Ular Piton yang Hidup di Indonesia | OPINI.id

Negara kita adalah negara yang kaya akan beragam spesies ular yang tersebar di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan jenis ular Piton (Python), diketahui ada sekitar 13 jenis yang hidup di Indonesia, seperti dikutip dari Reptile Database dan IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Ular Piton adalah Ular Sanca

Sering orang bertanya apa sih bedanya ular Piton (Python) dengan ular Sanca? Sebenarnya ular Sanca adalah nama umum bagi sekelompok ular-ular pembelit dari suku atau keluarga Pythonidae. Jika dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan pythons, kata ini berasal dari bahasa Gerika (Yunani), python, yang mengacu pada ular yang sama. Saat ini diketahui ada 8 genus dan 40 spesies yang diakui dunia ilmiah tergabung dalam suku Pythonidae ini dan Indonesia memiliki 13 jenis ular piton yang sangat cantik.

1. Sanca Batik (Python reticulatus)

Ular ini punya sisik yang indah dengan pola warna menyerupai batik. Ia tidak berbisa, tapi lilitannya mampu mematikan dalam beberapa detik. Tapi, sanca batik, adalah jenis ular pemalu dan jarang menampakkan diri, apalagi terhadap manusia. Sanca batik merupakan salah satu ular yang paling mengagumkan di seluruh Asia, sekaligus jadi salah satu spesies reptil terpanjang di dunia, karena panjangnya bisa mencapai 10 meter. Penyebarannya di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia, bisa dijumpai dari Sumatera hingga Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.

2. Sanca Bodo atau Python Burma (Python bivittatus)

Awalnya, ular ini adalah anak jenis dari Python molurus (Sanca India). Namun sekarang, dijadikan spesies tersendiri dengan sebutan Sanca Bodo atau Python Burma. Mempunyai warna dasar coklat muda dengan bercak-bercak berpentuk tidak beraturan berwarna coklat tua. Namun ada pula yang berwarna dasar kuning, karamel, atau krem, dengan bercak-bercak kuning pekat, cokelat, atau oranye. Tersebar di Sumatera, Jawa, hingga Bali, piton ini makin sulit ditemui di hutan yang jadi habitat aslinya tetapi justru jadi spesies invasif di Amerika Serikat. Jenis piton ini banyak diperdagangkan sehingga statusnya menurut IUCN pun "Rentan".

3. Sanca Darah (Python brongersmai)

Jenis piton ini bisa ditemukan di Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Lingga, Kepulauan Bangka, Kepulauan Mentawai dan Kalimantan. Tubuhnya pendek, maksimal 3 meter dan cenderung gemuk sekaligus menggemaskan. Ciri utama ualr ini adalah warna tubuhnya yang didominasi warna merah menyala dan warna oranye. Bintik-bintik berwarna hitam dan putih pada bagian perut. Pada kepala berwarna abu-abu. Ular ini juga kerap disebut sebagai ular sawah darah atau ular tepek.

4. Sanca Darah Hitam (Python curtus)

Sanca darah hitam (Python curtus) atau kadang disebut juga Sanca gendang atau Dipong ini adalah hewan melata yang bisa ditemukan di Sumatra dan Kalimantan, tapi lebih sering ditemukan di Sumatera. Memiliki tubuh pendek seperti Python brongersmai. Bedanya, warnanya cenderung lebih gelap. Pola warnanya terdiri dari warna dasar kuning kecoklatan, sawo matang atau coklat tua keabu-abuan. Sanca darah hitam juga jadi salah satu incaran pedagang kulit hewan sebab pola warnanya yang menarik untuk bahan dasar tas, sepatu, atau aksesori lainnya.

5. Puraca (Python breitensteini)

Sebelumnya jenis ini dianggap satu spesies dengan Phyton curtus namun akhirnya dipisahkan dan kini jadi Phyton breitensteini. Ular ini adalah hewan melata endemik Borneo atau Kalimantan. Memiliki warna dominan coklat dengan panjang tidak lebih dari 3 meter. Oleh warga lokal, ular ini kerap disebut ripung atau lipung.

6. Sanca Hijau (Morelia viridis)

Green Tree Python atau Sanca Hijau (Morelia Viridis) atau biasa dikenal juga dengan nama Ular Chondro banyak terdapat di Papua, Irian Jaya, New Guinea & Australia. Ular ini hanya mempunyai satu spesies yaitu Morelia viridis. Kebanyakan spesies python berstatus langka. Dalam CITES (Convention Internaional Trade in Endangered of Wild Flora and Fauna), semua famili Boidae termasuk ular Sanca Hijau ( Morelia viridis) masuk dalam Appendix II, itu berarti satwa ini terancam dan perdagangan juga hanya diijinkan dengan ijin tertentu. Ular Sanca Hijau (Morelia viridis) diburu untuk dijadikan hewan kesayangan karena memiliki kulit yang indah dan mahal harganya sehingga tidak mengherankan jika spesies ini menjadi incaran para pelaku bisnis.

