LGBT: Menantang Azab Allah SWT | OPINI.id

"Apa yang salah dengan LGBT?" "Bukankah kita ini dilindungi oleh HAM?" "Mengapa kita selalu didiskriminasi?" Mungkin itulah yabg ada di benak kaum LGBT dan para pejuangnya. Yang dengan dalih HAM mereka rawat penyakit mematikan yang terus menjalar di tengah masyarakat.

LGBT budaya siapa?

Tak dapat dipungkiri, satu, dua, bahkan lebih banyak lagi kasus di Indonesia telah mengungkapkan, bahwa memang terdapat masyarakat yang melakukan hubungan sesama jenis serta transgender atau yang lebih populer dengan sebutan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Terlebih, kampanye yang pernah dilakukan secara massif pada beberapa waktu lalu membuktikan bahwa perilaku menyimpang tengah beredar luas di dalam masyarakat. Bagi dunia barat, sebagai penganut liberalisme, LGBT merupakan hal yang sah-sah saja untuk dilakukan, tetapi tidak untuk di Indonesia yang dikenal kental dengan nilai-nilai agama dan moral. Sehingga perbuatan-perbuatan tersebut adalah suatu hal yang tabu untuk dipublikasikan secara umum. Namun demikian, ketabuan tersebut hanya sekadar etika yang berlaku di masyarakat karena memang belum ada hukum konstitusi yang mengaturnya. Maka sama saja, perilaku LGBT seakan dihalalkan dan memberikan peluang akan terjadinya perilaku menyimpang tersebut.

Hukuman Pelaku LGBT di Indonesia

Berkaitan dengan hukum LGBT di Indonesia, belum lama ini Mahkamah Konstitusi (MK) memberi putusan untuk menolak gugatan uji materi pasal 284, 285, dan 292 yang berkaitan dengan perzinahan, pemerkosaan, dan pencabulan serta memperluas makna penafsirannya. Gugatan ini diajukan sebagai permohonan agar ada tindakan tegas dari pemerintah kepada orang yang berperilaku menyimpang karena dengan merajalelanya perbuatan tersebut tidak hanya mengancam masa depan generasi bangsa tetapi juga akan mengundang murka Allah SWT akibat melanggar aturan-Nya. Sejatinya,ketika sebuah hukum diterapkan oleh negara maka hukuman itu akan berfungsi sebagai sebuah pencegahan, perbaikan, dan pendidikan, sehingga mampu memutus rantai perbuatan tersebut.

Pencipta Langit dan Bumi, Sebaik-baik Pembuat Aturan

Berbagai pro kontra permasalahan LGBT pun tengah ramai diperdebatkan, namun pandangan mengenai permasalahan LGBT sesungguhnya tidak hanya berhenti pada persoalan kebebasan seseorang ataupun dampak negatif kedepannya, namun lebih besar dari itu. LGBT merupakan perbuatan keji yang amat dilarang dan dibenci oleh Sang pencipta langit dan bumi, Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf yang artinya, “Dan (kami juga telah mengutus Lut), ketika dia berkata pada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini)”” (TQS. Al-A’raf: 80-81) Dalam surat yang lain juga disebutkan, “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks). Dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang-orang yang melampaui batas” (TQS. Asy-Syu’ara’: 165-166).

Kisah Kaum Nabi Lut as

Tentunya kita sudah tak asing dengan kaum Lut, mereka merupakan kaum sodom yaitu masyarakat di dalamnya melakukan hubungan sesama jenis, dan dapat dilihat bagaimana murka Allah SWT menimpa mereka akibat ketidaktaatan terhadap perintah dan larangan-Nya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf yang artinya, “Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu” (TQS. Al-A’raf: 84) Dan dalam surat lainnya, “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda” (TQS. Al-Hijr: 73-75). Selain itu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Lut, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan Syaikh Al-Albani)

Jangan Seperti Keledai! Jatuh Pada Lubang yang Sama

Sejarah terkadang akan terulang kembali, namun apakah kita termasuk orang-orang Jahiliyah, jatuh pada lubang yang sama serta tidak mengambil pelajaran dari apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya dan terus menerus membangkang perintah dan larangan-Nya. Kemudian apakah kita tetap diam dalam kejahiliyahan ini dan menjadi bagian dari orang-orang yang tertimpa azab Allah? Na’udzubillah. Gempa bumi yang mengguncang daerah Jawa Barat dan sekitarnya pada malam di hari keputusan MK menolak gugatan Judical Review UU pasal 284, 285, dan 292 setidaknya memberi peringatan kepada manusia bahwa mudah saja bagi pencipta untuk mengahancurkan bumi ini, dan kita, sebagai makhluk yang terkadang tidak tau diri, tak mampu berbuat apapun. Namun sungguh, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia masih memberikan waktu kepada kita untuk taubat dan memperbaiki semuanya. Dengan demikian maka, sudah sepatutnya kita terus perjuangkan aturan Allah SWT untuk diterapkan, karena hanya dengan hukum Allah sajalah kedamaian dan ketentraman akan dapat dirasakan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku mengetahui orang-orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata”. Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir. Dan jangan sampai mereka menghalang-halangi engkau (Muhammad) untuk (menyampaikan) ayat-ayat Allah, setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah (manusia) agar (beriman) kepada Tuhanmu, dan janganlah engkau termasuk orang-orang musyrik” (TQS. Al-Qasas: 85-87) Dan firman lainnya dalam surat Al-Maidah yang artinya, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS. Al-Maidah: 50).

Komentar (1)

Fresh