Story of my life. | OPINI.id

Enjoy!

Perkembangan Perbankan Syariah Dan Problematikanya

Sejak Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan Undang-Undang No.10 tahun 1998 tentang perbankan, yakni sistem dual banking, pertumbuhan rata-rata perbankan syariah di dalam negeri sangat pesat, Hal tersebut satu sisi sungguh sangat menggembirakan semua pihak terutama umat Islam Indonesia, akan tetapi kegembiraan tersebut dapat berubah menjadi sebaliknya ketika kita memperhatikan bahwa perkiraan total volume usaha perbankan Syariah pada tahun 2011 yang disampaikan oleh Bank Indonesia sebesar Rp. 27 triliun itu sesungguhnya hanya 1,6 persen saja dari total transaksi industri perbankan syariah dengan perbankan konvensial sama dengan sebesar 2:96 (dua berbanding sembilan puluh enam). Namun disisi lain, harapan masyarakat akan peran vital perbankan syariah dalam rangka turut serta membantu pertumbuhan sekaligus perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia hingga saat ini dinilai oleh banyak pakar perbankan Islam ataupun ekonomi Islam sendiri masih jauh dari harapan, mengingat perilaku perbankan yang dijalankannya tidak jauh berbeda dengan perbankan konvensional, bahkan dinilai lebih ‘merugikan’ umat Islam sendiri. Dalam hal ini ada dua aset pokok, yakni sumber daya alam (natural resources) dan sumber daya manusia (human resources) yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan rencana pembangunan dan pengembangan suatu organisasi atau institusi, termasuk dalam hal ini bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Dari dua sumber daya tersebut, kiranya kita sepakati bahwa SDM merupakan sumber daya yang paling penting, karena bagaimanapun melimpahnya sumber daya alam tanpa adanya kemampuan sumber daya manusia untuk mengelolanya, maka pertumbuhannya akan terlambat. Perbankan syariah di Indonesia saat ini perlu memiliki SDM yang andal dan mampu memahami prinsip-prinsip syariah. Selama ini, masih banyak SDM perbankan syariah yang berasal atau direkrut dari bank konvensional. Perkembangan perbankan syariah secara kuantitatif ternyata tidak didukung dengan ketersedian SDM yang mencukupi. Kebutuhan SDM untuk bank syariah mencapai 40.000 orang per tahun. Sementara itu, lulusan ilmu ekonomi syariah sangat terbatas. Minimnya stok lulusan perguruan tinggi yang paham dengan ilmu ekonomi syariah membuat sebagian bank khususnya yang membuka office channeling memilih untuk merekrut pegawai dari bank konvensional yang sebenarnya langkah ini menjadi langkah instan yang tidak bagus. Para pegawai yang direkrut dari perbankan konvensional sudah terbiasa dengan pola pikir (mindset) bank konvesional, cukup sulit baginya untuk secara tiba-tiba harus mengubah pemikirannya. Salah satu dampak dari cara instan tersebut adalah ketidakpuasan nasabah bank syariah, karena para pegawainya tidak bisa menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi syariah dengan baik. Oleh karena itu, dalam membentuk Sumber Daya Manusia Insani Syariah menurut K.H Didin Hafizduddin diperlukan beberapa langkah, yaitu : Pertama, perilaku SDM syariah dalam suatu organisasi haruslah memiliki nilai-nilai ketauhidan dan keimanan, karena dengan memiliki itu akan merasakan kenyamanan dalam melakukan sesuatu. Selain itu, mereka juga merasakan bahwa seolah-olah Allah Swt. itu dekat dengannya, serta selalu mengawasinya dalam melakukan segala sesuatu yang dikerjakannya. Kedua, Struktur organisasi SDM syariah sangatlah diperlukan untuk membuat perencanaan sehingga mampu mempermudah dan mengakomodasi lebih banyak kontribusi positif bagi organisasi daripada hanya untuk mengendalikan performa yang menyimpang. Dengan demikian, hal ini lebih menjamin fleksibilitas, baik di dalam maupun antarposisiposisi yang saling berinteraksi. Ketiga, MSDM syariah adalah sistem. Sistem syariah yang disusun harus menjadikan perilakunya berjalan dengan baik, yaitu dengan pelaksanaan sistem kehidupan secara konsisten dalam semua kegiatan yang akhirnya akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang baik. Dari penjabaran serta problematika diatas dapat diketahui bahwa perbankan syariah harus terus berjuang dan berkembang demi kemaslahatan ummat. Namun masih terkendala dengan beberapa faktor terutama dalam pengelolaan Sumber Daya Manusianya. Maka dari itu kita sebagai orang Indonesia yang menjadi mayoritas ummat islam harus banyak belajar terkait ekonomi islam serta memliki semangat keislaman yang besar demi pertubuhan perekonomian Indonesia yang maju dengan berasaskan prinsip syariah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dengan niat mengharapkan ridho Allah SWT., Wallahua’lam Bisshowab.

Komentar

Fresh