Menelusiri "Aksi Kamisan" | OPINI.id

Di penghujung tahun 2006, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), yaitu sebuah paguyuban korban/keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) mengadakan sharing bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) dan KontraS untuk mencari alternatif kegiatan dalam perjuangannya. Pada pertemuan hari Selasa, tanggal 9 Januari 2007, bersama KontraS dan JRK, disepakati untuk mengadakan suatu kegiatan guna bertahan dalam perjuangan mengungkap fakta kebenaran, mencari keadilan dan melawan lupa. Sebuah kegiatan berupa “Aksi Diam” sekali dalam seminggu menjadi pilihan bersama. Bahkan disepakati pula mengenai hari, tempat, waktu, pakaian, warna dan mascot sebagai simbol gerakan.

ARTI SIMBOL “PAYUNG HITAM”

Payung hitam dipilih sebagai maskot, merupakan simbol perlindungan dan keteguhan iman. Payung merupakan pelindung fisik atas hujan dan terik matahari, dan warna hitam melambangkan keteguhan iman dalam mendambakan kekuatan dan perlindungan illahi.

KAPAN DIMULAI DAN APA ARTI PENTINGNYA?

Hari Kamis, 18 Januari 2007 adalah hari pertama berlangsungnya Aksi Diam. Disadari bahwa negara sengaja mengabaikan terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM, maka dengan melakukan “Aksi Kamisan” atau yang dikenal juga dengan sebutan “Aksi Payung Hitam” adalah merupakan upaya untuk bertahan dalam memperjuangkan mengungkap kebenaran, mencari keadilan, dan melawan lupa. Di samping itu dengan selalu melayangkan surat terbuka kepada Presiden RI, merupakan pendidikan politik bagi para pemimpin bangsa.

Karya Yang Mengingatkan Tentang "Aksi Kamisan"

Melalui lagu ini Fajar Merah (Anak dari Widji Thukul) Bersama dengan Cholil Mahmmud menyuarakan pendapat mereka tentang penguasa. Sebuah karya yang mengingatkan saya tentang aksi kamisan. Kejahatan terhadap aktivis wajib dihukum. Karena merekalah banyak orang yang bisa menjadi manusia seutuhnya, mendapatkan hak nya sebagai seorang manusia.

Komentar (1)

Fresh