Gianyar Ramah sekali.. | OPINI.id

Bali itu tidak melulu soal pantai dan gunung, pura dan danau, serta sunrise and sunset. Ada bahasa, ada aksen, dan ada logatnya.

GIANYAR

Sebuah daerah agak ke timur dari pusat kota yang ada di Bali, tepatnya di gianyar, memiliki kebiasaan unik. Jika Kalimantan tengah ada budaya mengajak mayat anggota keluarga untuk diajak pulang ke rumah atau disebut upacara Tiwah, atau di papua ada kebiasaan makan papeda yang terbuat dari sagu, atau mungkin para wanita dari suku mentawai yang terbiasa memanjangkan telinga, membubuhkan banyak titi/tato pada tubuh, bahkan menruncingkan gigi untuk menambah kecantikan, di Gianyar ini kebiasaannya cukup simple. Apakah itu???

Senyum, Sapa, Mari Makan

Masyarakat gianyar memiliki kebiasaan sangat ramah kepada setiap tamu yang datang ke rumahnya. Tidak semua memang, tapi sebagian besar demikian. Kebiasaan yang terlalu universal bukan??? Tapi tunggu dulu. Jika kalian mencoba langsung ke seluruh bagian daerah yang ada di gianyar, kalian akan mendapati situasi yang sangat canggung ketika kalian bertamu. Tapi itulah budaya. Kebiasaan itu adalah “senyum, sapa, mari makan”. Hal ini selalu di lakukan sesuai beriringan, dimulai dari senyuman yang diberikan saat tamu baru sampai di halaman rumah, kemudia di sapa dengan hangat dan sangat akrab, kemudian munculah kalimat “mari makan” yang biasanya dalam bahasa setempat di katakana “mai ngajeng” atau “medaar malu di poon” yang artinya makan dulu di dapur…

Jadi Gianyar itu Ramah..

Kenapa kebiasaan itu menjadi berbeda? Jawabannya karena budaya yang dibangun oleh masyarakat lokal sekitar seperti itu. Mereka menunjukkan welas asih terhadap tamunya melalui makanan. Menawarkan makanan saat tamu baru sampai sama dengan membagi rejeki dan kebahagiaan di hari itu. Jangan sekali-kali untuk menolak, karena penolakan cenderung mengakibatkan kekecewaan bagi tuan rumah.

Komentar

Fresh