7. Sanca Permata (Morelia amethistina)

Piton ini bisa dijumpai di Papua, termasuk juga di Papua Nugini dan Australia. Karakteristik utama ular ini adalah warna sisiknya yang terang menyerupai permata. Sanca permata terpanjang yang pernah ditemukan mencapai 8,5 meter. Tapi, itu langka. Biasanya, ukuran 5 meter pun sudah tergolong besar untuk jenis ini.

8. Piton Halmahera (Morelia tracyae)

Piton Halmahera (Morelia tracyae) adalah spesies piton yang hanya ditemukan di pulau Halmahera, Indonesia. Ular ini memiliki panjang 2.5 hingga 4 meter. Piton Halmahera bisa berubah warna selama periode waktu yang singkat. Namun, para ilmuwan belum bisa menentukan apa yang menyebabkan perubahan warna ini. Pada bagian yang lebih gelap dari spektrum warna, ular ini bisa berwarna coklat sedang, coklat keabu-abuan, atau coklat kemerahan. Warna-warna ini bisa berubah menjadi warna hijau kehijauan, abu-abu kecoklatan, kuning kecoklatan, atau cokelat pada ujung spektrum yang lebih terang.

9. Sanca Bulan (Simalia boeleni)

Ular ini ditemukan di pegunungan Papua, oleh Dr. K. W. J. Boelens di tahun 1952, kemudian diberi nama oleh L.D. Brongersman dengan nama latin Liasis Boeleni. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang taksonomi, pada tahun 2003, Sanca Bulan dimasukkan ke dalam genus Morelia dan menjadi Morelia Boeleni. Namun saat ini menurut sumber dari reptildatabase terbaru telah berganti genus menjadi Simalia dan sekarang nama takson spesies sanca bulan adalah Simalia boeleni. Ular ini hidup di ketinggian lebih dari 1.750 meter di atas permukaan laut. Warnanya cenderung kehitaman. Panjang ular dewasa hanya sekitar 3 meter sehingga mangsanya pun hewan-hewan kecil.

10. Piton Maluku (Morelia clastolepis)

Karakteristik dari spesies ini tubuhnya berwarna cokelat terang. Seperti namanya, piton Maluku banyak di temukan di wilayah Maluku.

11. Sanca Pelangi (Liasis fuscus)

Jenis piton ini ditemukan di wilayah Selatan Papua. Hewan dewasa memiliki panjang kira-kira 2 meter, namun bisa saja mencapai 3 meter. Pola warna tubuh hewan ini terdiri dari warna punggung coklat gelap kehitaman yang seragam dan jadi berwarna-warni seperti pelangi apabila terkena cahaya. Ular ini aktif pada malam hari (nokturnal). Saat siang, ular ini biasanya bersembunyi di kayu berlubang, tepian sungai dan di tetumbuhan.

12. Sanca Mata Putih (Liasis savuensis)

Ular jenis ini tersebar di Papua, memiliki tubuh kecil berbentuk bulat. Mereka merupakan salah satu ular sanca terkecil di dunia, dengan panjang hanya mencapai 1.5 meter. Ular ini kini sangat jarang ditemukan di alam liar karena merupakan spesies yang sangat terkenal dalam perdagangan hewan. Telah dikeluarkan larangan menangkap hewan melata ini yang bertujuan untuk mengurangi jumlah koleksi ular dari alam liar. Ular muda bewarna coklat-kemerahan hingga oranye. Saat mencapai umur matang, ia akan berwarna coklat gelap dengan bintik-bintik coklat-oranye pada bagian bawah tubuhnya dan sisinya. Namun beberapa individu juga dapat berwarna hitam padat dengan bintik-bintik jingga.

13. Sanca Coklat (Leiopython albertisii)

Piton berwarna coklat ini bisa kita temui di Papua. Seperti jenis piton lainnya ular ini merupakan ular pembelit tidak berbisa yang populer di dunia. Memiliki motif khas berupa warna coklat keemasan (memantulkan spektrum warna pelangi) jika terkena cahaya dan wajahnya bagaikan tengkorak. Ular ini memiliki panjang tak lebih dari 2,5 meter saja.

Sumber:

http://www.situshewan.com https://sains.kompas.com http://nationalgeographic.co.id/ https://komunitasderic https://www.libgar.com

Komentar

Fresh