RI dan Jepang Kembangkan Industri Kecil | OPINI.id

Kementerian Perindustrian menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk menguatkan kerja sama di sektor industri. Kerja sama ini khususnya dalam program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di beberapa daerah potensial di Indonesia. Ada lima daerah yang dipilih dalam kerja sama tersebut yakni Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Papua, dan Jawa Timur.

RI dan Jepang Kembangkan Industri Kecil

Kementerian Perindustrian menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk menguatkan kerja sama di sektor industri. Kerja sama ini khususnya dalam program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di beberapa daerah potensial di Indonesia. Ada lima daerah yang dipilih dalam kerja sama tersebut yakni Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Papua, dan Jawa Timur. Sebelumnya, JICA dan Direktorat Jenderal IKM Kemenperin bekerja sama di lima provinsi sepanjang 2013-2016. Kerja sama ini dilakukan dalam progam “The Project of Small and Medium Industry Development Based on Improved Service Delivery”. Diantaranya provinsi Sumatera Utara dengan program pengembangannya produk tenun ulos, Jawa Tengah dengan produk komponen logam, Sulawesi Tengah dengan produk agro seperti cokelat dan rotan, Jawa Timur dengan produk alas kaki, serta Kalimantan Barat dengan produk olahan lidah buaya atau aloe vera. Untuk tahun 2018, lima provinsi siap berkomitmen dalam program ini, yakni Bangka Belitung untuk pengembangan produk kerajinan pewter timah di Kabupaten Bangka Barat. Kemudian Sulawesi Tenggara dengan produk tahu dan tempe di Kab. Konawe Selatan. Provinsi Sulawesi Selatan dengan kerajinan perak dan emas di Kota Makassar, Papua dengan pengolahan kopi di Kab. Dogiyai, serta Jawa Timur dengan industri komponen kapal dan pengecoran logam di Kota Pasuruan.

Ketersediaan Anggaran

Pemilihan daerah untuk pengembangan IKM tersebut didasarkan atas beberapa hal, diantaranya meliputi ketersediaan anggaran (APBN) atau sinkronisasi anggaran dekonsentrasi dan dana alokasi khusus (DAK). Kemudian dibutuhkan penguatan linkage (hubungan) antara industri pendukung dengan industri skala besar. Lalu diikuti pemberdayaan wirausaha industri dan pengembangan pasar internasional, dan pertimbangan pada daerah tertinggal atau perbatasan. Pada kesempatan berbeda, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, selain kerja sama di sektor IKM, Kemenperin dan JICA juga tengah melakukan kerja sama dalam pengembangan industri potensial pada jangka menengah dan panjang, seperti sektor alat transportasi, elektronika, serta makanan dan minuman. Langkah sinergi ini diwujudkan melalui penelitian terhadap sejumlah manufaktur Indonesia. Riset dilakukan oleh Nomura Research Institute dengan judul "Promotion for Globally Competitive Study" untuk periode April 2017-Maret 2018. Selain itu, Menteri Perindustian menjelaskan, dalam survei yang dilakukan ke beberapa sentra IKM komponen otomotif, pihaknya ingin mengetahui alur rantai pasok industri di dalam negeri saat ini, sehingga akan fokus menentukan kebijakan pengembangan untuk sektor pendukungnya. Misalnya di industri otomotif, yang membutuhkan masukan terkait riset dan teknologi terbaru. Dengan adanya program kerja sama ini, Menteri Perindustrian dan Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih berharap program ini mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM di daerah agar lebih kompetitif di pasar domestik maupun pasar internasional.

Komentar

Fresh