Resiko Tindikan di Bagian Tubuh | OPINI.id

Saat ini tindik sudah jadi gaya hidup. Banyak bagian tubuh yang dijadikan sasaran penindikan. Selain telinga, bagian tubuh lain yang sering ditindik adalah alis, hidung, lidah, bibir, puting payudara dan area genital (kemaluan). Sayangnya, banyak orang tidak mengetahui apa risiko yang ditimbulkan dari melakukan tindik di bagian sensitif tersebut.

Komplikasi Kesehatan

Meskipun menindik badan relatif aman, tapi tindakan ini sebenarnya dapat menyebabkan komplikasi kesehatan. Komplikasi bervariasi tergantung pada bagian badan yang ditindik, bahan yang digunakan, pengalaman praktisi yang menindik, kebersihan alat dan perawatan setelah ditindik. Dalam salah satu penelitian mengenai tindik badan, para peneliti dari Northwestern University menemukan bahwa sekitar 20 persen dari tindikan menyebabkan infeksi. Infeksi merupakan komplikasi yang paling umum, diikuti oleh alergi, perdarahan, jaringan parut dan gangguan saat menjalani prosedur medis, seperti ronsen dan USG.

Tindik di Lidah dan Bibir

Masalah yang paling umum terjadi setelah tindik lidah dan bibir adalah perdarahan berlebihan, infeksi, gangguan bicara, masalah pada pernafasan dan bahkan dapat menyebabkan patahnya gigi geligi. Jika kebersihan mulut tidak terjaga, plak (kotoran) dapat terkumpul di sekitar perhiasan yang ditindik ke lidah dan menjadi tempat perkembangbiakan bakteri. Hal ini dapat mengarah pada kasus yang ekstrim karena bakteri masuk ke dalam aliran darah dan menginfeksi organ vital seperti jantung. Tindikan lidah dan bibir juga dapat terlepas dan tersedot masuk ke dalam saluran pencernaan sehingga membutuhkan operasi untuk mengambil tindikan.

Tindik di Puting

Risiko potensial bagi pelaku tindik puting adalah infeksi, abses (bengkak) di area payudara, kerusakan syaraf, pendarahan, hematoma (kista berisi darah), reaksi alergi, kista puting, dan parut keloid (jaringan parut yang timbul dan berwarna merah). Lebih parah lagi bahwa tindik puting juga dapat menjadi media penularan infeksi hepatitis B dan hepatitis C, meski jarang juga dapat menularkan HIV. Hal ini mungkin terjadi apabila alat yang digunakan untuk proses Tindik Puting tidak steril akibat tidak diganti. Tak hanya itu, beberapa wanita muda bisa terkena kanker payudara beberapa tahun setelah melakukan tindik puting, yang diakibatkan oleh reaksi tubuh terhadap logam. Selain itu resiko bahaya akan meningkat bagi wanita yang menyusui, baik itu ancaman untuk Ibu maupun bagi bayi yang disusuinya.

Tindik di Pusar

Menindik bagian tubuh ini sangat memungkinkan terjadinya infeksi karena iritasi dari pakaian ketat yang digunakan. Hal ini karena kulit pusar merupakan bagian yang sangat sensitif. Reaksi alergi terhadap perhiasan berbahan nikel menyebabkan kemerahan, iritasi, dan infeksi pada area pusar. Peregangan kulit sekitar pusar yang terjadi dalam intensitas tinggi terutama saat luka tindik belum benar-benar pulih akan menyebabkan iritasi bahkan infeksi.

Tindik di Kelamin

Tindik pada alat kelamin wanita maupun pria bukanlah prosedur yang terjamin aman. Tindikan akan mengalami perdarahan ringan hingga beberapa minggu sesudahnya. Tindikan di kelamin dapat menyebabkan kemandulan karena infeksi, mengahalangi jalannya air seni, bisa menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan pada peredaran darah, hingga menyebabkan jaringan parut. Sementara tindik pada kelamin pria, bisa terjadi priapism atau rasa sakit ketika ereksi bisa terjadi akibat tindikan di kelamin.

Tindik Alis

Menindik bagian tubuh ini sangat berisiko jika tidak dilakukan ditempat yang tepat. Tindik harus dilakukan pada sudut 40 derajat dari sudut luar mata. Jika tempatnya tidak tepat maka berisiko mengalami kerusakan saraf, karena daerah tersebut mengandung 3 saraf supra orbital besar yang berbuntut kebutaan.

Tindik Telinga Bagian Atas

Menindik bagian telinga diarea tersebut lebih berbahaya karena terdapat tulang rawan disepanjang tepi telinga. Jika terjadi infeksi di bagian tulang rawan tersebut akan lebih sulit untuk diobati dan bisa memicu kecacatan pada telinga. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pembuluh darah yang mempendarahi bagian tersebut. Bila terjadi infeksi, antibiotika yang akan membunuh bakteri penyebab infeksi tidak bisa sampai ke lokasi infeksi lewat darah. Padahal infeksi yang tidak tertangani dengan baik bisa mematikan jaringan tulang rawan dan akhirnya diperlukan tindakan operatif yang akan mengubah bentuk daun telinga.

Komentar

Fresh