GAMELAN DI PERESMIAN MENARA EIFFEL, 1889 | OPINI.id

Gamelan gending Jawa merupakan musik 'asing' yang memikat komponis Prancis, Debussy. Pertunjukan gamelan Jawa dan Sunda saat peresmian menara Eiffel pada 1889, sangat berpengaruh pada karya-karya komponis Perancis, Claude Debussy.

Peresmian Menara Eiffel, 1889

Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara itu menggelar pekan raya dan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara metalik raksasa yang menjulang dengan mengagungkan teknik modern tersebut, dengan hati-hati dan tampak kontras ditampilkan pula beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Ya, Gamelan dimainkan pada saat peresmian Menara Eiffel.

Gamelan dan Komponis Debussy

Komponis besar Perancis tergelitik dengan suara gamelan. Selain terpesona karena kualitas, Debussy juga konon terpesona oleh kompleksitas komposisi gamelan gending Jawa yang selalu mematuhi alur panjang. Tahun 1913, ketika dalam perjalanan kembali dari Laut Selatan, Debussy menggunakan lagi keseluruhan warna nada gamelan dan menulis: “Leur conservatoire, c'est le rythme éternel de la mer, le vent dans les feuilles...”(Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, embusan bayu pada dedaunan...) Bait itu terdapat dalam karyanya sendiri dalam orkestra yang sangat terkenal, berjudul La Mer (Lautan) (1903-1905).

Komentar Debussy

Saking terpesonanya Debussy dengan Gamelan, dia sampai berkomentar : "Jika mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling." dari : http://nationalgeographic.co.id

Komentar

Fresh