Beda Vaksin Difteri bagi Anak & Dewasa | OPINI.id

Penyakit difteri kembali mewabah di Indonesia. Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama dan sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut dengan vaksin DPT. Munculnya kasus difteri pada orang dewasa sebagian besar disebabkan karena tidak divaksin atau status imunisasi yang kurang lengkap sejak kecil.

Penyebab & Penularan Difteri

Difteri adalah penyakit yang sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai : 1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. 2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. 3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Mengenal Vaksin DPT

DPT adalah singkatan dari Difteri Pertusis Tetanus. 1. Difteri : Radang tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian anak hanya dalam beberapa hari saja. 2. Pertusis : Penyakit radang pernafasan (paru) yang disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari, karena lama sakitnya dapat mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari. Gejala penyakit ini sangat khas, batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi ‘whop’ dan diakhiri dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita dapat meninggal karena kesulitan bernafas. 3. Tetanus : Penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut

Vaksin Difteri Bagi Anak-Anak

Vaksin difteri untuk anak ada tiga jenis, yaitu: DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td. 1. Vaksin DPT-HB-Hib a. Diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. b. Selanjutnya vaksin ini juga diberikan sebagai booster (imunisasi lanjutan) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis. c. Booster (penguat) selanjutnnya diberikan pada tahap Vaksin DT dan Vaksin Td 2. Vaksin DT Vaksin ini diberikan sebanyak 1 dosis pada anak Sekolah Dasar kelas 1. 3. Vaksin Td Vaksi ini diberikan pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Efek Samping Pada Anak

Efek samping dari imunisasi DPT yang dapat muncul: 1. Demam ringan 2. Bengkak pada bagian suntikan 3. Kulit pada bagian suntikan menjadi merah dan sakit 4. Anak terlihat lelah 5. Anak menjadi rewel Efek samping tersebut biasanya akan terjadi pada satu hingga tiga hari setelah pemberian vaksin.

Perhatikan Kondisi Anak Sebelum Imunisasi

Perhatikan beberapa kondisi anak sebelum diberikan imunisasi. Jika anak mengalami sakit parah pada saat tiba jadwal imunisasi, maka sebaiknya tunggu hingga keadaan anak membaik. Jangan berikan imunisasi (vaksin) selanjutnya jika anak memiliki kondisi seperti ini: 1. Setelah 7 hari mendapatkan suntikan vaksin, anak mengalami gangguan pada sistem saraf atau otak. 2. Muncul alergi yang cukup mengancam nyawa setelah anak mendapatkan imunisasi. 3. Segera periksakan ke dokter bila setelah imunisasi, anak mengalami: a. Demam di atas 40 derajat Celcius b. Anak tidak berhenti menangis setidaknya selama 3 jam c. Anak mengalami kejang atau pingsan.

Vaksin Difteri Bagi Orang Dewasa

Vaksin difteri untuk orang dewasa menggunakan vaksin Td/Tdap, yaitu vaksin DPT dengan reduksi antigen dan pertusis. Dalam vaksin ini Tdap menggunakan komponen pertusis aseluler, yaitu bakteri pertusis yang dibuat tak aktif sehingga jarang menyebabkan demam. Meski tak menyebabkan demam, namun tetap pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat saat akan melakukan vaksinasi difteri. Pemberian vaksin difteri bagi orang deawasa diberikan pada usia 19-64 tahun sebanyak satu dosis.

Pemberian Vaksin

1. Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat setiap 10 tahun. 2. Orang dewasa yang sama sekali tidak/belum pernah diimunisasi, diberikan dua dosis pertama dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosis kedua. 3. Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi.

Vaksin Secara Mandiri

Indonesia memang belum memiliki program imunisasi difteri untuk orang dewasa. Berbeda dengan anak-anak, orang dewasa di atas usia 18 tahun tidak dapat melakukan vaksinasi melalui program gratis pemerintah Outbreak Response Immunization (ORI). Untuk mendapat vaksin difteri, orang dewasa harus melakukan secara mandiri di rumah sakit, klinik kesehatan atau pelayanan kesehatan terdekat.

Perlindungan Selama 10 Tahun

Bagi orang dewasa mendapatkan vaksin difteri memang tidak gratis, namun tetap harus melakukan vaksinasi sebanyak tiga kali secara berulang (booster) dalam rentang waktu tertentu, karena vaksinasi difteri tidak dapat menyebabkan kekebalan seumur hidup seperti penyakit lain. Vaksin DPT hanya mampu memberikan perlindungan selama 10 tahun, sehingga setelah 10 tahun perlu diberikan kembali booster atau penguat.

Komentar

Fresh