperti itu, tokoh agama setempat meminta pria berkacamata ini untuk mencari solusi agar RW 08 menjadi aman dan kondusif. Bersama dengan empat rekannya, ia sempat menelurkan gagasan untuk melakukan pendekatan secara persuasif. Sayang, gagasan itu terpaksa ditunda karena ia melanjutkan kuliah ke Bandung selama dua tahun. Rizki mendapat beasiswa penuh di Universitas Nasional PASIM Bandung jurusan Administrasi Negara. Beasiswa yang didapat dari Program Pemberdayaan Umat Berkelanjutan (PUB) ini hanya mencari 40 orang di antara ribuan pendaftar. Rizki adalah satu di antara 40 itu. Selesai menempuh pendidikan D3 di Bandung, Rizki kembali ke Kota Bekasi. Disambi kuliah S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YPIAMI Jakarta, Rizki melanjutkan rencana yang sempat tertunda. Waktu itu, Rizki bersama rekan-rekannya membentuk Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas (Irmajas) sebagai wadah aktualisasi diri para pemuda. Mengajak para pemuda untuk datang ke masjid tentu bukan perkara mudah. Rizki harus melakukan pendekatan secara personal kepada para pemuda, mulai dari anak punk hingga preman. Kesulitannya adalah, sebagian besar dari mereka takut dan malu jika diminta untuk mengaji. “Mereka kan belum bisa mengaji, jadi pasti malu kalau tiba-tiba ke masjid diminta mengaji atau ditanya bisa mengaji atau tidak. Tapi, setelah saya yakinkan, akhirnya mereka mau ke masjid. Pertama yang menjadi fokus saya adalah bagaimana anak-anak pindah tempat tongkrongan, dari pinggir jalan ke masjid,” jelas pria kelahiran 9 Maret 1991 ini. Perpindahan tongkrongan ke masjid itu pun sempat menuai pro-kontra. Sebagian warga menganggap bahwa masjid adalah tempat suci yang tidak layak jika dijadikan tongkrongan. Agaknya mereka risih dengan istilah 'nongkrong di masjid'. Namun, Rizki tetap fokus pada tujuan dan tidak terusik dengan pandangan sinis sebagian warga. Hampir setiap malam, ia menemani para pemuda untuk begadang sampai dini hari. Dari kesempatan itulah, pelan-pelan ia mulai memberikan pandangan-pandangan keagamaan. “Gimana cara kita menciptakan rasa nyaman pas lagi kumpul. Kita ciptakan keasyikan seperti bikin grup hadrah, biar mereka seneng sekaligus bisa bershalawat. Saya juga sering belikan nasi uduk, kopi, biar mereka betah saja, karena di masjid lebih baik daripada di pinggir jalan. Saya tidak ingin mereka kembali ke jalan,” ucap pria yang disebut-sebut mirip Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Said, ini. Perlahan namun pasti, pemuda yang datang ke masjid bertambah banyak. Saat wawancara dengannya, ia bilang ada 50 sampai 100 pemuda yang datang secara rutin di pengajian mingguan setiap Minggu malam ba’da isya. Tak jarang, Rizki mengundang ustadz dari luar untuk mengisi pengajian. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. Adigum itu semakin dirasakan relevansinya tatkala sebuah keajaiban terjadi. Rizki menceritakan, anak punk yang sempat minum pil anjing dan menimpuk ibu-ibu majelis taklim itu bernama Sugihastanto. Pria 30 tahun itu adalah orang yang bertampang sangar yang pasti membuat keder setiap orang di sekitarnya. Beberapa hari setelah pembentukan Irmajas, Rizki mendapat pesan singkat dari Sugihastanto pada pukul 00.30. Pria yang tak memiliki ijazah SD itu mengatakan bahwa dirinya ingin curhat pada Rizki. “Enggak tahu dapat hidayah dari mana, tiba-tiba dia pengen belajar agama. Saya terkejut sekaligus terharu bukan main. Dia pengen belajar salat pada saya. Karena belum bisa mengaji, saya menyarankan dia untuk datang saja ke masjid setiap waktu salat jama’ah. Yang penting salat saja dulu, sambil belajar,” ungkapnya. Keajaiban berikutnya adalah ketika Lebaran kemarin. Sugihastanto yang seorang anak punk untuk pertama kalinya meminta maaf kepada kedua orangtuanya apabila selama ini dia sering menyusahkan mereka. Bahkan, Sugi meminta maaf sambil mencium tangan dan kaki ibunya sambil berurai air mata. “Dan subhanallah, dia yang bahkan tidak punya ijazah (saat itu) diterima bekerja sebagai security di sebuah apartemen di Jakarta. Padahal, persyaratan security itu mewajibkan pelamar mencantumkan minimal ijazah SMA. Dari sana saya semakin yakin, pasti ada balasan di setiap perjuangan yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah,” tutur Rizki. Saat penilaian dari Pemkot Bekasi, tim penilai juga bertanya langsung kepada Sugihastanto. Rizki memperkirakan, dari cerita yang sama yang dituturkan langsung oleh Sugi itulah barangkali yang menjadi pertimbangan tim penilai untuk menobatkan dirinya sebagai Pemuda Pelopor Kota Bekasi di bidang sosial kemasyarakatan. *Artikel ini pertamakali tayang di Radar Bekasi edisi 8 Januari 2015

Komentar

Fresh