No Relationship in Islam | OPINI.id

DATA PRIBADI Nama : Rafiatudz Dzakiyyah Tempat, Tanggal Lahir : Sumenep, 11 Agustus 1998 Alamat : Jl. Urip Sumoharjo, Pajagalan, Sumenep, Madura Pendidikan yang ditempuh : STEI SEBI Prodi : Perbankan Syariah Jenis Kelamin : perempuan Agama : Islam Status : Mahasiswa No. HP/ WA : 082395459321 Email : dzakiyyah.vivin@gmail.com

No relationship in Islam

Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah SWT menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya. Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Allah SWT berfirman: وَلَاتَقْرَبُواالزِّنَاإِنَّهُكَانَفَاحِشَةًوَسَاءَسَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32) Dalam Tafsiran tersebut dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras dari pada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.” Di era modern ini kata pacaran sudah sangat membabi buta bahkan sudah menjadi trending bagi kaum remaja maupun anak-anak sehingga bagi kita menganggap pacaran itu hal yang biasa atau lumrah. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duaan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran? Sejatinya, pacaran itu adalah perbuatan yang banyak mudhoratnya (bahaya) bahkan orang yang menyebut pacaran itu kebaikan, sesungguhnya tidak ada unsur kebaikan didalamnya. Justru akan menjerumuskan kita kepada hal yang buruk dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk itu kita sebagai seorang muslimah wajib menjaga diri kita dari perbuatan yang dibenci oleh Allah. Mungkinkah ada apacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bias terhindar dari larangan-larangan di atas. Istilah pacaran sudah terlanjur dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, saling berkirim surat, chatt-an, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, menenggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggak di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlalu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat. Dan khususnya bagi para wanita hendaknya menjaga iffah (kemuliaan) dan izzah (kesempurnaan) sebagai seorang wanita, sanggupkah diri kita menghindari perbuatan itu?? Semoga Allah senantiasa melindungi dan menegur kita ketika kita lupa atau melenceng dari jalan-Nya, لأن الانسان مكان خطأ و نسيان “Karena manusia tidak luput dari kesalahan dan lupa” Sumber refenmrensi : al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Bogor : PT. PUSTAKA IBNU KATSIR 2009

Komentar

Fresh